Perajin di Sumut Diajak Beralih ke Pasar Digital

  • Whatsapp

Perajin di Sumut Diajak Beralih ke Pasar Digital

CERITAMEDAN.COM – Medan, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sumatera Utara, Nawal Lubis, mengajak para perajin di Sumut untuk mulai memasarkan hasil karyanya dengan memanfaatkan teknologi.

Read More

“Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, menantang kita untuk beralih ke pasar digital. Memasarkan dan mempromosikan produk yang kita hasilkan secara daring,” kata Nawal Lubis ketika menyerahkan bantuan dari Dekranas kepada para perajin di Sumut, Rabu (24/2/2021).

Sebelumnya Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Tri Tito Karnavian di wakili Ketua Bhayangkari Sumatera Utara, Risma Martuani, menyerahkan bantuan kepada Ketua Dekranasda Sumut, Nawal Lubis.

Bantuan berupa uang tunai sebesar Rp2 juta itu, selanjutnya diserahkan kepada para perajin di 10 kabupaten/kota di Sumut. Ke-10 daerah yang mendapatkan bantuan tersebut, yakni Kota Padangsidimpuan, Kabupaten Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Labuhanbatu Selatan, Mandailing Natal, Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara dan Toba.

“Saya menyampaikan bingkisan ini kepada ibu, untuk nantinya bisa di sampaikan kepada perajin binaan Dekranasda Sumut. Ini merupakan bantuan dari Ketua Harian Dekranas, Ibu Tri Tito Karnavian. Semoga bantuan ini dapat bermanfaat,” ujar Risma Martuani.

Selanjutnya, Nawal Lubis di dampingi Wakil Ketua Dekranasda Sumut, Sri Ayu Mihari, langsung menyerahkan bantuan tersebut secara simbolis kepada tiga orang perajin dari Kabupaten Samosir, Humbang Hasundutan dan Tapanuli Utara.

“Hari ini kita berikan langsung uang tunai kepada perajin, nanti selebihnya akan kita berikan dengan cara transfer langsung kepada perajin. Kriteria perajin yang menerima adalah perajin yang sudah sangat terbatas keberadaanya dan perajin yang mendukung gerakan ramah lingkungan,” ujar Nawal.

Salah seorang perajin penerima bantuan, Christian, dari Tapanuli Utara mengaku senang menerima bantuan, karena saat ini sudah banyak perajin gitar yang terpuruk.

“Usaha Gitar Sipoholon ini sudah dari ayah saya, sejak tahun 1950-an. Dulu banyak di daerah Taput yang mengusahakan ini. Adanya Covid-19, membuat perajin gitar menjadi kian terpuruk. Dengan bantuan ini kami pun merasa terbantu,” ujarnya.***(CM/STT)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *