Mulkan Nasution, Hobi Bisnis dan Berbagi

 

Mulkan Nasution
Mulkan Nasution

 

Berawal dari kamera konvensional pemberian orang tua dengan satu syarat biaya kuliah tak lagi ditanggung oleh mereka. Bulya Aidil Mulkan Nasution atau yang lebih akrab dengan nama Mulkan Nasution pun lantas menekuni hobinya dan mulai berbisnis dalam dunia fotografi. Kini, anak bungsu dari enam bersaudara ini telah menjelma menjadi fotografer handal dan cukup dikenal di Kota Medan. Kurang lebih 10 tahun berkarir, pria kelahiran 4 Maret 1987 ini kian mencapai kesuksesan di usianya yang masih terbilang muda yakni 29 tahun.

Segala kemampuannya dalam mengambil gambar ia dapat ketika tergabung dalam komunitas foto di kampusnya. Dari sanalah pria lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIK-P) memperoleh banyak sekali ilmu yang ia gunakan sampai saat ini untuk mendulang rupiah.

Bisa dikatakan sebagai hobi yang menghasilkan, Mulkan kini telah sibuk menjalankan bisnisnya di dunia fotografi dengan membuka sebuah studio foto bernama Klop House Photography. Sebenarnya Mulkan sudah mulai membuka usahanya sejak tahun 2007 namun tidak menggunakan nama Klop House dan belokasi di Jalan Halat, barulah pada tahun 2012 berpindah lokasi ke Jalan Gedung Arca No. 34, Medan. Ia mengaku jika dalam proses awalnya terbentuk usahanya tersebut dibantu oleh dana yang diberikan oleh BUMN sebesar 20 juta Rupiah, uang itupun lantas digunakannya untuk menyewa kantor serta membelanjakan keperluan lainnya ditambah lagi dengan bantuan dari kakak kandungnya.

Klop House sendiri cenderung lebih fokus kepada foto-foto pra wedding maupun acara pernikahan, rata-rata tiap bulannya ada 20 klien yang menggunakan jasanya dengan pendapatan keseluruhan mencapai 60 sampai dengan 70 juta.

“Aku sih sebenarnya lebih suka foto landscape pemandangan, soalnya kan aku juga suka traveling ke banyak tempat tapi, karena pasar di Medan masih kurang jadi akhirnya memilih foto wedding untuk menggaet pasar,” jelas Mulkan.

Klop House sendiri lebih mengedepankan hasil foto yang lebih natural khususnya pada warna. Ada alasan yang diberikan Mulkan tentang hal tersebut, menurutnya untuk foto dengan hasil warna yang lebih alami akan lebih bertahan lama. Seperti foto-foto jaman dahulu, walaupun sudah mulai memudar tapi tetap bagus karena warna-warna asli yang terdapat dalam foto tersebut lebih natural. Namun, itu semua juga kembali kepada permintaan klien.

Mulkan juga menambahkan tentang prosesnya berkarir sejak awal, job pertamanya adalah disaat membantu seorang teman untuk melakukan sesi foto dengan upah sebesar 35 ribu Rupiah dan juga kendala-kendala seperti hujan dimana kala itu ia masih menggunakan satu buah sepeda motor untuk membawa berbagai perlengkapan foto antara lainnya adalah kamera, lighting dan semacamnya.

Pesan Mulkan bagi yang ingin berkarir didunia fotografi adalah jika ingin memotret yang penting itu fokus. “Jangan semua mau diambil ibarat penyanyikan ada yang bergenre jazz, rock, RnB dll jadi kalok semua bisa malah jadi biduan. Total lah pada satu bidang dulu,” jelas Mulkan.

Selain keberhasilan mengembangkan hobinya menjadi bisnis, ternyata ada yang unik dari seorang Mulkan Nasution, ia juga membagi ilmunya tentang dunia fotografi bersama anak-anak yang kurang mampu dengan gratis tanpa dipungut biaya. Secara rutin, Mulkan yang juga tergabung dalam komunitas Triple P atau Pemuda Pecinta Panti mengajar anak-anak panti asuhan, ia sendiri mendapat giliran mengajar kelas fotografi setiap Hari Senin dan kamis di Panti Asuhan Muhammadiyah Denai.

Mulkan berkata bahwa fotografi adalah hobi yang mahal, dan ia berpikir mungkin aja mereka yang kurang mampu ternyata memiliki hobi itu ataupun ingin tahu tentang fotografi, jadi ia memutuskan buat mengajar dan ternyata mereka suka.

“Siapa tau kedepannya mereka bisa jadi lebih profesional dibandingkan dengan kita. Nah, kalok nggak pernah diperkenalkan dengan kamera bagaimana mereka bisa mengerti, bahkan beberapa anak awalnya untuk megang kamera yang aku bawa aja takut dengan alasannya takut rusak samapai disitu sudah keliatankan kalau mental mereka masih belum beraani. Tapi syukurlah sekarang ini mereka sudah terbiasa menggunakan kamera dan semakin mengerti,” tutur Mulkan.

Mulkan mengatakan bangsa yang besar adalah ketika pemuda berpikir untuk menjadi pengusaha bukannya jadi seorang pekerja, ada yang kurang rasanya jika sudah sekolah tinggi-tinggi tapi hanya menjadi seorang pekerja. Baginya seorang pengosaha setidaknya bisa menghidupi lima orang lewat lapangan pekerjaan yang diberikan sedangkan seorang pekerja hanya mampu menghidupi keluarganya saja.***(CM-03/Rio Khairuman)

KOMENTAR

BACA JUGA