Walhi Mengubah Pola Pikir Mahasiswa untuk Peduli Lingkungan

  • Whatsapp

Walhi Mengubah Pola Pikir Mahasiswa untuk Peduli Lingkungan

Dalam acara kerelawanan yang diadakan oleh komunitas Turun Tangan, Jum’at (25/11/2016) Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) yang diwakili oleh Anton mengajak para mahasiswa untuk turun tangan menciptakan inovasi dalam melestarikan lingkungan. Masyarakat khususnya mahasiswa tingkat kepeduliannya sangat rendah terhadap lingkungan sosial di sekitarnya. Tingkat pemahamannya pun akan berbeda jika menjelaskan dihadapan masyarakat tidak berpendidikan dengan yang berpendidikan. “Akan sangat sulit menjelaskan perihal lingkungan kepada masyarakat tidak berpendidikan dengan tingat pengetahuan minim dibanding yang berpendidikan seperti mahasiswa,” ujar Anton. Nantinya mahasiswa-mahasiswa inilah yang diharapkan akan menjadi agen perubahan sosial di Indonesia.

Read More

Walhi sebagai etalase yang bertugas untuk melakukan advokasi kepada masyarakat dan juga pemerintah serta kajian merupakan gerakan organisasi lingkungan hidup terbesar di Indonesia dengan jumlah 483 anggota organisasi di 27 Provinsi. Dengan jumlah anggota organisasi yang begitu banyak Walhi sejak tahun 1980 sampai sekarang sudah secara aktif membangunkan kesadaran masyarakat untuk memulihkan dan menyelamatkan lingkungan hidup di Indonesia yang mulai terdegradasi oleh pembangunan di sektor kehutanan secara berkelanjutan.

Dalam acara Gathering Nasional Turun Tangan 2016 kemarin Anton menjelaskan bahwa, bagaimana kita menjaga, melestarikan dan melindungi apa yang terdapat di kawasan kita, misalnya hewan-hewan, masyarakat dan juga hutan itu sendiri, selama ini kita tau bahwa, kepedulian masyarakat itu sangat sedikit khususnya mahasiswa dan Turun Tangan berkonsen bagaimana bisa merubah volunteer-volunteer Turun Tangan ini sebagai agen perubahan.

“Di dalam bukunya DR. Renald Kasali, dia bilang bahwa kalau Anda ingn berubah, yang paling sederhana adalah merubah pola pikir. Jadi disini saya menyatakan bahwa bagaimana kita bisa merubah pola pikir kita dan ketika kita sudah bisa merubah pola pikir tentu kita akan bisa merubah tindakan kita, apakah kita menjadi peduli atau menjadi apatis,” tutur Anton.

“Anda sebagai seorang mahasiswa, ilmu yang akan Anda pergunakan nantinya saat Anda selesai kuliah akankah menjadi alat penindasan atau malah menjadi alat pembelaan, itu merupakan suatu kontradiktif yang selalu terjadi dimasyarakat bahwa kita punya ilmu, kemampuan dan pengetahuan namun ilmu tersebut tidak bisa kita aplikasikan di masyarakat terlebih lagi kepada lingkungan sosial, itu sama aja seperti kita tidak berilmu, lebih baik menuntut ilmu dari masyarakat karena di dalam lingkungan masyarakat terdapat gudang ilmu,” tambah Anton.

Di meja politik ketika Anda masuk dalam politik, Anda akan menjadi penentu suatu kebijakan disitulah Anda akan punya peran lebih penting lagi sebagai relawan. Nilai kerelawanan pun akan lebih dihargai dan peran kerelawanan anda akan memiliki nilai tambah dan diakui.

“Saya mengajak mahasiswa-mahasiswa ini supaya mereka punya gerakan yang nyata, saya bilang bahwa kita tidak bisa hanya diam dalam ruang sosial namun juga ingin mempengaruhi pemerintah, kalau mau mempengaruhi kebijakan pemerintah masuklah ke dalam politik,” tegas Anton.

Sedikit tambahan dari Anton bahwa jangan jadikan ruang komunitas ini sekadar daftar isi ketika kamu masih menjadi mahasiswa yang belum punya pekerjaan, ketika sudah selesai kuliah dan pergi mencari kerja, kerelawanan akan terlupakan maknanya. Menjaga dan melestarikan lingkungan hidup bukanlah menjadi tugas pemerintah serta orang-orang yang tergabung dalam organisasi saja. Masyarakat umum juga berperan penting dalam mengawasi jalannya pembangunan yang mendegradasikan lingkungan hidup.***(CM-04/Chairunnisa)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *