Sumur Resapan Sebagai Media Alternatif Menyelamatkan Hutan

  • Whatsapp

 

Sumur Resapan Sebagai Media Alternatif Menyelamatkan Hutan
Sumur Resapan Sebagai Media Alternatif Menyelamatkan Hutan

CERITAMEDAN.COM, Medan – Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan terluas di dunia, maka sangat lumrah jika Indonesia menduduki peringkat ke-3 Negara dengan tingkat keanekaragaman hayati yang paling besar. Berdasarkan fakta tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara yang sangat potensial untuk melawan emisi karbon.

Namun begitu fakta di lapangan sangat jauh berbeda, berdasarkan data pada climate data explorer (http://cait.wri.org/indonesia#), total emisi nasional pada tahun 2010 adalah 1460 (MtCO2e) dan masih terus meningkat. Berdasarkan data tersebut pula, diketahui bahwa Sumatera Utara menjadi provinsi penghasil emisi tertinggi yaitu 260,1 (MtCO2e) (berdasarkan hasil penelitian tahun 2010).

Fakta ini sangat disayangkan, mengingat Sumatera utara merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki beberapa hutan tropis yang cukup luas. Satu diantara yang terbesar berada si daerah sibolangit dan juga merupakan cagar alam yang dilindungi dan dijadikan sebagai obyek wisata. Meski begitu, label cagar alam tidak lantas melindungi hutan dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, illegal logging merupakan salah satu ancaman yang dapat menyebabkan deforestasi yang nantinya akan menyebabkan bencana alam yang lebih besar lagi.

Sebut saja banjir bandang yang terjadi di tahun 2016, yang diakibatkan oleh luapan air sungai Lau Betimus yang sudah tidak sanggup lagi menahan debit air, yang jika dikaji lebih jauh tentu saja ada kaitannya dengan berkurangnya jumlah pohon-pohon besar yang menjadi vegetasi utama hutan sibolangit dikarenakan pembalakan liar.

Masih di Sumatera Utara, kita coba melihat hutan tropis yang terdapat di daerah Langkat yang kondisinya jauh lebih memprihatinkan lagi. Bukan hanya pembalakan liar yang dilakukan oleh segelintir orang, hutan di langkat bahkan sudah berganti rupa menjadi lahan-lahan perkebunan sawit. Masyarakat yang tinggal di area perkebunan mengaku bahwa tanaman sawit membutuhkan pasokan air tanah yang sangat besar. Kondisi ini akhirnya menyebabkan menurunnya debit air sungai dan kerusakan tanah yang disebabkan oleh menurunnya unsur hara yang terdapat di dalam tanah. Bukan hanya itu, kondisi ini juga menyebabkan kondisi cuaca yang berubah secara drastis dan susah diprediksi, yang seperti kita ketahui bersama akan menjadi salah satu penyebab pemanasan global.

 

Sumur Resapan

Dalam upaya penanganan deforestasi, masyarakat dan pemerintah Sumatera Utara sudah melakukan beberapa upaya alternatif yang dianggap dapat mengurangi resiko kerusakan lingkungan. Salah satunya yang telah dilakukan oleh empat kampung di daerah sibolangit adalah pembentukan sumur resapan untuk membantu proses penyerapan air. Sumur resapan ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi tanah dan mengurangi resiko banjir dan tanah longsor.

Pembalakan liar yang terjadi di kawasan hutan sibolangit pada akhirnya menyebabkan populasi pepohonan besar menurun drastis. Hal ini sangat berdampak buruk saat terjadi musim penghujan, karena akar pohon yang seharusnya mengikat air tidak lagi dapat melakukan fungsinya, sehingga akhirnya air tidak dapat meresap ke dalam tanah dan menyebabkan sungai-sungai meluap lalu pada akhirnya akan menimbulkan banjir. Tidak hanya itu, aliran air yang terus menerus mengikis tanah dan hilangnya pohon-pohon berakar besar yang dapat mengokohkan tanah dapat pula menimbulkan bencana longsor.

Oleh sebab itu, rancangan pembangunan sumur resapan disambut positif oleh warga. Dalam pelaksanaannya, sumur resapan dibuat di beberapa titik di dalam area hutan. Sumur dibuat dengan ukuran lebar 2 meter x 2 meter dan tinggi kedalaman sumur juga 2 meter persegi. Lantas dibuatkan penutup sumur yang juga terbuat dari beton untuk mencegah ada yang terperosok ke dalamnya.

Sumur resapan ini diharapkan dapat membantu tanah menyerap air hujan secara maksimal. Upaya ini tentu saja harus dibarengi dengan penanaman kembali bibit pohon di area hutan yang mulai gundul. Karena pada prinsipnya, menyelamatkan hutan bukanlah perkara mudah yang dapat dilakukan hanya pada satu aspek, penanaman kembali tanpa ada upaya peremajaan terhadap tanah juga tidak akan berdampak maksimal. Disamping itu, pemerintah juga harus terus berupaya dan berjuang dalam pencegahan illegal loging dan pembakaran hutan.***(CM/Ist-Ayu Lestari)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *