IBX5A49C9BC313D6 Masjid Lama Gang Bengkok, Masjid Tua Medan Arsitektur Melayu – Cerita Medan

Masjid Lama Gang Bengkok, Masjid Tua Medan Arsitektur Melayu

Masjid Lama Gang Bengkok, Masjid Tua Medan Arsitektur Melayu

Medan yang terkenal dengan keberagaman etnis dan budayanya baik lokal maupun etnis adopsi dari persebaran penduduk, yakni Tionghoa dan etnis lainnya. Keberadaan etnis-etnis tersebut tentu sudah memberi bekas sebagai bukti keberadaannya di Medan. Hal tersebut dapat mudah terlihat dari bangunan bersejarah. Bukti sejarah bahwa pada abad silam yang semakin berkembang hingga saat ini, Medan bukan hanya terdiri dari etnis lokal saja. Begitu banyaknya bangunan bersejarah di Medan masing-masing menyimpan cerita unik dan menarik bahkan menjadi kebanggaann Kota Medan dan masyarakatnya.

Selain Masjid Raya Al-Mashun, Medan memiliki masjid unik lainnya yang menjadi ikon Kota Medan. Tak ada ubahnya seperti masjid lain yang digunakan sebagai tempat peribadahan umat muslim, namun masjid ini terlihat unik karena arsitektur, ornamen, lokasi serta sejarahnya. Berlokasi di Jalan Masjid, Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Masjid Lama Gang Bengkok sudah terdengar unik dari julukannya. Jauh sekali terlihat perbedaanya dengan masjid lain yang selalu idendik dengan nama Arab, Masjid Lama Gang Bengkok malah terinspirasi dari lokasi masjid. Dahulu di depan masjid ini terdapat gang sempit yakni Gang Bengkok yang bentuknya melengkung dan memang bengkok. Warga sekitar yang kerap menyebut masjid ini sebagai Masjid Gang Bengkok. Namun karena lokasi masjid yang semakin ramai dan menjadi pusat bisnis Medan, lokasi Gang Bengkok mengalami pelebaran jalan dan berubah statusnya menjadi jalan bukan lagi gang, kini menjadi Jalan Ahmad Yani.

Masjid Lama Gang Bengkok merupakan masjid tertua kedua dari tiga masjid di Medan setelah Masjid Al-Osmani (1854). Bahkan Masjid Lama Gang Bengkok sudah lebih dulu berdiri dari Masjid Raya Al-Mashun (1909). Berdiri di atas tanah wakaf dari Haji Muhammad Ali yang kerap dikenal sebagai Datuk Kesawan oleh masyarakat sekitar. Masjid Lama Gang Bengkok Pembangunannya diperkirakan pada tahun 1874, terhitung sudah 142 tahun masjid Lama Gang Bengkok begitu tenar sebagai kompilasi budaya di Medan yakni paduan budaya Melayu, Tionghoa serta Eropa. Kabarnya, seluruh pembiayaan pembangunan Masjid Lama Gang Bengkok berasal dari tokoh pesohor Medan yakni Tjong A. Fie. Seperti yang kita ketahui bersama, Tjong A. Fie merupakan tokoh dermawan pemeluk agama Buddha. Terkait perbedaan agama tersebut, pembangunan Masjid Lama Gang Bengkok oleh Tjong A. Fie sempat mendapat penolakan oleh masyarakat.

Namun telah mendapat persetujuan oleh Sultan Deli Makmun Ar-Rasyid yang pada masa itu sudah berpindah pusat pemerintahan Sultan dari wilayah pelabuhan yakni sekitar Masjid Al-Osmani ke Istana Maimun, maka pembangunan Masjid Lama Gang Bengkok pun segera dilakukan. Lebih-kurang selama 61 tahun, Tjong A. Fie tercatat sebagai penanggung seluruh biaya Masjid Lama Gang Bengkok sejak tahun 1860-1921.

Keberadaan Masjid Lama Gang Bengkok merupakan bukti toleransi antar umat beragama di Medan. Sangat mudah terlihat dari arsitektur dan ornamen yang melekat pada bangunan masjid ini. Didominasi dengan warna kuning yang merupakan simbol kebudayaan melayu serta ukiran-ukiran kayu pada atap masjid. Ditambah dengan ciri khas Tionghoa yakni bentuk atap masjid yang mengecut dengan lengkungan di setiap sisinya. Menara khas masjid juga tetap ada pada Masjid Lama Gang Bengkok. Warna kuning serta ukiran-ukiran kayunya semakin memperindah tampilan dalam masjid, serta mendukung kekhusyukan.

Di dalam Masjid Lama Gang Bengkok terdapat empat tiang penyangga bangunan masjid yang lagi-lagi terbalut oleh warna kuning. Kabarnya, empat tiang tersebut juga terlihat sama seperti yang ada di kediaman Tjong A. Fie. Pasalnya para pekerja yang membangun kediaman Tjong A. Fie juga menangani pembangunan Masjid Lama Gang Bengkok. Empat tiang besar setebal setengah meter yang menopang seluruh berat bangunan masjid jika diperhatikan juga mencirikan bentuk kelenteng atau vihara sebagai tempat peribadatan umat Buddha.

Masjid Lama Gang Bengkok sempat mengalami renovasi namun tidak begitu mengubah keaslian bangunan masjid. Dahulu terdapat taman kecil di depan masjid namun harus dihilangkan karena perluasan masjid. Lokasi Masjid Lama Gang Bengkok yang berada di pusat bisnis Medan dari dulu hingga saat ini,banyak mendatangkan jama’ah dari luar Kesawan yang singgah untuk shalat sembari menikmati keindahaan Masjid Lama Gang Bengkok. Di sekitaran Masjid Lama Gang Bengkok sangat ramai bengkel atau toko otomotif dan percetakan. Bukan hanya itu, Masjid Lama Gang Bengkok juga dikelilingi dengan perkantoran elit.

Selain sebagi tempat peribadatan umat muslim, Masjid Lama Gang Bengkok juga terdapat aktivitas lainnya yakni pengajian yang rutin diadakan. Masjid Lama yang memiliki daya tampung 2000 orang ini juga menyediakan fasilitas perpustakaan di dalamnya. Inilah salah satu bukti sejarah bentuk toleransi keberadaan umat beragama di Medan.***(CM-04/Chairunnisa)

KOMENTAR

BACA JUGA