BANGKIT, Film Genre Disaster Pertama Indonesia

  • Whatsapp
Bangkit
Bangkit

 

Sesuai judulnya, film Bangkit ini menunjukkan mulai bangkitnya perfilman Indonesia khususnya film yang menggunakan teknologi CGI (Computer Generated Imaginary) yaitu efek visual yang membuat film tersebut tampak mengagumkan. Dan lewat film ini juga, Indonesia akhirnya menghasilkan film bergenre disaster untuk pertama kalinya.

Read More

Berlatar belakang  tentang  ibukota Jakarta diguyur hujan terus menerus, yang membuat Jakarta terendam banjir. Tanggul Katulampa ambrol, lalu ada badai Laluna yang mengarah dari Australia ke Jakarta. Addri, seorang anggota BASARNAS dan rekannya harus mengadakan tindakan darurat secepatnya. Addri menyelamatkan satu orang korban yang hidup, Arifin, pegawai BMKG yang yang ingin menyebarluaskan data soal cuaca yang dimilikinya. Dalam situasi yang serba panik seperti itu, baik Addri maupun Arifin berupaya keras menyelamatkan kota Jakarta, beserta orang-orang yang mereka sayangi.

Film Indonesia Bangkit
Film Indonesia Bangkit

 

Film garapan Rako Prijanto ini menampilkan efek CGI(Computer Generated Imagery) yang cukup menarik perhatian publik untuk kelas film Indonesia. Dari sini kita bisa melihat kemajuan sineas Indonesia dalam produksi filmnya, khususnya untuk genre film disaster yang baru pertama kali digarap. Walau tak sehebat buatan Hollywood, film ini layak diacungi jempol dengan peningkatan efek visual dan alur cerita sebagai tonggak film genre disaster di Indonesia. “Belum sempurna efek visualnya” adalah komentar netizen yang cukup mendominasi tapi tak jarang juga banyak yang mendukung film ini demi kemajuan industri perfilman Indonesia.

Sederet aktor dan aktris papan atas Indonesia menghiasi film ini seperti Vino Bastian, Acha Septriasa, dan Deva Mahendra yang memiliki daya tarik tersendiri bagi penggemarnya membuat film ini merupakan film yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Dengan akting mereka yang sudah tak diragukan lagi, film ini mampu membawa emosi dan simpati penonton, juga pesan yang ingin disampaikan mengalir dengan baik pada penonton. Didukung dengan audio yang sangat baik pada setiap adegan – adegan menegangkan yang disajikan oleh film yang diproduksi oleh Suryanations, Oreima Films, dan Kaninga Pictures ini. Film yang berbiaya hingga 12 milyar ini juga merupakan film dengan biaya termahal yang pernah dibuat oleh salah satu rumah produksi yang menggarap.

Untuk ceritanya sendiri, film ini membawa kisah drama keluarga dan cinta yang dewasa kedalam cerita di tengah konflik kebencanaannya. Dramanya dapet, emosionalnya dapet, ketegangan, kesedihan, terharu, ketakutan, bakal dirasain penonton saat nonton film ini. Walaupun penceritaannya masih terdapat kekurangan, di beberapa detail dan ending yang terasa kurang logis, tapi semua itu tertutupi oleh dramanya yang kuat. Lewat film ini juga kita sebagai masyarakat Indonesia khususnya Jakarta, mendapat pesan tersendiri untuk benar – benar menjaga lingkungan agar tak terjadi bencana yang digambarkan dalam film ini mengingat pada realita aslinya memang Jakarta sangat rawan akan bencana banjir.

Dengan embel – embel film pertama Indonesia yang mengangkat tema bencana alam, banyak netizen yang memberikan ekspektasi tinggi terhadap film ini. Langkah berani yang diambil oleh sang sutradara dapat menjadi pintu gerbang dalam film yang beda dari film yang pernah ada di industri film Indonesia. Meskipun banyak yang perlu dikoreksi terutama efek visual di film ini, kita harus bangga atas usaha dan kemajuan indusri film Indonesia. Dengan kekurangan film ini, para sineas Indonesia juga seharusnya tertantang untuk lebih bisa memperbaiki kualitas film yang nantinya bisa membuat film yang jauh lebih baik dari #BanggaFilmIndonesia, kalau tidak kita yang dukung, siapa lagi?***(CM-K1/Adenovina Dalimunthe)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *