Profesi tak Sesuai Gelar, Kenapa Tidak?

  • Whatsapp
Bekerja Tak Sesuai Gelar
Bekerja Tak Sesuai Gelar

 

Mungkin banyak dari kita yang sudah sadar bahwa Indonesia kini dipenuhi oleh orang-orang yang berpendidikan hingga jenjang S1. Menghabiskan uang puluhan jutaan rupiah selama empat tahun lamanya. Namun, mungkin tidak banyak dari kita yang sadar bahwa akhir perjalanan dari orang-orang berpendidikan itu akhirnya terlantar. Ya, terlantar dalam artian tidak mendapatkan pekerjaan sesuai dengan ilmu yang telah diperolehnya di bangku perkuliahan.

Read More

Misalnya saja, job fair banyak sekali digelar di berbagai sudut kota, ratusan hingga ribuan orang antri membentuk deretan panjang ke belakang, berdesak-desakan dengan membawa map berisi curiculum vitae dan surat lamaran pekerjaan tetapi hasilnya nihil. Ya, tidak ada karena lowongan yang diberikan hanya sekian persen dari jumlah yang mengantri sementara kemampuan para pelamar kerja tidak memenuhi kualifikasi yang diinginkan perusahaan-perusahaan tersebut.

Tak jarang, bahkan orang-orang yang berpendidikan keguruan lantas bekerja di supermarket, sebuah pekerjaan yang sebenarnya sangat jauh dari ilmu yang telah ditekuninya. Karenanya sangat beruntung sekali orang-orang yang mengemban studi keguruan dan akhirnya benar-benar menjadi guru. Sayangnya hal itu tidak merata terjadi di negara kita Indonesia, namun kamu tidak perlu khawatir karena sejatinya itu tidak pernah salah, kalaulah kamu sarjana keguruan dan akhirnya menjadi seorang pengusaha? Tidak salah, kamu berhak memilih jalan hidup yang kamu inginkan.

Sebuah kisah menunjukkan tentang hal ini seperti sepasang suami istri yang memiliki sebuah rumah makan sederhana di suatu daerah. Usaha yang mereka buka ini terlihat biasa saja, mulai dari tempat, rasa, variasi atau hal-hal lainnya dengan para pedagang nasi lain, tetapi mengapa rumah makan mereka selalu dipenuhi oleh para pengunjung? Baik itu kalangan mahasiswa, pekerja hingga keluarga. Kalau dibandingkan dengan harga, mungkin masih banyak harga yang lebih murah dengan nasi yang ada di rumah makan tersebut. Jika dibandingkan dengan kenyamanan juga demikian. Lantas apa yang membuat rumah makan tersebut unik sehingga mampu membuat orang mengantri panjang meski hari sedang terik-teriknya di siang hari?

Jawabannya adalah dikarenakan dua orang sepasang suami istri tersebut merupakan seorang sarjana, sang suami adalah sarjana Ilmu Komunikasi dari sebuah kampus ternama dan sang istri merupakan sarjana ekonomi dari kampus yang sama. Pada akhirnya mereka memang memilih untuk membuka sebuah warung sederhana, tidak bekerja seperti apa yang orang-orang pikirkan. Bahkan  begitupun dengan orang tuanya yang mungkin berharap anak-anaknya bisa menjadi seorang wartawan terkenal yang meliput berbagai kasus istimewa dan juga bekerja di kantoran, menjadi ahli dalam bidang ekonomi maupun lainnya. Tetapi pada akhirnya membuka sebuah rumah makan adalah pilihan.

Mengapa demikian? Ternyata sepasang suami istri tersebut memiliki jawaban yang cukup baik bahwa profesi yang melekat di dalam diri mereka bukanlah sebuah keharusan yang menjadikan mereka harus menjadi seseorang yang sesuai dengan gelar yang ia dapat. Pelajaran yang telah diambil selama kuliah nyatanya telah membantu mereka mempromosikan rumah makan sederhana yang dikelola sekarang, yakni ilmu promosi dan marketing sehingga membuat keduanya berhasil menjalankan rumah makan sederhana dengan omset luar biasa perbulannya.

Seperti yang diungkapkan oleh Anang Y. B dalam bukunya yang berjudul “Kerja di Rumah Emang ‘Napa’?” bahwa hidup adalah pilihan, dan sering kali penonton hanya bisa bersorak dari luar gelanggang, mencemooh saat kita salah pilih. Padahal sejatinya tidaklah demikian, sebab tidak ada yang salah selama itu masih positif.

Nah, bagi konkawan Cerita Medan, contoh di atas mungkin sudah bisa membuktikan bahwa tak selamanya kamu harus bekerja pada apa yang kamu tekuni, tetapi bekerjalah pada apa yang kamu sukai. ***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *