IBX5A49C9BC313D6 Dompet Dhuafa Waspada Wujudkan Aksi Nyata untuk Indonesia Berintegritas - Cerita Medan

Dompet Dhuafa Waspada Wujudkan Aksi Nyata untuk Indonesia Berintegritas

Aku dan Indonesia Dompet Dhuafa
Aku dan Indonesia Dompet Dhuafa

 

Dompet Dhuafa Waspada melalui keinginan untuk membentang kebaikan kali ini menggelar sebuah acara yang diperuntukkan untuk berbagai komunitas di Kota Medan. Dalam kesempatan tersebut, acara digelar di Aula Radio Republik Indonesia (RRI), Jalan Gatot Subroto No. 214 Medan dan dimulai pukul 14.00 WIB. Beberapa undangan sudah memadati arena, setelah sebelumnya telah digelar acara yang serupa di ruangan tersebut yang diperuntukan untuk guru-guru Sekolah Dasar dan sederajat.

Dompet Dhuafa Waspada sengaja menggelar acara untuk menjalankan sebuah program yang dinamai dengan Aku & Indonesia (Aksi bersama untuk Indonesia Berintegritas). Dalam hal ini, seluruh tamu yang berhadir diajak untuk Bedah Film Rayuan Pulau Palsu dan Temu Komunitas se-Sumatera Utara. Masing-masing komunitas telah mengirimkan dua anggota terbaiknya sehingga ada beberapa komunitas yang turut berhadir seperti Djalaluddin Pane Foundation, Go-River, Apheresis Medan, Blogger Medan, KKSP, Cerita Medan dan banyak lagi lainnya.

Pemutaran FIlm Rayuan Pulau Palsu
Pemutaran FIlm Rayuan Pulau Palsu

 

Manager Dompet Dhuafa yakni Halimah Tusa’diyah mengatakan sebelumnya Dompet Dhuafa telah melangsungkan beragam acara sehari sebelumnya yang diperuntukkan bagi anak-anak sekolah sekaligus training cerdas sosial. Dan kali ini sengaja membuat acara temu komunitas dan berharap ada aksi lanjut setelah acara ini selesai.

Acara dilanjutkan dengan pemutaran Film Rayuan Pulau Palsu, dimana film tersebut membahas tentang reklamasi yang merupakan program pembuatan daratan baru dari dasar laut maupun dasar sungai. Reklamasi menjadikan kawasan yang berair dan lahan tambang yang rusak agar menjadi lebih bermanfaat seperti kawasan pemukiman, perindustrian, bisnis, perkotaan, pertanian, serta objek wisata. Dan yang menjadi lokasi cerita dalam film tersebut adalah salah satu kawasan bernama Muara Angke.

Usai menonton film, Ridwan Affan selaku perwakilan dari Dompet Dhuafa Jakarta mempersilahkan para peserta untuk berdiskusi mengenai film tersebut. Sementara itu, Mahdiyah Ardhina, salah satu peserta dari Blogger Medan mengatakan bahwa dalam film tersebut terdapat ikan lele di dalam air tawar yang berarti ekosistem telah rusak, dan itu menggambarkan lingkungan di Indonesia.

Ridwan juga mengatakan bahwa reklamasi yang terjadi di dalam film tersebut memang tidak sesuai, bukan mengartikan bahwa kita anti dengan pembangunan tetapi pembangunan yang terjadi menggambarkan pembangunan ekonomi yang serakah. Nyatanya film tersebut diungkapkan Ridwan sebagai bentuk kebijakan buruk yang telah meningkatkan kemiskinan struktural hasil dari perselingkuhan pengusaha dan penguasa jahat yang akhirnya menimbulkan sebuah kejahatan pula.

Acara diakhiri dengan diskusi bersama dengan berbagai komunitas yang berhadir, terdapat 14 komunitas yang cukup berpartisipasi dalam acara tersebut. Dompet Dhuafa juga berharap setelah acara ini selesai akan ada aksi nyata yang akan dilakukan bersama oleh komunitas-komunitas yang telah berkumpul, untuk melakukan sebuah perubahan yang lebih baik tentunya. ***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

KOMENTAR

BACA JUGA