Polisi Perempuan, Seorang Sosok Tangguh

  • Whatsapp
Polwan - Foto: www.malasbanget.com
Polwan – Foto: www.malasbanget.com

 

Percaya atau tidak, sebenarnya tidak ada perempuan yang lemah. Buktinya saja perempuan memang kerap kali menangis bahkan ia tak sungkan untuk menangis di depan orang banyak. Tetapi tidak tahukah anda bahwa perempuan adalah sosok yang kuat. Hal ini dapat dilihat dari perjuangannya mengandung dan melahirkan seorang anak. Laki-laki memang tidak menangis dihadapan perempuan, tapi siapa yang tahu bahwa laki-laki juga kerap menangis di belakang, hal itu membuktikan betapa kuatnya seorang perempuan meskipun sampai detik ini masih banyak orang yang menganggap bahwa perempuan adalah sosok yang lemah.

Jika perempuan diberi kesempatan untuk bertukar posisi dengan laki-laki maka belum tentu laki-laki bisa menjalankan tugas setangguh perempuan. Mulai dari mengandung, melahirkan anak, memasak setiap hari, membersihkan rumah bahkan sampai harus melayani suaminya di rumah. Begitu juga dengan perempuan, belum tentu bisa menjadi laki-laki. Untuk itu, apapun ceritanya, laki-laki dan perempuan itu adalah makhluk yang sama dari segi kekuatan maupun kesempatan.

Berbicara tentang kesempatan, ada sesuatu hal yang menarik yakni diberinya kesempatan untuk perempuan menjadi seorang polisi wanita sejak 68 tahun silam. Hal itu diperingati sebagai Hari Polisi Wanita, yakni tanggal 01 September. Ternyata, dulunya sejarah tentang adanya polwan ini berasal dari perempuan-perempuan bersuku Minang di Bukittinggi, Sumatera Barat. Dimana perempuan-perempuan tersebut adalah Mariana Saanin Mufti, Nelly Pauna Situmorang, Rosmalina Pramono, Dahniar Sukotjo, Djasmainar Husein, dan Rosnalia Taher. Enam orang perempuan tangguh inilah yang telah berhasil mencetak sejarah hingga sekarang kita mengenal adanya polisi wanita di Indonesia.

Berawal dari kasus yang sedang marak terjadi ketika itu yakni kasus Militer Belanda II yang mengakibatkan terjadinya pengungsian besar-besaran untuk meninggalkan rumah agar tidak terjadi penyusupan dalam detik-detik peperangan. Masalah tersebutlah yang akhirnya memunculkan ide baru dengan melakukan seleksi untuk mencari enam polisi wanita terbaik melalui tugas dari Pemerintah Indonesia yang menunjuk SPN (Sekolah Polisi Negara) sebagai penyeleksinya. Enam orang polisi wanita tersebut pun akhirnya mulai mengikuti pendidikan Inspektur Polisi di SPN dan setelahnya masing-masing polisi wanita diberi tugas untuk menangani beragam kasus seperti masalah kenakalan anak, remaja hingga kasus perkelahian, bahkan mereka juga mengatasi kasus-kasus berat yang menyerupai tugas polisi pria.

Agresi Militer Belanda cukup menjadi masalah yang serius ketika itu karena para perempuanlah yang paling utama dirugikan. Karenanya hingga sekarang perempuan-perempuan Minang merasa bangga akan sejarah tersebut, apalagi dedikasi tersebut sangat berguna bukan hanya bagi daerah Bukittinggi tetapi bagi daerah di seluruh Indonesia.Meskipun para perempuan di Indonesia menjadi seorang polisi wanita, tetapi tidak dipungkiri bahwa mereka juga berperan serta untuk menjadi ibu rumah tangga ketika mereka di rumah, sebab keduanya sudah menjadi tugas dan kewajiban seorang polisi wanita. Hal itulah yang membuat perempuan terlihat keren ketika menjadi seorang polisi wanita.

Perempuan pada kenyataannya memang tidak banyak mencetak sejarah jika hal tersebut dibandingkan dengan para laki-laki di dunia, namun tidak jarang para perempuan mampu mengeksplor dirinya menjadi lebih baik meskipun ia sudah menikah dan memiliki anak. Seorang perempuan mampu menuntaskan tugasnya dengan sangat baik meskipun banyak tetapi apakah laki-laki mampu untuk demikian? Jawabannya hany ada pada diri mereka masing-masing. Karena itu pula lah, dalam agama Islam perempuan itu sangat dimuliakan apalagi jika ia sudah menjadi seorang ibu. Selamat Hari Polwan. ***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *