IBX5A49C9BC313D6 KEIN Targetkan Ekonomi Indonesia Urutan ke-4 Dunia 2045 - Cerita Medan

KEIN Targetkan Ekonomi Indonesia Urutan ke-4 Dunia 2045

KEIN Targetkan Ekonomi Indonesia Urutan ke-4 Dunia 2045
KEIN Targetkan Ekonomi Indonesia Urutan ke-4 Dunia 2045

Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) sejak bulan Desember lalu telah menggelar Roadshow Seminar ke beberapa Kota besar di Indonesia. Rabu, (25/01/2017), kali ini KEIN menggelar Roadshow Seminarnya di Hotel Grand Aston City Hall, Jalan Bala Kota, Medan. bekerjasama dengan Universitas Sumatera Utara, KEIN ingin universitas Negeri menjadi tombak utama untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Seminar Komite Ekonomi Dan Industri Nasional ini bertajuk Konsultasi Publik Pemikiran KEIN mengenai Industri Pilihan dalam Kerangka Strategi Industrialisasi Indonesia 2045 I.

Dihadiri sekitar 100 peserta, seminar ini mengundang instasi-instasi pemerintahan, tokoh akademisi serta mengajak media untuk turut menyebarluaskannya. Bukan hanya itu, terlihat juga kehadiran Ir. H. Tengku Ery Nuradi selaku Gubernur Sumatera Utara, untuk turut menyampaikan pandangannya terhadap perkembangan ekonomi dan keadaan industri kreatif di Sumatera Utara.

“Banyak sekali potensi di Sumatera Utara jika dilihat dari 5 sektor, salah satunya adalah sektor maritim. Pelabuhan Kuala Tanjung yang ditargetkan pembangunan serta fungsinya sebagai pelabuhan eksport dan import terbesar di Indonesia. Sumatera Utara sebagai wilayah agraria dengan produk yang dihasilkan, tentunya dua hal tersebut memiliki potensi yang saling berkaitan,” ujar Ir. H Teuku Ery Nuradi selaku Gubernur Sumatera Utara.

Dikatakannya, dengan banyaknya industri-industri kreatif yang tercipta di Indonesia, dengan pengolahan yang tepat tentunya. Kita semua yakin, pada tahun 2045, Indonesia berada di urutan ke-4 ekonomi dunia. Namun, masalah yang hingga kini tak terpecahkan adalah kualitas sumber daya Indonesia yang masih rendah” ujar Soetrisno Bachir selaku Ketua KEIN.

Terlaksananya seminar ini dalam rangka mencari solusi atas permasalahan ekonomi dan industri nasional di Indonesia.

Perlu diketahui bahwa KEIN merupakan lembaga khusus yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden No.8 Tahun 2016 dengan tugas untuk:
a) melakukan pengkajian terhadap permasalahan ekonomi dan industri nasional, regional, dan global
b) menyampaikan saran tindak strategis dalam menentukan kebijakan ekonomi dan industri nasional kepada Presiden
c) melaksanakan tugas lain dalam lingkup ekonomi dan industri yang diberikan Presiden.

Peluang dan tantangan mewujudkan visi 100 tahun Indonesia merdeka, bahwa Indonesia merupakan negara dengan kapabilitas besar, dari segi wilayah dan sumberdaya alam, sumberdaya manusia, serta geostrategi, telah diakui namun belum dioptimalkan sehingga masih berupa potensi. Tokoh-tokoh nasional yang berbicara dalam forum KEIN berbagi optimisme yang sama: bahwa Indonesia masih berpeluang menjadi negara maju dan sejahtera. Kurang berhasilnya perencanaan pembangunan dan industrialisasi di masa lalu menjadi catatan berharga.

Misalnya Prof Subroto menyatakan kesalahan Indonesia selama ini ada 2 (dua) yaitu: pertama, sebagai negara kepulauan Indonesia hanya fokus di darat, tidak memanfaatkan seluruh potensi/kekayaan seperti samudra; kedua, masyarakat desa tidak dilibatkan dalam pembangunan, sehingga mereka miskin dan terbelakang.

Sedangkan Prof Emil Salim menyatakan komunitas Ekonomi Asean menyediakan kesempatan untuk Indonesia muncul sebagai hub dengan kawasan sekitar sebagai spoke yang melengkapi produksi industri, perdagangan dan teknologi. Para ahli sepakat bahwa melepaskan diri dari middle income trap menjadi prasyarat keberhasilan menjadi negara maju. Juga perubahan paradigma dan mental dari konsumen menjadi produsen adalah prasyarat menjadi negara industri maju. Saat ini Indonesia masih berstatus negara berpenghasilan menengah-rendah dengan PDB per kapita Indonesia tahun 2016 sebesar 4.635 dolar AS. Indeks Gini sebagai indikator kesenjangan masih cukup tinggi. Global Competitiveness Index 2014-2015 menempatkan Indonesia di peringkat ke-34 dari 144 negara di dunia, sedangkan Global Innovation Index tahun 2016 menempatkan Indonesia di peringkat ke-88 dengan nilai 29,07 (dalam skala 100).

Kemajuan ekonomi Indonesia terhambat oleh banyak faktor, di antaranya keterbatasan infrastruktur, makroekonomi, pasar keuangan, pendidikan, kesehatan, inefisiensi birokrasi, dan teknologi. Penting untuk dicatat bahwa keberhasilan Indonesia mencatat tingkat pertumbuhan ekonomi berkisar 4,9-5,1%- di tengah situasi ekonomi dunia yang penuh ketidakpastian masih memberikan optimisme. Mewujudkan visi 100 tahun Indonesia pastinya membutuhkan kerja keras dan dukungan segenap pemangku kebijakan. Indonesia pernah kaya sumberdaya alam, akan tetapi pembangunan yang terlalu bergantung pada eksploitasi yang kurang diiringi pertambahan nilai terbukti hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi tinggi namun tidak diiringi struktur ekonomi yang tahan.

Prof Habibie mengingatkan pengembangan sumberdaya manusia merupakan aset mutlak dalam pembangunan nasional yang berkelanjutan. Hal ini semakin relevan di tengah jatuhnya harga komoditas dunia dan berkurangnya sumberdaya alam terutama yang ada di darat. Proyeksi penduduk Indonesia pada tahun 2045 akan berjumlah 317 juta jiwa. Bonus demografi yang berlangsung tahun 2016-2030 dapat menjadi modal pembangunan ekonomi bangsa yang ditentukan oleh kualitas SDM, khususnya penduduk usia produktif. Namun demikian 61 % Tenaga kerja Indonesia hanya berpendidikan SD dan SMP. Pengembangan SDM melalui pendidikan dan keahlian perlu digalakkan, serta melindungi kesempatan kepada masyarakat yang masih memiliki pendidikan rendah.

Selain persoalan demografi, Indonesia juga menghadapi risiko kelangkaan energi. Cadangan minyak bumi nasional diperhitungkan tinggal 12 tahun lagi, sedang cadangan gas sampai 38 tahun lagi- kalau tidak ditemukan cadangan yang baru. Oleh karenanya upaya meningkatkan cadangan sudah menjadi keharusan. Dalam FGD KEIN terungkap bahwa potensi energi konvensional, baru dan terbarukan di laut dan wilayah timur sangatlah besar namun eksplorasinya masih sangat lemah. Perlu upaya “Go East, Go Deeper dan Go Unconventional” yang memerlukan modal lebih besar, perlu teknologi canggih dan manajemen risiko yang lebih baik.

Indonesia juga masih bergelut dengan masalah ketahanan pangan. Sektor pertanian dalam arti luas serta perikanan merupakan basis perekonomian karena fungsinya sebagai penyedia bahan pangan dan bahan mentah bagi industri untuk memenuhi permintaan lokal maupun global. Makin ketatnya persaingan dalam perdagangan internasional mengharuskan komoditi pertanian dan perikanan diolah terlebih dahulu dalam industri-industri sebelum diekspor.

Di samping pembangunan pertanian dan perikanan, industrialisasi perlu dilakukan sehingga angkatan kerja dapat ditampung di sektor ini. Permasalahan di sektor agro adalah: pertambahan penduduk, kerusakan lingkungan, konversi lahan dan penurunan kualitas lahan pertanian, menipisnya persediaan bahan bakar fosil, perubahan pola konsumsi, pemanasan global dan perubahan iklim, serta kebijakan lembaga keuangan internasional dan negara maju.

Perkembangan teknologi menyediakan tantangan sekaligus tantangan bagi Indonesia, yang saat ini masih dikategorikan sebagai Factor Driven Economy, belum Innovation-driven Economy**) 2 Perkembangan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) semakin cepat dan masuk ke berbagai sektor dunia usaha, sehingga memunculkan ekonomi digital. TIK semakin memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa mendatang. TIK mendorong kreativitas bisnis yang mengubah industri. Perkembangan TIK saat ini begitu cepat terjadi dalam bidang pendidikan, industri, pertanian, ekonomi, politik, kesehatan, hiburan dan lainnya. Dalam dunia pendidikan muncul ebooks, google books, dan lainnya yang digunakan untuk bahan pembelajaran. Dalam industri, TIK berfungsi untuk memudahkan pengendalian sistem dalam sebuah industri. Mobile banking dan internet banking, mempermudah proses transaksi bisnis keuangan. TIK juga dapat membantu para pembisnis untuk menjual produk atau jasa secara online seperti online shop. Bahkan dalam bidang politik perkembangan TIK membantu para politikus untuk program kampanye dengan cepat dan mudah tanpa membutuhkan biaya mahal dengan melalui media sosial.

 

Empat Industri Pilihan KEIN yang Berpotensi Sebagai Pengungkit Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kerangka strategi industrialisasi ini memang bukan yang pertama ataupun satu-satunya di Indonesia. Paling tidak ada tiga yaitu MP3EI yang dibuat oleh pemerintahan periode sebelumnya, RIPIN yang dibuat oleh Kementerian Perindustrian dan RPJMN yang dibuat oleh Bappenas. Tulisan ini dibuat dengan mempertimbangkan roadmap lain yang sudah ada, sehingga berbagi beberapa kesamaan seperti pentingnya pengelolaan barang mentah (nilai tambah), pengembangan sumberdaya manusia, serta aspek konektivitas dan pembangunan berbasiskan keunggulan daerah. Berbeda dengan MP3EI, RIPIN dan RPJMN tulisan ini langsung fokus kepada 4 (empat) industri pilihan KEIN yaitu pangan, pariwisata, maritim dan kreatif. Berbeda dengan RIPIN yang hanya fokus kepada industri, tulisan ini juga menganggap ekonomi merupakan bagian penting dari keberhasilan industri. Berbeda dengan RPJMN yang fokus kepada ekonomi dan pembangunan, kerangka sistematis industrialisasi ini mementingkan peran industri dan kaitannya dengan ekonomi. Kerangka strategi industrialisasi ini memiliki landasan filosofis yang berorientasi kerakyatan, berbasis alam dan budaya lokal, industrialisasi dengan pemerataan/kesetaraan, serta pemanfaatan teknologi. Berikut adalah 4 (empat) industri pilihan KEIN.

 

Maritim

Ekonomi maritim meliputi transportasi laut, pembangunan kapal dan pemeliharaannya, pelabuhan dan industri serta jasa yang berkaitan, serta sumberdaya kelautan lain seperti migas, mineral, dan pembangkit listrik berbasis kelautan. Relevansi pengembangan industri maritim jelas dan nyata. Potensi sektor kelautan sebesar $ 1,33 triliun / tahun atau 7 kali lipat APBN 2016 atau 1,3 kali PDB Nasional saat ini. Potensi kontribusi ekonomi kelautan terhadap lapangan pekerja mencapai 45 juta orang. Pada tahun 2014 kontribusi ekonomi kelautan terhadap PDB Indonesia sekitar 22 persen, sementara negara lain dengan potensi kelautan yang lebih kecil (Thailand, Korea Selatan, Jepang, Maldives, Norwegia) kontribusinya lebih besar dari 30 persen. Industri maritim memiliki peluang untuk ditingkatkan kontribusinya terhadap PDB, industri ini dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia.

 

Agroindustri

Pembangunan agroindustri di Indonesia saat ini menghadapi beberapa tantangan seperti: terjadinya proses perubahan iklim yang dapat menyebabkan kegagalan panen sehingga menimbulkan kelangkaan atau krisis pangan, kondisi perekonomian global yang menyebabkan terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah akan membuat harga produksi dan biaya produksi menjadi lebih tinggi dan akhirnya dapat menimbulkan krisis ekonomi yang akan berdampak pada pelemahan ekspor, perubahan iklim membuat harga pangan global berfluktuasi dan menjadi lebih mahal, terjadinya bencana alam menyebabkan kemampuan dan ketersediaan pangan menjadi sering terganggu, peningkatan jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan pangan akan lebih besar dari kapasitas lahan yang tersedia, perlunya aksesibilitas dan sarana transportasi yang lebih efisien, berkurangnya minat generasi muda untuk bergerak di sektor pertanian.

 

Idustri Digital dan Kreatif

Posisi industri TIK Indonesia saat ini berada pada ranking 79 di dunia dari 143 negara dan ranking 5 di ASEAN dari 10 negara. Kekuatan industri kreatif digital di Indonesia belum tinggi karena kinerja bisnis pelaku industrinya cenderung berfluktuasi. Di samping itu, tantangan pada industri ini adalah talent/sumber daya manusia yang terbatas. Kekuatan persaingan Industri Kreatif Digital dan penciptaan nilai tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja bisnis yang berkelanjutan, namun berpengaruh secara tidak langsung melalui reputasi perusahaan dan strategi bersaing. Indonesia diperkirakan baru menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2025 mendatang.

 

Pariwisata

Industri pariwisata Indonesia merupakan penyumbang PDB, devisa, dan lapangan kerja yang paling mudah dan murah (Arief Yahya, 2015). Dibandingkan dengan negara-negara tetangaa seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura, sektor pariwisata Indonesia masih belum dikelola secara optimal. Penerimaan devisa pariwisata Indonesia hanya setengah dari Malaysia dan seperempat dari Thailand.

Sebagai pengait 4 industri pilihan tersebut perlu didorong juga industri manufaktur berbasis nilai tambah, SDM, teknologi dan inovasi. Sebagai ilustrasi; 1) industri pengolahan hasil laut dan pertanian memerlukan berbagai mesin modern untuk meningkatkan produktivitasnya, 2) industri kreatif dan digital perlu didukung industri komponen mikroelektronika sebagai bagian dari berbagai perangkat keras yang digunakan dan 3) pengembangan industri pariwisata sangat bergantung pada infrastruktur serta jasa pendukung seperti industri pembangkitan energi serta pelestarian lingkungan.***(CM-04/Chairunnisa)

KOMENTAR

BACA JUGA