IBX5A49C9BC313D6 Cahaya Cinta Pesantren, Film Nasional Kearifan Lokal Kota Medan - Cerita Medan

Cahaya Cinta Pesantren, Film Nasional Kearifan Lokal Kota Medan

 

Cahaya Cinta Pesantren, Film Nasional Kearifan Lokal Kota Medan

Para pemeran Cahaya Cinta Pesantren hadir di Medan dalam rangka mempromosikan film religi ala anak pesantren di Medan bersama komunitas Hijabers Medan di Cafe Potret, Jalan K. H. Wahid Hasyim, Medan. Film yang akan tayang pada tanggal 12 Januari 2017 tersebut ternyata diterima baik oleh masyarakat Sumatera Utara, terlebih lagi, karena film ini memang mengangkat kearifan lokal Medan. Banyak sekali, lokasi heritage Medan yang dijadikan sebagai lokasi syuting dalam pembuatan film Cahaya Cinta Pesantren yang sekaligus mempromosikan lokasi tersebut sebagai lokasi wisata di Medan.

Sebelumnya, para crew Cahaya Cinta Pesantren sudah melakukan roadshow ke beberapa lokasi di Medan. Antusias masyarakat ternyata sangat besar terhadap film Cahaya Cinta Pesantren. Film yang tidak melulu soal cinta namun merangkup semua persoalan hidup, terutama keluarga dan persahabatan. Dua hal tersebut ternyata dikatakan oleh penikmat film CCP sangat menguras kesedihan. Masyarakat seolah diajak membayangkan alur cerita film merupakan kejadian nyata mereka.

Film garapan Ustadz Yusuf Mansur ini dikategorikan sebagai film religi namun ternyata ternyata tidak begitu menonjolkan sisi islami kehidupan pesantren, film ini malah banyak mengangkat hiruk pikuk anak pesantren. Sehingga, banyak masyakarat non muslim yang menonton premiere Cahaya Cinta Pesantren. “Saya suka alur cerita film Cahaya Cinta Pesantren, karena tidak begitu membuat jarak terhadap agama lainnya. Jadi agama non muslim juga nggak masalah untuk nonton film ini. Kita kan di Indonesia bukan cuma Islam, jangan samapai hanya karena film memecahkan bangsa, makanya aku suka, seperti kontroversi yang sedang marak di Indonesia, lah” ujar Yuki.

Seluruh pemeran inti film Cahaya Cinta Pesantren termasuk juga Raymon Handaya, pria yang menyutradarai film ini menghadiri rangkaian roadshownya di Medan. “Harapan kami, semoga film ini bisa diterima di masyarakat Sumatera Utara dan Indonesia karena seluruh pemeran sudah berusaha keras untuk menyesuakan perannya,” kata Raymon selaku sutradara.

Film ini pun ternyata banyak membawa pengaruh positif pada artis pemerannya, mereka mengaku banyak makna dari film Cahaya Cinta Pesantren. Bukan hanya cahaya cinta kepada kekasih, sahabat, orangtua namun juga cahaya cinta kepada Allah.

“Film Cahaya Cinta Pesantren sebenernya sangat berdampak sekali untuk saya, karena lama-kelamaan saya paham sendiri, gimana cara pakai jilbab, bahan yang nyaman buat jilbab,” tutur Yuki Kato.

“Kesulitan saat proses syuting itu  dalam bahasa, karena notabene kami semua adalah orang Jakarta, susah banget untuk mengubah logat. Saya harus berlogat Batak yang lain ada Padang, Melayu,” ungkap Yuki yang berperan sebagai Marsila Silalahi.

“Kami benar-benar dijadwalkan persis seperti kegiatan anak pesantren di Ar-Raudatul Hassanah, tantangan banget. Soalnya belum pernah masuk pesantren. Kita benar-benar belajar apa namanya itu disiplin, tepat waktu, menghargai terus dari sisi religinya kita bangun pagi untuk shalat. Sisi positif yang paling utamanya sih disiplin waktu, semuanya terjadwal,” ujar Febby Blink.

Bukan tidak mungkin, berawal dari film ini, seluruh pemeran Cahaya Cinta Pesantren akan berkelanjutan untuk mengenakan hijab. “Ya, do’akan saja agar ke depannya kami bisa menggunakan hijab,” tutur Febby Blink. Sesuai dengan ceritanya, Cahaya Cinta Pesantren hadir bersama komunitas Medan yakni Hijabers Medan yang merupakan kumpulan hijabers di Medan. Tidak jauh dari hijab, seluruh pemeran film Cahaya Cinta Pesantren begitu cantik mengenakkan hijab di setiap roadshownya. Walaupun tidak terbiasa mereka mengaku berusaha untuk mendalami peran sebagai anak pesantren.***(CM-04/Chairunnisa)

KOMENTAR

BACA JUGA