IBX5A49C9BC313D6 Helvy Tiana Rosa, Penulis Best Seller Asal Medan - Cerita Medan

Helvy Tiana Rosa, Penulis Best Seller Asal Medan

Helvy Tiana Rosa, Penulis Best Seller Asal Medan

Helvy Tiana Rosa merupakan novelis kelahiran Medan, 2 April 1970 tepatnya di Medan Helvetia. Inilah yang menjadi latar belakang mengapa beliau diberi nama Helvy yang merujuk dari tempat beliau dilahirkan. Helvy Tiana Rosa merupakan anak pertama dari tiga bersaudara yang berasal dari pasangan Amin Usman atau yang lebih dikenal dengan nama Amin Ivo’s, seorang pencipta lagu asal Aceh dan Maria Arifin, seorang wanita yang berdarah Cina. Helvy Tiana Rosa merupakan wanita asli Kota Medan yang kemudian hijrah ke Jakarta saat umurnya menginjak usia 4 tahun. Helvy Tiana Rosa adalah kakak dari novelis ternama, Asma Nadia. Beliau memaparkan bahwa kata Rosa yang ada pada namanya itu diambil karena ibunda dari Helvy sangat menyukai bunga mawar sehingga beliau diberi nama Rosa. Helvy Tiana Rosa, seorang penulis novel berjudul “Ketika Mas Gagah Pergi”, yang saat ini menjadi novel best seller di kalangan pemuda.  Sebab novel ini yang mengantarkan beliau menjadi penulis sekaligus produser dalam film yang berjudul sama dengan novel yang ditulisnya.

Sejak kecil, Helvy sudah sangat tertarik dalam bidang kesusastraan. Sejak kecil beliau selalu berusaha membuat tulisan yang layak untuk dipublikasikan di media masa. Helvy selalu mengasah kemampuannya dalam bidang literasi. Jadi, tidak heran jika darah literasi itu terus tumbuh mengakar dan melekat pada diri Helvy Tiana Rosa hingga kini. Helvy Tiana Rosa menyelesaikan pendidikan Strata-1 (S1) dan S2 di Fakultas Sastra/ Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, Jakarta. Selain terkenal sebagai penulis, Helvy Tiana Rosa juga terjun sebagai Dosen di Fakultas Bahasa dan Seni UNJ. Dan saat ini, Helvy Tiana Rosa sedang mempelajari tentang ilmu menjadi sutradara yang baik.

Helvy Tiana Rosa telah menulis lebih dari 50 buku yang menjadi best seller di antaranya Ketika Mas Gagah Pergi (1992), Tanah Perempuan (2009), dan Mata Ketiga Cinta (2012). Berkat tulisannya, Helvy Tiana Rosa sering diundang untuk menghadiri berbagai acara baik di luar maupun di dalam negeri, seperti Malaysia, Hongkong, Singapura dan masih banyak negara lainnya.

Helvy, penulis yang mempunyai segudang prestasi yang patut diacungi jempol. Helvy pernah mendapatkan 40 penghargaan tingkat nasional dalam bidang penulisan dan pemberdayaan masyarakat, antara lain sebagai Tokoh Sastra dari Balai Pustaka dan Majalah Horison (2013), Ummi Award (2004), Nova Award (2004), Kartini Award sebagai salah satu The Most Inspiring Women in Indonesia (2009), Muslimah Teladan Majalah Alia (2006), 33 Tokoh Sastra yang Paling Berpengaruh di Dunia, 5000 Orang Tokoh Muslim Berpengaruh di Indonesia dari Lembaga di Yordania, dan masih banyak lagi penghargaan yang telah diperoleh oleh Helvy Tiana Rosa selama beliau terjun dalam dunia literasi.

Cerpennya yang berjudul “Jaring-Jaring Merah” menjadi salah satu cerpen terbaik pada Majalah Sastra Horison dalam satu dekade (1990-2000). Selain itu, karyanya yang ketiga dengan judul “Mata Ketiga Cinta” juga terpilih sebagai buku puisi terfavorit Anugerah Pembaca Indonesia dari Good Read Indonesia, 2012.  

Novel dan film yang sedang hits saat ini yang ditulis oleh Helvy merupakan hasil tulisan yang dilatarbelakangi dari tugas yang diberikan dosen kepada beliau. Tekad yang bulat untuk menyelesaikan tugas dari dosen membuatnya menjadi penulis novel yang terkenal serta membawanya menuju dunia kesuksesan yang nyata. Impian masa kecilnya untuk menjadi penulis terkenal kini telah terlihat di depan mata yang kini menghantarkannya menjadi orang yang dikenal sebagai motivator yang mempunyai segudang prestasi dan penghargaan yang tak main-main.

Saat ini, Helvy Tiana Rosa tengah menyelesaikan disertasinya. Tekad, latihan dan wawasanlah yang menjadi modal utama untuk menjadi penulis. Ketiga hal ini harus sinkron dan selaras agar dapat memperoleh hasil yang memuaskan dan menuntun menuju gerbang kesuksesan. Siapa sangaka novel dan film “Ketika Mas Gagah Pergi” itu berawal dari tugas kuliah dari seorang doesen pada tahun 1992. Karena niat yang sungguh-sungguh dari Helvy Tiana Rosa, novel inilah yang membawanya menjadi terkenal seperti saat ini.

“Harapannya semakin banyak orang yang membaca dan menulis supaya tingkat peradaban kita makin tinggi. Menulis menjadi budaya. Setelah saya mendalami dunia buku bernuansa Islami, saat ini saya tengah mencoba membuat film yang bernuansa Islami. Nah, ternyata film yang bernuansa Islami itu belum mendapatkan respon yang banyak bagi umat muslim saat ini. Makanya saya minta dukungan sastra film Islam bukan hanya buku Islam. Caranya dengan menonton film bernuansa Islam pada hari pertama tayang di bioskop. Nah, film edukasi Duka Sedalam Cinta akan tayang pada bulan Januari,” ujar Helvy Tiana Rosa.***(CM-05/Dwi Andriani Lestari)

KOMENTAR

BACA JUGA