7 Bahasa Tubuh yang Harus Dihindari Saat Wawancara Kerja

  • Whatsapp

7 Bahasa Tubuh yang Harus Dihindari Saat Wawancara Kerja

Bahasa tubuh merupakan bahasa yang mudah dipahami oleh sebagian besar orang tanpa mencermati perkataan yang diucapkan. Seringkali, bahasa tubuh seseorang juga dijadikan penilaian dalam melakukan sebuah proses interview. Tak jarang, beberapa orang yang memiliki kemampuan akademis ataupun wawasan yang luas namun jika bahasa tubuhnya dirasa tidak pas dan tidak mendukung, pelamar ini pun akan gugur dalam proses seleksi. Untuk menghindari kejadian seperti ini, kamu perlu tahu bahasa tubuh apa saja yang menjadi penilaian negatif sang interviewer terhadap kamu agar interview kamu akan berjalan mulus. Apa saja? Berikut akan kami rangkum untuk kamu.

Berjabat Tangan Terlalu Lemah atau Mencengkeram Keras

Saat berjabat tangan, jangan sampai jabatannya terlalu lemah atau mencengkeram keras. Hal ini akan dinilai oleh pewawancara bahwa kamu adalah orang yang kurang percaya diri. Usahakan lap dulu tanganmu sebelum memasuki ruangan, telapak tangan yang berkeringat akan dianggap sebagai kegugupan. Kecuali kamu memiliki sindrom telapak tangan yang berkeringat setiap saat, hal ini adalah suatu pengecualian. Kamu bisa meminta maaf dan menjelaskannya di depan pewawancara saat ditanya soal kelainan ini. Jaga postur dudukmu, jangan terlalu menjauh ke belakang ataupun condong ke depan. Disamping tidak sopan, posisi duduk juga sering diartikan sebagai level percaya diri

Kontak Mata adalah Bahasa Tubuh yang Paling Ekspresif

Jangan sia-siakan kesempatanmu meninggalkan kesan baik, dengan menghindari kontak mata atau justru menatap terlalu berlebihan. Sebelum memasuki ruangan wawancara, kamu mungkin sudah mengumpulkan keberanian untuk melakukan kontak mata sebanyak mungkin. Namun kenyataannya, kamu cenderung merasa tidak nyaman melakukan kontak mata dengan seseorang terlalu lama, termasuk saat wawancara kerja. Hal ini menyebabkan kamu terlalu sering berkedip, menatap ke segala arah dan salah tingkah. Caramu melakukan kontak mata yang terlalu lemah seperti ini hanya akan memerlihatkan rasa kurang percaya diri, gugup atau tidak siap. Sebaliknya, melakukan kontak mata berlebihan juga tidak baik karena menciptakan ketidaknyamanan bagi pewawancara. Sebenarnya, hanya cukup melakukan 60 persen kontak mata saja untuk memberi kesan bahwa kamu terlihat antusias. Usahakan jangan hanya menatap mata, cobalah fokuskan tatapan ke daerah segitiga bagian atas wajah yakni antara bagian alis kanan kiri dan hidung. Selain itu cobalah menahan tatapan pewawancara untuk satu hingga dua detik sebelum kamu pergi dari ruangan wawancara, terutama saat berjabat tangan.

Jangan Menyilangkan Tangan di Depan Dada, atau Gerakan Tangan yang Tidak Sinkron

Posisi telapak tangan saat kamu duduk di kursi saat wawancara juga penting untuk diperhatikan. Jika kamu menyilangkan tangan di depan dada, maka mereka akan menganggapmu sedang melakukan perlawanan. Atau mungkin saja ada di antara kamu yang memasukkan telapak tangan ke dalam saku, hal ini menunjukkan sikap tidak bersahabat dan merasa terancam. Kamu bisa mengakalinya dengan cukup menaruh telapak tenganmu di sisi kursi atau ditumpuk manis di atas pangkuan sembari sesekali melakukan gerakan tangan untuk memerkuat pernyataan yang kamu sampaikan. Namun, hindari melakukan gerakan tangan yang berlebihan karena kamu bukan sedang main drama. Ketika kedua tanganmu terbuka, maka kamu akan dirasa lebih dekat dan bersahabat.

Posisi Kaki Dianggap Sebagai Pernyataan Tersirat

Meski posisi kaki tidak terlalu terlihat oleh pewawancara, cobalah untuk memosisikan kaki dengan baik. Buatlah posisi kakimu senyaman mungkin agar tidak mengganggu proses wawancara. Bisa jadi penempatan posisi kakimu belum nyaman dan terlihat baik sehingga membuatmu bergerak-gerak untuk mencari posisi kaki yang nyaman. Posisi kaki yang dianjurkan adalah duduk dengan kaki lurus menyentuh lantai. Usahakan tidak menyilangkan kaki karena terlalu lama bertahan pada posisi ini akan membuatmu kesemutan. Posisi kaki menyentuh lantai bisa membuatmu lebih nyaman dan rileks. Satu hal yang terpenting adalah hindari gerakan menggoyang-goyangkan kaki karena pewawancara bisa menganggap hal ini sebagai bahasa tubuh seseorang yang sedang gugup berat.

Hindari Segala Bentuk Gerakan yang Mengalihkan Perhatian Interviewer

Di samping menganggu, hal ini juga akan menambah kesan gugupmu yang semakin jelas. Banyak orang yang melakukan gerakan-gerakan aneh saat proses wawancara karena terlalu gugup hingga lepas kontrol. Misalnya saja terlalu sering menyentuh bagian wajah, menggigit bibir, memainkan rambut atau menyibak rambut terlalu sering, jari tangan yang mengetuk-ngetuk meja, atau kaki yang bergetar. Bahasa tubuh seperti ini mungkin jarang kamu sadari karena merupakan reaksi spontan saat menghadapi kegugupan dan rasa tidak percaya diri. Ketika pewawancara menyadari posisimu yang secara tidak sengaja mengeluarkan bahasa tubuh semacam ini, mereka akan mencari celah untuk melontarkan pertanyaan menjebak yang mungkin membuat reaksi gugupmu semakin jelas. Kamu perlu menyadari bahwa gestur-gestur ini merupakan salah satu sikap yang paling mudah dibaca bahwa kamu sedang nervous dan berusaha menenangkan diri.

Memasang Wajah Datar dan Sulit Tersenyum Akan Dipandang Negatif

Senyum merupakan sinyal bahwa kamu adalah orang yang terbuka, hangat, penuh percaya diri dan penuh energi. Sebaliknya, kamu dianggap sebagai pemurung jika selalu menunjukkan wajah cemberut. Kamu yang sulit untuk tersenyum dan hanya memasang wajah datar saat proses wawancara, akan dianggap sebagai orang yang kurang bersahabat, pesimis dan tidak menghargai pewawancara. Sebaliknya jika kamu terlalu murah senyum hingga kerap menunjukkan senyuman palsu justru membuatmu terlihat tidak natural. Senyum palsu menciptakan kesan bahwa kamu adalah tipe yang suka berpura-pura, tidak percaya diri dan tidak terbuka. Senyumlah serileks mungkin dan tunjukkan bahwa senyumanmu itu tulus. Tapi jangan tersenyum secara terus menerus juga karena membuatmu terlihat kurang serius dan pecicilan.

Nah, mulai sekarang, kamu harus bisa mengontrol bahasa tubuh saat wawancara. Jangan sampai pewawancara jadi terpecah fokusnya dari melihat potensi dirimu yang sebenarnya hanya karena gerakan tubuhmu yang berlebihan. Semoga berhasil, ya!***(K-02/Adenovina Dalimunthe)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *