ATTIK SUMUT, Saatnya Balas Budi Guru dengan Semangat Indonesia Terdidik TIK

  • Whatsapp

 

Logo ATTIK SUMUT
Logo ATTIK SUMUT

 

Read More

Bermanfaat bagi diri sendiri memang penting, namun akan lebih bermanfaat lagi jika kita dapat bermanfaat bagi banyak orang. Menjadi seorang guru bukan semata-mata tentang pekerjaan tetapi tentang jasa yang tidak terbalaskan, lantas bagaimana caranya agar kita sebagai seorang anak yang pernah diajar dapat membalas budi guru-guru kita semasa duduk di bangku sekolah? ATTIK punya jawabannya. Ialah komunitas yang bergerak di bidang sosial terutama berfokus pada bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi. ATTIK (Armada Trainer Teknologi, Informasi dan Komunikasi) sudah ada sejak tahun 2012. Jika berbicara sejarah, maka ATTIK memiliki jalan yang panjang. Bermula dari benih-benih mahasiswa yang memiliki jiwa filantropi yang tinggi tepatnya berawal dari menjadi relawan dari salah satu yayasan yang bergerak di bidang pendidikan berbasis TIK bernama Djalaluddin Pane Foundation (DPF).

Diawal, sebelum ATTIK seperti saat ini, dimulakan dengan adanya relawan DPF. Kegiatannya hanya berfokus pada kegiatan sosial seperti pemberian Bantuan Langsung Tunai kepada masyarakat yang membutuhkan. Pasca kegiatan tersebut, terbukti bahwa banyak mahasiswa di Kota Medan yang memiliki semangat kedermawanan yang luar biasa, sehingga agar kegiatan yang mereka lakukan tidak sekedar begitu-begitu saja akhirnya diinisiasilah ATTIK.

ATTIK sengaja hadir untuk mewadahi semangat filantropi dari berbagai kampus di Kota Medan yang memiliki keinginan untuk merangkul masyarakat dalam hal kegiatan sosial, dan sekaligus sebagai wujud bakti untuk amal jariyah di masa yang akan datang. Ketika itu dipilihlah suatu kegiatan untuk menjadi fokus ATTIK Sumut bersama dengan yakni pendidikan berbasis TIK, yang lebih dikhususkan lagi kepada guru-guru yang berada di daerah. “Mengapa guru? Karena dengan satu guru, satu ilmu bisa sampai kepada 20 hingga 50 siswa yang ada di dalam satu kelas. Di saat kita sebagai trainer memberikan ilmu mengenai TIK kepada guru-guru tersebut maka mereka juga akan mentransferkannya ke beberapa siswa yang lainnya,” ungkap Nurul Habibah selaku ketua ATTIK SUMUT.

ATTIK Bersama Tim DPF dan Peserta Pelatihan
ATTIK Bersama Tim DPF dan Peserta Pelatihan

Keinginan dan semangat bersosial itu juga muncul ketika anak-anak ATTIK melihat fenomena yang tengah marak sekarang, yakni ditemukannya banyak guru di zaman teknologi tetapi tidak mampu menggunakannya dan hal itu membuat guru jauh tertinggal dibanding siswanya.

Sebuah perkembangan yang miris sekali apalagi jika melihat kasus di akhir tahun lalu, tentang sebuah pesta bikini yang dilakukan oleh serombongan siswa-siswi di suatu daerah, namun sayangnya, hal ini tidak diketahui oleh guru-gurunya dikarenakan undangan yang mereka sebar melalui situs Youtube. Sementara guru bahkan tidak mampu mengakses internet sekalipun hanya untuk mencari keyword di youtube.

Hal ini menjadi satu masalah, karena pada dasarnya seorang guru seharusnya tak hanya berperan sebagai pengajar tetapi juga pendidik bagi siswa-siswinya. Seperti penuturan Nurul, bahwa modern ini bahkan guru tidak bisa menghindar dari namanya teknologi. Segala lini kini sudah menggunakan teknologi sebagai pelengkapnya. Apalagi saat ini guru erat kaitannya dengan sertifikasi dan sejenisnya yang mengharuskan guru menggunakan media ajar berbasis teknologi dalam kegiatan belajar mengajar.

Nah, bagaimana guru bisa menjadi kreatif lagi yakni dengan melek teknologi dan mempelajari TIK, namun kenapa harus guru? Karena ATTIK bersama dengan DPF ingin kegiatan sosial ini sebagai momen balas budi kepada seluruh guru yang selama ini telah memberikan banyak pengorbanan untuk siswa-siswinya, telah berperilaku sabar akan setiap tingkah yang dilakukan oleh siswa ajarnya. Lantas apa yang bisa kita semua lakukan untuk membalas jasa tersebut?

Suasana Pelatihan TCDP
Suasana Pelatihan TCDP

 

“Mendidik itu adalah tugas setiap orang yang terdidik, karena setiap orang wajib memberikan ilmu kepada orang lain meskipun ia bukanlah sarjana pendidikan,” cerita Nurul.

Ananta Politan Bangun menjadi orang pertama yang mengetuai ATTIK Sumut sejak resmi didirikan pada 2012 lalu. Pada mulanya ATTIK masih turut menjalankan program yang merupakan bagian kerja dari DPF, namun seiring waktu berjalan, ATTIK mencoba merambah strategi baru untuk ATTIK pribadi untuk turun ke lapangan.

Dalam pengaplikasiannya, kini tiap kali turun ke lapangan, ATTIK mengirimkan 5 orang sekaligus dimana masing-masing orang memiliki kinerjanya sendiri yang telah dibagi menjadi tiga bagian utama yakni trainer, asisten trainer dan trainer manager. Sementara dalam pelaksanaan tugasnya, trainer bertugas untuk memberikan materi kepada guru-guru yang menjadi peserta pelatihan, asisten trainer bertugas untuk membantu mengarahkan dalam pelatihan yakni dalam bentuk praktik yang dilakukan oleh guru-guru secara langsung dengan materi ajar yang disampaikan oleh trainer dan sementara training manager bertugas untuk mengatur segala halnya mulai dari pemberangkatan, berkas, foto, hingga kembali ke sekretariat. Segala kegiatan yang dilakukan oleh ATTIK sebenarnya menjadi wadah tersendiri untuk belajar profesional sehingga setiap anggotanya diberikan kewajiban masing-masing.

Hingga saat ini sudah terhitung 18 kali pelatihan, 2 kali pendampingan dan 1 kali kontes yang digelar untuk guru-guru di berbagai daerah di Sumatera Utara. Menariknya ketika turun ke lapangan dan mengambil bagian dalam program, tim yang turun hanya boleh mengarahkan guru saja tanpa boleh menyentuh tangan guru peserta pelatihan agar lebih cepat. asisten trainner yang turun ke lapangan boleh memberikan ajaran dan mengarahkan tetapi tidak dengan mempraktikannya secara langsung agar para guru-guru tersebut bisa melakukannya dengan mandiri. “Ada kepuasan tersendiri ketika kamu turun ke lapangan dan memberikan pengarahan kepada guru-guru tersebut,” tutur Nurul lagi.

Selain berfokus pada guru, ATTIK juga menggencarkan edukasi kepada siswa-siswi mengenai berbagai materi seperti internet sehat, blog dan banyak lagi lainnya. Tentunya hal tersebut masih sejalan dengan cita-cita Indonesia yang terdidik TIK.  Nyatanya, atas proses panjang tersebut kini ATTIK telah mulai menorehkan perubahan demi perubahan yang diharapkan kedepannya bisa menjadi suatu pergerakan besar.

ATTIK sendiri dalam prosesnya mengaku banyak terjal yang harus dilalui termasuk di dalamnya tentang perjalanan yang harus ditempuh yang tidak semuanya mulus, jalanan bebatuan, becek setelah hujan dan lainnya tentu menjadi hambatan menuju daerah yang ingin dikunjungi dan diberikan pelatihan. Tetapi perjuangan tersebut terbalaskan dengan perubahan-perubahan yang telah berhasil diraih para guru-guru di daerah tertentu.

Kini, jumlah anggota ATTIK terdiri dari lebih kurang 30 orang dan dari semua anggota berasal dari mahasiswa-mahasiswi dari berbagai universitas di Kota Medan. Dalam proses perekrutan setiap anggota harus memiliki kriteria masing-masing, setidaknya mampu menggunakan teknologi dengan baik serta mampu menyebarkan virus Indonesia yang terdidik TIK nantinya. “Teknologi akan tetap berkembang di sepanjang waktu, jadi bagaimana caranya kita bisa mengikuti perkembangan tersebut. Selain itu satu hal yang perlu diingat bahwa kita semua punya tugas untuk mendidik orang lain artinya berbagi, karena itu tugas Indonesia yang terdidik TIK ini bukan semata tugas guru tetapi tugas kita semua,” tutup Nurul di akhir wawancara sore itu. ***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *