Hilbram Dunar, Berbagi Ilmu Public Speaking di 5 Menit Pertama

  • Whatsapp

Hilbram Dunar, Berbagi Ilmu Public Speaking di 5 Menit Pertama

Berbicara di depan umum sangat mudah bagi mereka yang suka dan terbiasa melakukannya, terlebih lagi jika orang tersebut berkecimpung di dalam pekerjaan sebagai public speaker. Namun, hanya suka berbicara saja belum tentu menarik mata para audience untuk terus mendengar kata demi kata yang terucap. Berbicara di depan umum menjadi masalah jika dilakukan seseorang dalam keadaan terpaksa dan baru pertama kalinya. Tentunya ada teknik untuk bisa menarik mata dan telinga peserta agar terus memerhatikan. Kekuatan suara juga memiliki peran penting sebelum ingin menarik perhatian audience.

Read More

Hilbram Dunar selaku TV host, penyiar, penulis dan seorang pembicara berbagi beberapa rahasia kelihaiannya dalam bertutur kata di atas panggung dihadapan banyak orang. Seperti yang kita ketahui, berbicara dan menarik perhatian orang untuk didengar merupakan hal biasa dan tidak sulit bagi Hilbram Dunar selaku tokoh publik yang berkecimpung di dunia entertain.

Loud and clear, atau kuat dan jelas, bagaimana cara melakukannya? Semua tergantung dari kepercayaan diri. Dengan senyum yang tak putus saat berbicara serta keramahan tatapan matanya, Hilbram Dunar menjelaskan penjelasan kepada tim Cerita Medan sehabis memberikan materi di Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. “Kalau kita ingin banget Loud and Clear bicara pastikan kita confidence, semakin orang yakin, dia semakin berani untuk mengeluarkan suara. Jadi kalau orang senpsikologisnya ragu, takut, walaupun dia tau harus ngomong apa, namun begitu dia keluar, dia pasti menngambil nada rendah dulu volumenya. Jadi begitu kita sudah yakin, atau memang sok tahu, begitu bicara, biasanya suaranya lebih powerfull,” ujar Hilbram Dunar.

Tidak hanya berlaku pada pembicara di atas panggung namun hal tersebut juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari, ketika tidak yakin dalam mengatakan sesuatu, volume suara akan terdengan sangat rendah dan sebaliknya. “Ada tekniknya, supaya bisa punya suara yang bertenaga, ngomongnya pakai diafragma, dan itu ada latihannya sebenernya. Jadi kita tidak cuma ngomong teriak yang jatuhnya malah berisik. Menyebabkan suara kita terdengar lebih jelas,” jelas Hilbram.

Memang sangat susah untuk memikat para audience, namun tidak sulit bagi Hilbram Dunar. Hanya dalam 5 menit diawal penampilannya di atas panggung, Hilbram sudah mampu memecah keheningan dan berhasil menangkap hati semua audience. Dalam hal ini, yang perlu dipertanyakan bagaimana itu bisa terjadi dan bagaimana melakukannya.

Lain halnya agar memiliki suara yang bertenaga, kali ini hal utamanya adalah di 5 menit pertama. “Namanya the first five minues, kalau kita sebagai public speaker bisa menaklukkan audience di lima menit pertama biasanya lebih lancar. Tapi kalau di awalnya ngomongnya sudah terbata-bata, ragu, biasanya audience malah malas untuk melihat. Jadi di lima menit pertama supaya bisa memikat audience, make no mistake! Usahain jangan ada salahnya, ngomongnya jangan belibet, suaranya kedengeran, ada senyumnya, jelas dan percaya diri. Jadi secara tidak langsung penonton akan merasa lebih nyaman mendengar tanpa ada paksaan dan jelas maksudnya. Generasi zaman sekarang generasi instan yang mudah bosan jika tidak menarik langsung ganti, jadi kalau di lima menit pertama penonton sudah merasa dipaksakan mendengar, seterusnya mereka akan bosan,” kata Hilbram.

Saat Hilbram Dunar memeberikan materi, tepuk tangan para penonton bahkan bertahan hingga saat terakhir, terlihat kesenangan di wajah penonton, tentu hal tersebut perlu ditanyakan. Bagaimana cara mempertahankan tepuk tangan penonton sampai di saat-saat terakhir? Hal ini juga dikatakan sulit, karena kendala yang sering terjadi adalah pembicara sudah kehabisan cara.

“Jadi teorinya dalam public speaking itu, grafiknya naik-turun, tapi di saat terakhir harus naik nggak boleh turun. Secara tidak langsung para penonton diajak bermain secara psikologi, jadi audience tidak capek dan merasa bosan tapi menikmati suasana. Dan yang paling berkesan adalah di saat terakhir, karena orang tidak akan mengingat apa yang kita katakan namun orang akan mengingat apa yang dirasakannya. Maka dari itu, di saat terakhir, pastikan audience merasa senang,” tambah Hilbram.

Sedikit tambahan dari Hilbram Dunar yang tak kalah pentingnya adalah, pembicara harus memerhatikan pembicara sebelumnya. “Jadi kalau materi pembicara sebelumnya, misalnya tentang yoga, kita harus mengikuti materi tersebut dulu, jangan naik ke panggung tiba-tiba langsung dengan suara lantang dan bersemangat,” tutup Hilbram Dunar di akhir sesi wawancara dengan tim Cerita Medan.***(CM-04/Chairunnisa)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *