BEM Polmed Bantu Desa Jaring Halus Tingkatkan Budaya Literasi Anak

  • Whatsapp
Gerakan Literasi Anak Pesisir
Gerakan Literasi Anak Pesisir

 

Literasi saat ini sangat erat dengan siapa. Tak hanya pada anak namun juga melekat pada tiap masyarakat. Semangat membaca yang kian hari kian menurun harusnya bukan hanya menjadi tugas para pengajar. Karena mendidik adalah tugas bagi setiap orang yang terdidik. Saatini, hampir segala lini membutuhkan kegiatan literasi. Apa jadinya jika kegiatan katakanlah tulis menulis tidak dilanjutkan, maka di tahun-tahun berikutnya tak kan ada lagi kenangan yang dapat dikenang bagi anak cucu di kehidupan selanjutnya.

Read More

Salah satu aspek penentu dalam keberhasilan pembangunan suatu bangsa dapat dilihat dari tingkat keaksaraan penduduknya, dimana tuna aksara merupakan salah satu indikator untuk menetapkan tingkat pembangunan sumber daya manusia. Berdasarkan laporan studi Programme for International 2 Student Assessment (PISA) 2012 peringkat pendidikan Indonesia, terutama di bidang matematika, sains, dan membaca berada pada urutan ke-64 dari 65 negara. Ini menunjukkan bahwa masalah literasi di Indonesia sudah sangat serius. Padahal, membaca adalah satu-satunya cara untuk bisa menjadi lebih baik dalam hal apapun.

Gerakan Budaya Literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berfikir diikuti oleh sebuah proses baca-tulis, yang kemudian mampu memahami, menafsirkan, menciptakan, mengkomunikasikan, dan berhitung melalui materimateri tertulis dan variannya.

Hal ini jelas tampak pada salah satu desa di Sumatera Utara, Desa Jaring Halus. Desa Jaring Halus merupakan desa pesisir yang terletak di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat. Memiliki 5 Buah bangunan Sekolah (2 tingkat PAUD, 2 tingkat SD, dan 1 tingkat SMP/Sederajat) yang banyak memiliki kekurangan prasarana dalam kegiatan belajar mengajar.

Berdasarkan peninjauan langsung melalui kegiatan Politeknik Mengajar dan silaturahmi rutin bersama masyarakat desa, anak menggunakan buku pelajaran hanya jika berada di sekolah, selebihnya mereka tidak dapat menggunakan buku untuk menambah wawasan, melatih kelancaran membaca, dan mengasah intelektual mereka. Bahkan masih terdapat anak usia 9 tahun belum dapat membaca. Tenaga pengajar sebagian besar tidak bertempat tinggal di desa tersebut, membuat proses belajar mengajar tidak efektif. Dalam sehari proses belajar hanya berlangsung 2 – 4 jam.

Minimnya prasarana dan tidak adanya ruang edukasi membuat minat belajar berkurang. Di kantor Desa Jaring Halus terdapat sebuah perpustakaan mini yang memiliki sedikit buku bacaan. Namun, karena anak-anak tidak mendapat bimbingan dan kurangnya fasilitator yang mendampingi mereka, mengakibatkan perpustakaan kurang berfungsi dan terlebih lagi kondisi kantor yang sering tertutup. Keadaan ini membuat anak-anak tidak berminat dengan buku dan menjadikan kegiatan membaca merupakan hal yang membosankan.

Hal inipun sejalan dengan data Desa Jaring Halus Tahun 2015 yang bersumber dari kantor desa bahwa, Penduduk Desa Jaring Halus yang berusia 18 – 56 Tahun, 414 orang mengalami Tuna Aksara. Data ini juga menggambarkan bahwa pendidikan bukanlah suatu hal yang penting bagi masyarakat Desa Jaring Halus. Dari angka 673 anak usia 7 – 15 tahun yang merupakan usia wajib belajar 9 tahun, terdapat 188 anak yang tidak bersekolah.

Jika dilihat dari tenaga kerja berdasarkan latar belakang pendidikan, 332 orang merupakan tamatan SMP, 593 orang tamatan SD dan 237 tidak tamat sekolah dari jumlah 1.651 orang angkatan kerja. Selain itu, terjadi penurunan angka yang cukup memprihatinkan terhadap minat anak untuk terus bersekolah. Pada jenjang SD siswa-siswi berjumlah 527 murid, SMP 200 murid, SMA 23 murid, dan Perguruan Tinggi tidak lebih dari 10 orang. Semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin berkurang jumlah peserta didik. Kesadaran terhadap pentingnya pendidikan harus dibangun melalui hadirnya orang-orang terdidik ditengah-tengah masyarakat agar memperlihatkan efek langsung dari pendidikan.

Untuk itu Badan Eksekutif Mahasiswa  Politeknik Negeri Medan (BEM Polmed) merasa terpanggil untuk membudidayakan gerakan literasi ke Desa Jaring Halus. program “Gerakan Budaya Literasi Anak di Desa Jaring Halus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat” dapat terwujud, sejalan dengan program Nawacita pemerintah.

Ada beberapa hal yang menjadi tujuan BEM Polmed berkeinginan untuk berbagi di Desa Jaring Halus ini. Pertama, mendirikan Pondok Literasi dan menjadikannya sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak. Kedua, meningkatkan akses bahan bacaan yang berkualitas untuk anak. Ketiga, menumbuhkan budaya literasi dengan serangkaian kegiatan berbasis KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi). Keempat, menyadarkan Masyarakat Desa Jaring Halus pentingnya pendidikan. Diakhir, tercipta kelompok masyarakat yang berfokus kepada pendidikan agar kualitas SDM di Desa Jaring Halus, Langkat meningkat. Literasi bukan lagi sebagai tugas bagi sebagian orang, namun literasi sudah menjadi tugas bersama. Daripada liatgadget, lebih baik baca buku. ***(CM/PR)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *