Tradisi Ketupat yang Masih Melekat di Suku Banjar

  • Whatsapp
Tradisi Ketupat yang Masih Melekat di Suku Banjar
Tradisi Katupatan yang Masih Melekat di Suku Banjar

Pernah makan yang ketupat? Tahu tidak makanan berbentuk layang-layang ini berasal dari daerah mana? Di beberapa kalangan di Pulau Jawa, ketupat sering digantung di atas pintu masuk rumah sebagai semacam jimat. Ada masyarakat yang memegang tradisi untuk tidak membuat ketupat di hari biasa, sehingga mereka hanya akan membuat ketupat di hari lebaran dan hari-hari besar saja. Bahkan ada beberapa daerah di Pulau Jawa yang hanya menyajikan ketupat di hari ketujuh sesudah lebaran saja atau biasa disebut dengan Hari Raya Ketupat.

Ketupat adalah hidangan khas Asia Tenggara berbahan dasar pulut yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa (janur) yang masih muda. Di Pulau Bali juga ada makanan sejenis ketupat. Yang mana ketupat ini dipersembahkan sebagai sesajian upacara. Selain itu, ketupat di Bali juga dijadikan seperti makanan tambahan yang selevel dengan bakso. Hal ini terlihat banyaknya para penjual ketupat yang menjual dengan gerobak dorong di pantai Kuta Bali.

Read More

Tradisi ketupat/ kupat lebaran merupakan simbolisasi ungkapan dari bahasa Jawa. Kata ku yang memiliki arti mengakui, dan pat yang berarti lepat (kesalahan) yang pada zaman dahulu sempat digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam menyiarkan Islam di Pulau Jawa yang pada waktu itu masih banyak yang meyakini kesakralan ketupat. Asimilasi budaya dan keyakinan ini akhirnya mampu menggeser kesakralan ketupat menjadi tradisi Islami ketika saat ini ketupat menjadi sajian spesial di hari lebaran.

Biasanya, ketupat ini sering kita jumpai di hari lebaran. Namun, berbeda dengan orang-orang yang bersuku Banjar di Desa Kota Rantang, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang ini. Makanan ketupat ini masih sangat melekat dengan masyarakat suku Banjar. Tradisi Katupatan, begitu masyarakat suku Banjar menyebutnya. Tradisi ini masih dilakukan secara rutin setiap tahunnya. Tradisi ini dilakukan pada minggu ketiga bulan Safar. Setiap masyarakat di desa ini akan melakukan pembuatan ketupat secara serentak yang kemudian akan ada acara berdo’a bersama pada malam harinya.

Seperti yang terjadi pada November 2016 lalu. Masyarakat di Desa Kota Rantang masih mengadakan sebuah ritual keagaman berupa berdo’a bersama dan setelah itu menikmati ketupat secara bersama-sama. Semua masyarakat disini dapat menikmati ketupat walaupun mereka tidak ikut berpartisipasi dalam membuatnya. Setiap masyarakat yang ada di desa ini membuat ketupat dan kemudian menyerahkan sebanyak 10 buah ke mesjid untuk dapat dihidangkan kepada para kaum lelaki yang melakukan acara berdo’a bersama. Dengan begitu semua lapisan masyarakat yang bertempat tinggal di desa ini juga ikut merasakan hidangan spesial yang satu ini.

Hal ini dilakukan oleh para masyarakat Desa Kota Rantang sebagai ungkapan syukur dari apa yang telah diberikan Allah kepada mereka. Tradisi ini pun tidak akan memudar meskipun zaman bertukar. Bahkan momen-momen ini sangat ditunggu-tunggu oleh para masyarakat desa untuk merasakan indahnya berbagai makanan khas mereka, ketupat dengan orang-orang dari kalangan rendah.

Kalau mengikuti tradisi dari suku Banjar, ketupat ini dimasak dengan santan di atas api yang tidak terlalu besar. Dan ketika santannya sudah mulai berkurang maka, kita harus terus mengaduknya agar tidak ada ketupat yang gosong. Sebelum memasak ketupat, pastinya kita harus membuat sarangnya dahulu agar pulutnya dapat dimasak. Membuat sarang ketupat, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Membuat sarang ketupat ini diperlukan ketelitian dalam menganyam daun kelapa yang merupakan bahan utama dalam pembuatan ketupat khas Banjar ini.

Biasanya 2 hari sebelum hari perayaan ketupat, masyarakat di desa ini akan berbondong-bondong mencari daun kelapa yang masih muda (janur) untuk dijadikan sarang ketupat. Setelah itu mereka akan bergotong royong dalam merangkai sarang ketupatnya. Suasana seperti inilah yang tidak kita dapatkan di daerah perkotaan. Rasa kekeluargaan dan gotong royong menyatu kuat dalam setiap kegiatan yang diadakan di desa ini.

Pada bulan Januari mendatang, tepatnya pada bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw, masyarakat disini juga biasa mengadakan tradisi beayun, yaitu tradisi mengayun anak secara beramai-ramai dengan shalawat Nabi. Ayunan para bayi ini akan dihiasi dengan bendera kecil yang terbuat dari kertas babat yang mana bendera ini akan digantung camilan-camilan, seperti gembang goyang dan kue cucur. Penasaran, ‘kan? Tradisi ini hanya ada di Desa Kota Rantang dan dilakukan hanya satu tahun sekali. Jika kamu ingin menyaksikan budaya yang mengakar di desa ini, silakan saja datang ke sini, masyarakat sekitar dengan antusias menyambut kehadiranmu, kok.(CM-05/Dwi Andriani Lestari)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *