Miss Internet Sebagai Buah Keprihatinan APJII pada Anak Bangsa

Miss Internet Indonesia

CERITAMEDAN.COM, Medan – Internet merupakan sebuah teknologi yang mulai terkenal di tahun 2000an. Sebuah tekhologi yang diciptakan untuk mempermudah proses kerja serta digunakan sebagai pemuas kebutuhan. Internes sendiri biasa digunakan sebagai alat yang mempermudah dalam memperoleh informasi yang diinginkan baik itu berita, hiburan dan masih banyak yang lainnya. Selain karena memudahkan dalam mendapatkan informasi atau sebagai alat pemuas kebutuhan, cara pengaksesannya yang mudah pun menjadikan internet sendiri digemari oleh setiap kalangan.

Menurut survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016, jumlah pengguna internet di Indonesia adalah 132,7 Juta orang dari 256,2 Juta penduduk Indonesia. Sementara itu mayoritas pengguna internet di Indonesia sendiri adalah remaja khususnya mahasiswa. Saat ini internet bukan hanya sebagai pelengap kebutuhan sehari-hari saja melainkan saat ini internet sudah menjadi kebutuhan pokok yang terikat dengan manusia. Terlepas dari mayoritas pengguna internet, tak hanya mahasiswa namun setiap kalangan sudah bisa dengan mudahnya mengakses internet termasuk anak-anak yang masih duduk di bangku sekolahan.

Semua konten bisa diakses oleh setiap orang mulai dari konten positif hingga negatif seperti hoax, cyber crime, bullying bahkan hingga konten porno. Orang tua sebagai pengawas perilaku dan tindakan anak menjadi kewalahan dengan mudahnya pengaksesan internet ini. Maka dari itu wawasan mengenai penggunaan internet positif perlu dimulai sejak usia dini. Terlebih dari itu pengawasan yang ketat terhadap pola perilaku anak juga harus mulai diperhatikan.

Dewasa ini pola perilaku yang timbul diddasarkan dari wawasan yang dimiliki, maka dari itu dapat disimpulkan bahwa yang menjadi penyebab utama adalah kurangnya wawasan. Maka dari itu APJII turuh hadir memberikan solusi atas permasalahan tersebut. Pada Desember 2016 silam APJII mengadakan ajang pencarian Miss Internet, hal tersebut didasari sebagai buah keprihatinan APJII atas permasalahan yang sangat krusial ini.

“Miss Internet bukan hanya sebuah gelar saja, tapi Miss Internet adalah tanggung jawa yang harus dilaksanakan guna dapat mendidik dan memberikan wawasan kepada orang-orang betapa pentingnya mengetahui lebih dalam mengenai internet.” Ya, begitulah pernyataan yang diutarakan Sylvi Dhea sebagai orang yang terpilih menjadi Miss Internet Sumatera Utara 2017.

APJII sendiri mewadahi dan memfasilitasi setiap program kerja dan kegiatan yang dilakukan guna menyokong aktifitas Miss Internet dalam memberikan wawasan kepada masyarakat. Salah satu yang menjadi tugas Miss Internet adalah melakukan sosialisasi dan terjun lansung kelapanggan melihat situasi dan kondisi, bagaimana orang sekitar menggunakan dan mengapliasikan internet dalam keseharian?. Ya, begitulah kerja yang menjadi salah satu kewajiban saat menyandang gelar Miss Internet.

Adapun tujuan APJII sendiri mengadakan ajang pencarian bakat ini guna melihat potensi-potensi dari remaja Indonesia yang memiliki kemampuan dan pengetahuan mengenai pengaplikasian internet sehat. Miss internet juga dijadikan sebagai pelaksana tugas untuk memberikan waasan dan motivasi kepada masyarakat khususnya generasi millenial sebagai penerus kehidupan bangsa. Adapun kegiatan yang menjadi cara dalam memberikan wawasan dan pengetahuan kepada masyarakat yaitu dengan melakukan sosialisasi yang bekerjasama dengan pihak sekolah.

Sylvi Dhea Angesti
Sylvi Dhea Angesti

Sylvi Dhea Angesti, sosok wanita usia 19 Tahun yang merupakan mahasiswa aktif departemen Ilmu Komunikasi Uniersitas Sumatera Utara (USU). Ia juga merupakan penyandang gelar Miss Internet Sumatera Utara 2016. Mengakui bahwa salah satu kesulitannya dalam mensosialisasikan pola penggunaan internet sehat adalah khalayaknya. Ia berujar “Manusia sudah memiliki rasa ketergantungan terhadap internet, pola berpikir manusia sendiri sudah merasa dimudahkan dengan penggunaan internet. Maka dari itu untuk mengubah atau memberikan wawasan kepada orang yang sudah ketergantungan adalah tantangan terbesar saat saya melakukan sosialisasi.”

Sylvi juga mengatakan bahwa besar harapan yang ia miliki untuk dapat memberikan pengetahuan kepada anak bangsa untuk bisa menggunakan internet secara baik. Ia juga berharap, semoga pemerintah ataupun lembaga pengawasan jasa internet untuk lebih ketat lagi alam menyaring konten-konten negatif untuk meminimalisir pengaksesan konten negatif.***(CM/Glanz Publisher)

KOMENTAR

BACA JUGA