Cahaya Cinta Pesantren, Film Layar Lebar Kearifan Lokal Kota Medan

  • Whatsapp

Cahaya Cinta Pesantren, Film Layar Lebar Kearifan Lokal Kota Medan

Ira Madanisa Br. Tarigan S. Pd, M. Si, adalah seorang istri sekaligus berkarir sebagai seorang pengajar di Pondok Pesantren Ar-Raudatul Hasanah, Medan. Wanita yang memiliki nama pena Ira Madan ini merupakan sosok wanita berprestasi asal Kota Medan yang sudah membanggakan Kota Medan melalui karya novelnya yang berjudul Cahaya Cinta Pesantren.

Read More

Tahun 2010 naskah sudah pernah diterima di salah satu penerbit di Solo yaitu Era Inter Media namun karena prosesnya panjang dan sangat lama naskah kemudian ditarik oleh Ira. Di tahun 2013 akhirnya diterbitkan oleh penerbit Tiga Serangkai, Kota Solo yang berbasis percetakan pada buku pelajaran. Cukup lama, Ira harus menunggu selama 3 bulan hingga akhirnya novel Cahaya Cinta Pesantren mendapatkan jawaban oleh editor penerbit. Buku mulai dipasarkan di seluruh toko-toko Gramedia di Indonesia dengan harga Rp. 45.000,-/ buku.

Hingga akhirnya, novel karya Ira Madan dijumpakan dengan salah seorang sutradara untuk diangkat ke layar lebar. Novel yang ditulis sejak tahun 2010 menarik salah seorang sutradara Ibukota, Raymond Handaya. Raymond saat itu sedang melakukan observasi novel-novel yang kemudian akan difilmkan ke layar lebar, sutradara ini akhirnya menjatuhkan pilihannya pada novel Cahaya Cinta Pesantren karya Ira Madan. “Alhamdulillah, novel saya yang diangkat ke layar lebar oleh Bapak Raymond Handaya selaku sutradara dan ingin bekerja sama dengan Ustadz Yusuf Mansur,” ujar Ira Madan. Cahaya Cinta Pesantren akhirnya mengadakan shooting dan diperankan oleh artis-artis ternama di antaranya Yuki Kato, Wirda Mansur, Febby Blink, Sivia Blink, Vebby Palwita, Fachri Muhammad, Rizky Febrian dan artis lainnya. Proses shooting sudah berlangsung sekitar bulan Februari lalu selama kurang lebih 40 hari.

Tidak berjalan mulus seperti yang diinginkan, novel ini sempat mengalami masa sulit dalam penayangannya di layar kaca nasional. Pasalnya dibutuhkan proses administrasi yang panjang dan cukup lama hingga akhirnya film Cahaya Cintra Pesantren ditayangkan di awal tahun 2017. “Kalau masalah tayangnya, kita mengharap doa warga Medan dan kota lainnya, karena pihak Cinema 21 masih mempertimbangkan dan masih ada proses administrasi dan sebagainya,” tutur Ira.

Novel ini berkisah cerita seorang gadis yang bernama Marsila Silalahi yang awalnya tidak mau masuk pesantren namun diyakinkan oleh ibu dan ayahnya hingga akhirnya menempuh pendidikan di pesantren. Di pesantren, Marsila kemudian berjumpa dengan 4 orang teman seusianya dan dia menemukan hal-hal baru yang belum pernah ditemukannya yakni, persahabatan, perjuangan dan pengabdian kepada orang tua. Lokasi shooting yang sengaja diangkat dari Pondok Pesantren Ar-Raudatul Hasanah, Medan Selayang menjadi kebanggaan bagi warga Medan. Tentu hal ini menjadi nilai kearifan lokal tersendiri bagi para pemain film dan warga Medan.

Cahaya Cinta Pesantren, Film Layar Lebar Kearifan Lokal Kota Medan

Awalnya, menulis hanyalah sekadar hobi Ira yang dilakukannya sejak kecil dan berlanjut hingga menempuh pendidikan di Pesantren Ar-Raudatul Hasanah. Keseharian yang Ira jalani saat menempuh pendidikan di pesantren tidak ingin terlewatkan begitu saja tanpa adanya bekas. Bekas yang akan mengingatkannya lagi ketika rindu dengan masa-masa dulu, menulis adalah cara untuk mendokumentasikannya. Menulis seakan sudah ditakdirkan sebagai kesuksesannya, tak pernah Ira kira sebelumnya, novelnya akan mengisi jagat perfilman Indonesia. Bahkan karyanya ini sempat mendapat apresiasi oleh Gubernur Sumatera Utara tahun 2010.

Wanita berdarah asli Karo ini ternyata menyimpan ketertarikannya pada menulis bukan dilandaskan dengan materi yang akan didapatnya dari menulis. Menulis sudah menjadi kebiasaan yang masuk ke dalam daftar kegiatannya sehari-hari. Tutur kata yang lembut dan keramahannya sama sekali tak menggambarkan identitas Karo yang melekat di belakang namanya. Disela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga sebagai seorang istri, mengajar sebagai seorang guru tetap menyisakan ruang kosong untuk hobinya menulis. “Ya, saya tetap akan menulis novel, ada dua novel lagi yang akan saya tulis,” tambah Ira di akhir sesi wawancara oleh tim Cerita Medan.

Bukan hanya dapat mengabadikan momen, menulis jika ditekuni malah akan mendatangan rezeki untuk kita. Jadi, sebagai anak Medan, kita harus ikut nonton Cahaya Cinta Pesantren yang akan tayang awal tahun 2017. Prestasi yang membanggakan dari anak Medan.***(CM-04/ Chairunnisa)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *