Mari Kenali Pahlawan Asal Sumatera Utara

  • Whatsapp
Pahlawan Asal Sumatera Utara
Pahlawan Asal Sumatera Utara

Pahlawan merupakan gelar yang diberikan kepada Warga Negara Indonesia atau seseorang yang telah berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka gugur/ meninggal dunia demi membela bangsa dan negara yang juga semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi/ karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia. Berbicara soal kepahlawanan, sebagian besar dari orang-orang akan langsung terlintas kata penjajahan zaman dahulu. Pernahkah kamu membayangkan apa yang terjadi ketika tak ada satu pun orang yang berbuat aksi heroik dalam membela bangsa untuk merebutnya dari penjajah? Tentu tidak akan berdiri negara yang kita huni sekarang ini.

Kini, sosok Pahlawan Nasional selalu dikenang dalam bentuk seremonial dalam bentuk upacara di sekolah ataupun di Hari Besar Nasional, dan disatukan bukti–bukti perjuangannya dalam Museum Negeri. Di zaman modern ini, baiknya kita sabagai warga Negara mengenang jasa pahlawan tersebut dengan jalan yang lebih baik, salah satunya adalah memiliki semangat dan berperan penting untuk kemajuan bangsa dan Negara. Karena menjadi pahlawan di era sekarang ini bukan lagi hanya sebatas penjajahan. Tahukah kamu siapa saja pahlawan yang berasal dari daerah Sumatera Utara? Dimana mereka telah berjasa untuk wilayah kita tercinta. Berikut kami rangkum untuk kamu.

Read More

 

Kiras Bangun

Lahir               : Batu Karang, Payung, Karo, 1852

Wafat              : Batu­karang, Payung, Karo, 22 Oktober 1942

Penetapan      : Keppres No. 82/TK/2005 tanggal 7 November 2005

Beliau adalah seorang ulama dari Tanah Karo yang menggalang pasukan lintas agama di Sumatera Utara dan Aceh untuk menentang penjajahan Belanda. Pasukan yang disebut pasukan Urung tersebut beberapa kali terlibat pertempuran terbuka maupun gerilya dengan Belanda di Karo. Kiras pernah dibuang ke Cipinang bersama kedua anaknya antara tahun 1919-1926.

 

Abdul Haris Nasution

Lahir                : Kotanopan, Mandailing Natal, 3 Desember 1918

Wafat              : Jakarta, 6 September 2000

Penetapan        : Keppres No. 73/TK/2002 tanggal 6 November 2002

A.H. Nasution adalah satu dari tiga Jenderal Besar di Indonesia selain Jendral Sudirman dan mantan presiden Jendral Soeharto. Beliau merupakan salah satu tokoh yang menjadi sasaran dalam peristiwa Gerakan 30 September, namun yang menjadi korban adalah putrinya Ade Irma Suryani dan ajudannya, Lettu Pierre Tendean. Pada saat itu, beliau menjabat sebagai Menteri Pertahanan RI. A.H. Nasution juga pernah diangkat menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Sebagai seorang pakar militer, A.H. Nasution sangat dikenal sebagai ahli perang gerilya. Gagasan perang gerilya dituangkan dalam bukunya yang fenomenal, Fundamentals of Guerrilla Warfare. Selain diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, karya itu menjadi buku wajib akademi militer di sejumlah Negara, termasuk sekolah elit militer dunia, West Point Amerika Serikat. Jejak perjuangan beliau diabadikan dalam Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR A.H. Nasution di Jalan Teuku Umar No. 40, Jakarta.

 

Djamin Ginting

Lahir    : Suka, Karo, 12 Januari 1921

Wafat  : Ottawa, Kanada, 23 Oktober 1974

Djamin Ginting awalnya bergabung dengan satuan militer Jepang. Djamin Ginting diangkat sebagai komandan pada pasukan bentukan Jepang itu. Pernah menjadi Panglima Kodam Bukit Barisan dan Duta Besar Indonesia untuk Kanada. Djamin Ginting diabadikan menjadi nama jalan di Medan, Sumatera Utara.

 

H. Adam Malik

Lahir                :  Pematangsiantar, 22 Juli 1917

Wafat              : Bandung, 5 September1984

Penetapan        :  Keppres Nomor 107/TK/1998 tanggal 6 November 1998

Adam Malik adalah Wakil Presiden Indonesia yang ketiga. Pernah menjabat sebagai Menteri Indonesia pada beberapa Departemen, antara lain Departemen Luar Negeri dan Departemen Perdagangan. Ia juga pernah menjadi ketua DPR tahun 1977 – 1978. Sebagai Menteri Luar Negeri, pada tahun 1971  ia terpilih sebagai orang Indonesia pertama yang menjadi Ketua Majelis Umum PBB ke-26. Bersama Menteri Luar Negeri negara-negara ASEAN, Adam Malik memelopori terbentuknya ASEAN tahun 1967. Untuk mengenang perjuangan beliau, dibangun sebuah Museum di Jalan Diponegoro No. 29 Jakarta.

 

Raja Sisingamangaraja XII

Lahir                : Bakkara, Humbang Hasundutan, 18 Februari 1845

Wafat              : Dairi, 17 Juni 1907

Penetapan        : Keppres No. 590 Tahun 1961 tanggal 9 November 1961

Pemimpin legendaris masyarakat Batak bermarga Sinambela ini mempunyai gelar Patuan Bosar Ompu Pulo Batu. Beliau naik tahta pada tahun 1876 menggantikan ayahnya Raja Sisingamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon. Penobatannya sebagai raja ke-12 bersamaan dengan masuknya Belanda ke Sumatera Utara. Disini Belanda berusaha menanamkan monopoli atas perdagangan di Bakkara. Hal ini memicu Perang Batak yang dipimpin oleh Sisingamangaraja XII hingga puluhan tahun lamanya. Setelah Bakkara dikuasai Belanda, beliau masih memimpin perang gerilya sampai akhirnya beliau gugur ditembak Belanda di Dairi beserta ketiga putra-putrinya. Belanda memakamkannya di Tarutung, Tapanuli Utara. Namun, pada tahun 1953 makamnya dipindah ke Balige atas inisiatif presiden Sukarno karena perjuangannya melawan Belanda dimulai dari Balige.

Semoga jasa para pahlawan dapat kita balas dengan meningkatkan kreativitas kita dalam memajukan Sumatera Utara dan Indonesia. Karena, menjadi pahlawan tidak hanya melalui jalan perang.***(K-02/Adenovina Dalimunthe)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *