PKBI dan Rutgers Ingin Orangtua Beri Pendidikan Seksual Sejak Dini pada Anak

  • Whatsapp

PKBI dan Rutgers Ingin Orangtua Beri Pendidikan Seksual Sejak Dini pada Anak

PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) bersama Rutgers menggelar roadshow CSE (Comprehensif Sexsuality Education) di Hotel Inna Dharma Deli Medan pada Kamis (15/12/2016). Rangkaian kegiatan yang dilakukan yakni Seminar Nasional, Workshop dan Pasar CSE. Seminar yang didominasi oleh orangtua, tenaga pendidik serta mahasiswa.

Read More

PKBI bersama Rutgers menghadirkan pembicara yang berkompeten dibidangnya yakni Dra. Erni Mulatsih, M. Pd (Dinas Pendidikan Pemprov Sumatera Utara), Ayu Wardani, M. Psi (Psikolog), Andre Susanto (Manager CSE Rutgers WPF Indonesia), Siti Chairani Nasution, S. Sos (Pjs Direktur PKBI Provinsi Sumatera Utara.)

Dipaparkannya pengetahuan seputar anak, pendidikan, perkembangan serta permasalahan yang kerap menghampiri anak dan remaja bertujuan agar orangtua dan tenaga pengajar sebagai pelaku utama dalam perkembangan anak memahami hal yang sejak dini harus diajarkan pada anak khususnya pendidikan seksual.

Bukan hanya seminar nasional, PKBI bersama Rutgers juga menyediakan ruang kosong bagi komunitas-komunitas anak dan kesehatan baik bentukan PKBI dan Rutgers maupun lainnya untuk membuka standnya dalam roadshow CSE. Komunitas yang terlihat hadir yakni Rumah Singgah Caritas, CMR (Centra Mitra Remaja) di bawah naungan PKBI, Puskesmas Sering Medan, Dance for Life dan komunitas lainnya.

Ketiga pembicara membahas hal yang tidak hampir berbeda. Pendidikan untuk anak bukan hanya berupa nilai-nilai pendidikan formal yang didapat dari sekolah. Pendidikan moral lebih utama untuk menciptakan anak dengan kepribadian beradab. Namun sebelum mendidik anak, orangtua, tenaga pendidik serta masyarakat juga harus memiliki adab dan pengetahuan baik, hal apa yang harus dilakukan dan dihindari dalam mendidik sekaligus menjadi role model untuk anak.

“Pendidikan anak bukan hanya pendidikan akademik yang didapat dari sekolah. Pendidikan moral yang didapat dari keluarga serta masyarakat bahkan jauh lebih penting untuk membentuk karakter anak. Banyak orangtua bahkan tenaga pendidik yang awalnya saja berkata hal baik namun berjalan dengan waktu anak malah melihat perkataan tersebut bersimpangan dengan perilaku orang tersebut. Dari hal tersebut anak-anak yang belum begitu bisa membedakan baik dan buruk malah akan menciptakan perilaku  menyimpang. Misalnya ibu melarang anaknya umur 5 tahun untuk berkata kotor, namun seketika saat ibunya sedang emosi kalimat kotor malah terucap dari mulut ibunya. Sama halnya dengan tenaga pengajarnya, guru hanya baru menghubungi orangtua ketika anak bermasalah,  kalau tidak ada masalah tidak pernah  berkomunikasi dengan orangtua, begitu juga orangtua,” ujar Dra. Erni.

“Pendidikan terhadap anak juga harus terjadi secara harmonis akibat adanya dukungan dari semua pihak baik orangtua, lingkungan, pendidik, pemerintah, organisasi, itu baru namanya pendidikan. Guru memberitahu kepada anak kalau belum punya SIM (Surat Izin Mengemudi) jangan naik motor di jalan raya tapi kalau di lingkungan rumah tidak apa-apa, esok harinya, anak melihat ibunya terburu-buru mengantar anaknya tanpa pakai helm, bonceng tiga. Ini yang dikatakan sebagai pendidikan yang tidak harmonis pada anak,” tambah Dra. Erni.

Berawal dari pendidikan moral dilanjutkan dengan pendidikan seksual sejak dini kepada anak. Masyarakat sampai saat ini masih beranggapan bahwa hal tersebut tabu untuk dibincangkan dengan anak. Saat anak bertanya seputar seksualitas, maka kebanyakan orangtua akan terkejut. Namun akan lebih baik jika anak mendapat jawaban dari orangtua dari pada orang lain.

“Pentingnya pendidikan seksual kepada anak guna menghindari anak dari tindak kekerasan seksual. Anak-anak jaman sekarang sudah sangat bijak, mereka menanyakan hal-hal mencengangkan orangtuanya seputar seksual dan reproduktivitas. Misalnya anak bertanya bagaimana cara buat bayi? Tadi adik lihat teman adik ciuman di kelas. Jadi tugas orangtua bukan menghindari pertanyaan-pertanyaan tersebut melainkan harus berkata jujur kepada anak namun jawaban yang diberikan sesuai dengan versi anak. Karena apa yang dibayangkan orangtua belum tentu sama dengan bayangan anak,” tututr Andre selaku Manager CSE Rutgers WPF Indonesia.

Dijelaska pula oleh Ayu selaku psikolog, baik orangtua, guru dan masyarakat harus peduli dengan kondisi kejiwaan seorang anak. Anak-anak dengan mental yang masih lemah sangat membutuhkan motivasi dan dorongan baik untuk perkembangannya maupun saat dia terlibat masalah.***(CM-04/Chairunnisa)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *