Hari Anak Nasional untuk Anak Jalanan

Hari Anak Nasional Untuk Anak Jalanan
Hari Anak Nasional Untuk Anak Jalanan

CERITAMEDAN.COM, Medan – Hari Anak Nasional merupakan “pesta besar” yang diadakan setiap tahun di negeri ini. Baik dari tingkat pemerintah, lembaga swasta maupun anak-anak. Perayaan dimulai dengan perlombaan-perlombaan yang melibatkan anak-anak dan penghargaan bagi anak-anak yang berprestasi dalam segala bidang. Menurut saya, Hari Anak Nasional merupakan sebuah euforia “bahagia” namun subtansinya jauh dari harapan. Pasalnya, ada sebagian anak-anak di negeri ini yang tak mengetahui hari anak dan bahkan tidak mendapatkan hak-haknya sebagai anak layaknya anak-anak Indonesia. Salah satu anak-anak yang terbuang dari Hari Anak Nasional ini adalah anak jalanan.

Pengemis, preman, gelandangan dan anak jalanan merupakan fenomena yang mudah dijumpai merupakan fenomena yang tak terpisahkan dari kota-kota metropolitan. Di Kota Metropolitan, mereka yang ‘menang’ maka hidup akan tenang dan nyaman. Namun bagi mereka yang ‘kalah’ dalam persaingan, berkutat dengan kemiskinan dan sebagian hidup dijalanan merupakan pilihan pahit yang harus dijalani.

Begitu juga di Kota Medan, permasalahan anak jalanan bukan permasalahan yang baru. Rata-rata di setiap titik simpang Kota Medan bisa kita lihat banyak anak-anak yang beraktifitas di jalanan. Seperti Simpang Pos, Simpang Ring Road, Simpang Aksara, Simpang Tritura , Simpang Juanda, Simpang Mandala, dan simpang lainnya. Aktifitas anak-anak di jalanan pun beragam seperti mengamen, menjadi penjual asongan, menjadi pengemis dan ada juga yang hanya ikut-ikutan ‘meramaikan’ jalan.

Sebenarnya banyak sekali definisi anak jalanan meskipun belum ada istilah baku sebutan untuk anak jalanan. Secara keseluruhan, pengertian anak jalanan adalah anak-anak yang berusia 6-12 tahun yang beraktifitas dijalanan untuk bermain dan bekerja, yang tinggal bersama keluarga maupun terpisah serta menghabiskan waktu lebih dari 4 jam per hari di jalanan.

Kegiatan KKSP di jalanan Simpang Pos
Kegiatan KKSP di jalanan Simpang Pos

Semakin hari semakin banyak anak yang beraktifitas di jalanan. Banyak sekali penyebab atau latar belakang anak-anak yang akhirnya ‘turun’ ke jalan, di antaranya karena faktor keluarga, faktor ekonomi, faktor sosial dan faktor lainnya. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak untuk mendapatkan segala pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan etika , agama dan lainnya. Namun ketika keluarga tidak lagi rasa nyaman dan aman, banyak kekerasan yang dialami, peraturan rumah yang sangat ketat tanpa partisipasi, maka jalanan merupakan pilihan pelarian untuk mendapatkan kebebasan.

Selain faktor keluarga dan ekonomi, faktor eksternal lainnya juga mempengaruhi, diantaranya tidak ada teman sepermainan di sekitar rumah dan tidak ada lapangan bermain bagi anak-anak. Pembangunan fisik semakin dilakukan, bangunan-bangunan kokoh menjulang mencakar langit namun semakin sulit menemukan ruang untuk bermain. Sebagian anak menghabiskan waktunya bermain games dan gadget sendiri di rumah tanpa bersosialisasi dengan tetangga sekitar, sebagian menghabiskan waktunya bermain online di warung internet dan sebagian lainnya memilih di jalanan untuk bermain dan bertemu dengan banyak teman.

Anak jalanan sangat rentan atau beresiko mendapatkan perlakuan yang tidak diinginkan, seperti rawan dieksploitasi secara ekonomi maupun seksual dan rawan menjadi korban traficking. Kekerasan-kekerasan itu dterima dari keluarga, teman sebaya di jalanan, preman jalanan dan pemerintah kota melalui satuan polisi pamong praja. Anak jalanan sering mendapatkan perlakuan kasar ketika satpol PP melakukan razia dan alat-alat musik anak jalan sering diambil paksa oleh Satpol PP. Kondisi ini sungguh disayangkan, pasalnya pemerintah seharusnya melindungi anak jalanan tetapi kenyataannya menjadikan anak jalanan sebagai korban dalam setiap aksi “kebaikan” pemerintah.

Selain itu, anak-anak jalanan juga sangat sulit mengakses hak-hak mereka, diantaranya hak pendidikan, hak kesehatan dan hak-hak lainnya karena tidak mempunyai kartu identitas maupun kartu-kartu jaminan sosial lainnya. Kesulitan-kesulitan ini seharusnya menjadi perhatian khusus pemerintah yang telah memasukkan anak jalanan ke dalam perlindungan khusus Undang-Undang Perlindungan Anak. Namun nyatanya tak ada kemudahan bagi anak-anak untuk mengakses pendidikan, kesehatan dan lainnya ketika tidak mempunyai kartu identitas. Ketika sakit mereka harus mengobatinya sendiri atau dibantu teman-temannya di jalanan dan sebagian harus rela tidak bersekolah karena tidak ada yang memberikan mereka jaminan mengakses pendidikan- meskipun katanya pendidikan itu gratis.

Kota Medan yang merupakan kota ketiga terbesar di Indonesia seharusnya mempunyai sistem perlindungan anak yang baik. Tapi nyatanya? Nyatanya tidak ada panti rehab untuk anak jalanan, tidak ada kemudahan khusus untuk anak-anak jalanan dalam mengakses haknya, tidak ada rumah singgah pemerintah kota untuk anak jalanan dan tidak ada dana rehabilitas anak-anak yang terlantar ini. Jadi, apa yang diberikan pemerintah kota medan untuk anak jalanan? Hanya razia untuk membersihkan kota? Atau ada pengembangan skill yang bisa diakses anak jalanan meskipun tanpa kartu identitas?

Hari Anak Nasional di jalanan tak ada pengaruh berarti. Beberapa event memang melibatkan anak jalanan tetapi hanya sebagai pelengkap agar terlihat peduli anak jalanan. Sementara untuk kasus-kasus yang saya sebutkan diatas, hingga saat ini masih terus mengambang.

Harapan saya, seharusnya Hari Anak Nasional bukan hanya sebuah seremonial belaka bagi anak-anak . Tetapi semakin baiknya sistem perlindungan anak yang inklusif baik tingkat keluarga, masyarakat maupun negara. Kasus-kasus anak harus segera ditangani dengan baik dan cepat serta kegiatan-kegiatan positif untuk pencegahan agar anak-anak terlindungi. Dan tentu adanya perhatian khusus melalui kebijakan-kebijakan khusus bagi anak-anak yang termasuk dalam perlindungan khusus, salah satunya anak jalanan.

Selamat Hari Anak Nasiona - Anak KKSP
Selamat Hari Anak Nasiona – Anak KKSP

Untuk membangun sistem tersebut, dibutuhkan berbagai pihak untuk bersinergi bersama baik orang tua di lingkungan keluarga, guru-guru di lingkungan sekolah, lembaga-lembaga perlindungan anak non pemerintah, lembaga pemerintahan tingkat kelurahan hingga tingkat negara, sehingga terpenuhi kepentingan terbaik bagi anak-anak sesuai undang-undang perlindungan anak. Selamat Hari Anak Nasional.***(CM-Ist/Nasriati Muthalib)

KOMENTAR

BACA JUGA