Wakil Rektor IV USU Pasangkan Mata Tiruan Untuk Pasien

  • Whatsapp

Wakil Rektor IV USU Pasangkan Mata Tiruan Untuk Pasien

CERITAMEDAN.COM – Wakil Rektor IV Universitas Sumatera Utara Prof Dr Ir Bustami Syam, MSME, mewakili Rektor USU, melaksanakan Pemasangan Mata Tiruan dan meresmikan Klinik Spesialis Prostodonsia Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (PPDGS) Fakultas Kedokteran Gigi USU. Acara berlangsung di Gedung Nazir Alwi, Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) USU, Rabu (26/02) pagi.

Read More

Kegiatan dihadiri antara lain oleh Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Medan, Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Dr Trelia Boel, drg, M Kes, Sp RKG (K), Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Prostodonsia FKG USU Prof Haslinda Z Tamin, drg, M Kes, Sp Pros (K), Sekretaris LPPM USU, Direktur RS SMEC dr Dharmayanti, M Kes, Direktur Rumah Sakit Gigi dan Mulut FKG USU Cek Dara Manja, drg, Sp RKG, CEO RS mata M77 dr Emir El Newi, Sp M, Ketua PERDAMI Sumatera Utara/Direktur RS Medan Baru dr Delfi, M Ked (Oph), Sp M (K), CEO RS Khusus Mata SMEC Dr Imsyah Satari, Sp M, Kepala Bagian Kesehatan Mata RS Pirngadi Medan, Direktur RS Mata Eye Center Medan Dr Indra Sp M, serta para civitas FKG USU dan alumni Prodi Prostodonsia.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor IV mengungkapkan, bahwa Universitas Sumatera Utara sudah lebih dahulu melaksanakan apa yang saat ini santer disebut sebagai kampus merdeka. Hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat yang terpisah namun memiliki keterkaitan dan dapat dihubungkan secara paralel.

“Bahwa sesungguhnya tri dharma perguruan tinggi itu memiliki outpeach yang terintegrasi, di mana salah satu outpeach-nya telah terbukti pada hari ini,” kata Prof Bustami.

Di mana harusnya, lanjut beliau, kerjasama di dalam dunia pendidikan, bisnis, dan pemerintah daerah serta masyarakat mestinya sudah terjadi sejak dulu. Inilah yang dianggap sebagai makna dari kampus merdeka. Prof Bustami sangat mengapresiasi inovasi mata tiruan yang dihasilkan oleh PPDGS Prostodonsia FKG USU, yang menjadi sumbangsih terhadap tri dharma perguruan tinggi.

“Saat ini kita melihat, bahwa inovasi tidak harus menunggu pasar. Kadang-kadang bahkan tidak butuh teknologi. Karena setiap saat orang butuh mata, tapi ilmu tentang teknologi pembuatan mata itu belum ada. Sehingga dengan kemampuan yang dimiliki oleh para mahasiswa/i dan PPDGS dapat membentuk inovasi baru,”ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Prostodonsia FKG USU Prof Haslinda Z Tamin, drg, M Kes, Sp Pros (K), mengungkapkan bahwa apa yang menjadi latar belakang dari dilaksanakannya pembuatan dan pemasangan mata tiruan ini adalah terdapatnya kenyataan, bahwa selama ini kurang sosialisasi terhadap masyarakat mengenai pembuatan mata tiruan yang dapat dilakukan di Rumah Sakit Gigi dan Mulut USU.

Dalam kesempatan itu, Ketua PPDGS Prostodonsia juga mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan Rektor USU, LPPM USU, Dekan FKG USU dan Eye Center serta pihak-pihak yang terlibat dalam publikasi serta sosialisasi pembuatan mata tiruan ini. Dikatakannya, biaya dalam proses pembuatan mata tiruan ini bersumber dari LPPM USU serta swadaya masyarakat.

Rencananya, lanjut Prof Haslinda, mata tiruan ini akan dibawa dalam acara pertemuan internasional Asian Academic of Prosthodontic yang digelar di Bali pada Agustus 2020. Hal ini merupakan bentuk upaya PPDGS unttk tetap membawa nama USU dalam kancah-kancah pertemuan ilmiah khususnya di level internasional.

Seusai seremonial pembukaan, acara dilanjutkan dengan peresmian Klinik Spesialis Prostodonsia, yang diawali dengan pemotongan pita di pintu masuk klinik oleh Wakil Rektor IV USU didampingi oleh Dekan FKG USU serta Ketua PPDGS FKG USU. Sebelumnya, tatkala melintasi selasar yang menghubungkan ruangan pelaksanaan seremonial dengan klinik, Wakil Rektor IV menyempatkan diri menyapa para pasien yang pada hari itu akan menerima mata tiruan gratis. Yang mana di antara para pasien tersebut terdapat beberapa anak di bawah umur. Di ruangan klinik, Prof Bustami memasangkan mata tiruan secara simbolis kepada salah seorang pasien yang masih berusia belia.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *