Sisingamangaraja XII, Pahlawan Panutan Pemuda Sumatera Utara

  • Whatsapp

sisingamangaraja

Sisingamangaraja XII, terlahir dengan nama Patuan Bosar Ompu Boru Situmorang sebagai anak bangsawan. Sisingamangaraja XII sangat terkenal di Pulau Toba. Nama dan kisahnya terkenal sangat keras dan tegas dalam memimpin rakyat serta melepaskan Sumatera Utara dari belenggu penjajahan Belanda. Tokoh satu ini merupakan tokoh pejuang asal Negeri Toba. Selain dicintai oleh rakyatnya, Sisingamangaraja XII juga tokoh yang bertanggung jawab terhadap tugas yang diembannya sebagai raja yakni mengayomi rakyatnya. Itu semua terbukti dengan perjuangannya sampai menumpahkan banyak darah melawan kolonial Belanda sehingga berakhir dengan peregangan nyawa. Pembelaannya itu semata-mata dilakukan demi bangsa. Sisingamangaraja XII merupakan tokoh pahlawan yang sangat membanggakan warga Medan. Tidak akan ada tokoh lainya yang bisa menggantikan posisinya sebagai pahlawan tanpa jasa wilayah Sumatera Utara.

Read More

Pada tahun 1867, ayahnya meninggal akibat penyakit kolera. Kemudian, ia diangkat menggantikan ayahnya menjadi raja dengan bergelar Sisingamangaraja XII.  Pada awal masa pemerintahannya, kegiatan pengembangan agama yang dipimpin oleh Nommensen dari Jerman sedang berlangsung di Tapanuli. Belanda ikut masuk dengan berlindung dibalik kegiatan tersebut. Namun, lambat laun Belanda mulai menunjukkan maksud tidak baik dan bermaksud ingin menguasai wilayah kekuasaan Sisingamangaraja XII.  Panas dengan perlakuan Belanda, Sisingamangaraja XII kemudian mengadakan musyawarah bersama raja-raja dan panglima daerah Humbang, Toba, Samosir, dan Pakpak. Kemudian, ketegangan antara Belanda dan Sisingamangaraja meningkat hingga menimbulkan konflik. Upaya jalan damai sudah tidak dapat lagi ditempuh, baku tembak pun terjadi.

Sisingamangaraja XII bersama rakyat Tapanuli mulai melancarkan serangan terhadap pos pasukan Belanda di Bahal Batu, dekat Tarutung pada 19 Februari 1878. Pasukan Belanda yang dilengkapi dengan peralatan canggih militer tentunya membuat pertempuran yang tak seimbang. Sisingamangaraja beserta pasukannya kalah dan terpaksa mundur dari Bahal Batu. Namun, perlawanan pasukan Sisingamangaraja masih tetap tinggi, terutama di desa-desa yang belum tunduk pada Belanda, seperti Butar, Lobu Siregar, Tangga Bantu, dan Balige. Sebaliknya, Belanda semakin gencar mengejar Sisingamangaraja XII sampai ke desa-desa dan melakukan pembakaran serta menawan raja-raja desa. Akibatnya pertempuran meluas hingga ke beberapa daerah seperti Sipintu-pintu, Tangga  Batu, Balige, dan Bakkara. Namun, Sisingamangaraja tetap gigih melakukan perang gerilya.

Keteguhan hati Sisingamangaraja untuk menembus pertahanan Belanda akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 1884, kekuatan Belanda di Tangga Batu berhasil dilumpuhkan. Berbagai cara licik pun dilakukan oleh Belanda. Belanda melakukan upaya pendekatan dan menawarkan penobatan Sisingamangaraja sebagai Sultan Batak dengan berbagai hak istimewa. Namun, beliau menolaknya dengan tegas. Pada tahun 1904, Belanda melakukan pengepungan ketat, dan akhirnya pada 1907 Sisingamangaraja berhasil lolos. Namun, upaya keras Belanda akhirnya membuahkan hasil dengan mengetahui tempat persembunyian Sisingamangaraja di Hutan Simsim. 17 Juni 1907, markas Sisingamangaraja pun dikepung Belanda kembali. Dalam suatu pertempuran jarak dekat, komandan pasukan Belanda kembali memintanya menyerah dan menjanjikan akan menobatkan Sisingamangaraja menjadi Sultan Batak. Namun, Sisingamangaraja tetap melakukan kelicikan sama seperti Belanda. Sisingamangaraja tetap tidak mau tunduk dan memilih lebih baik mati.

Hingga akhirnya terjadilah pertempuran sengit yang menewaskan hampir seluruh keluarga dan pasukan Sisingamangaraja. Akhirnya, Patuan Bosar Ompu Pulo alias Raja Sisingamangaraja XII bersama dua putra dan satu putrinya, serta beberapa panglimanya yang berasal dari Aceh gugur sebagai kusuma bangsa.

Selain terkenal sebagai Pahlawan Nasional, Sisingamangaraja juga memiliki riwayat kepemelukan agama yang hingga kini masih kontroversi. Muncul beberapa isu yang menyatakan bahwa Singamangaraja XII telah memeluk agama Islam. Beberapa petunjuk yang memperkuat adanya dugaan bahwa ia telah beragama Islam diantaranya ialah beliau tak memakan daging babi, pada panji bendera milik Singamangaraja terdapat beberapa pengaruh Islam seperti gambar matahari dan bulan, dan lainnya. Namun petunjuk tersebut tak serta merta memperkuat peryataan bahwa beliau telah memeluk agama Islam. Beberapa hal yang bisa menjadi sanggahan ialah yang pertama kenyataan bahwa semua raja yang bergelar Sisingamangaraja memang tidak memakan daging babi. Selain itu juga lambang matahari, bulan, dan lain sebagainya hanya identik dengan sebagian besar organisasi Islam, bukan sebagai lambang mutlak agama Islam.

Begitulah kisah seorang Sisingamangaraja XII, terkenal tegas, keras bahkan memiliki strategi perang yang kritis. Hal ini sangat erat dan identik terhadap pandangan orang mengenai Medan yang keras. Sisingamangaraja yang menjadi salah satu dari Pejuang Sumatera Utara dan mungkin akan ada banyak pejuang muda selanjutnya dari generasi Milenium. Semoga kisah Sisingamngaraja dapat menginspirasi dan memotivasi pemuda Kota Medan, dan pemuda Indonesia lainnya. Di era sekarang, walaupun tidak ada perang seperti zaman dahulu, namun tetap bisa menjadikan kita sebagai pahlawan. Caranya dengan mengembangkan bakat dan kreativitas kita untuk Indonesia. Semoga pemuda Kota Medan terus menginspirasi, ya.***(CM-04/Chairunnisa)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *