Masalah yang Sering Terjadi Antara Penulis dan Editor

  • Whatsapp
Penulis dan Editor
Penulis dan Editor

 

Dalam beberapa kejadian, seorang penulis akan dihadapkan dengan beragam masalah. Bukan dalam hal penulisan naskah tetapi justru dalam hal pengeditan, penyuntingan hingga finishing. Hal tersebut kerap kali terjadi antara si penulis dengan editornya dimana terdapat beberapa keganjalan yang dirasa kurang cermat hingga hasil tidak sesuai dengan ekspektasi yang diinginkan oleh si penuilis, hal tersebutlah yang membuat penulis kesal sendiri. Masalah tersebut terjadi karena beberapa hal misalnya:

Read More

 

Kurang teliti

Saat buku sudah cetak, penulis pasti akan merasa senang dan tidak sabar ingin membuka bukunya yang terjadi adalah penulis malah merasa kesal melihat hasilnya yang tidak sesuai ekspektasi seperti misalnya ada beberapa penulisan dan ejaan yang salah dikarenakan ketidaktelitian. Kurangnya komunikasi yang dalam antara penulis dan editor terkadang membuat hal-hal kecil seperti sesuatu yang telah dibicarakan tetap tidak tertera didalam hasil tulisan. Dalam proses kegiatan tulis menulis, agaknya kerjasama antara penulis dan editor dibangun baik. Meski akhirnya tulisan akan di edit ulang oleh editor, tak berarti membuat penulis juga lepas tanggung jawab dan menyerahkan segalanya kepada editor.

 

Beda Pendapat

Seorang penulis pernah menuliskan sebuah buku dengan latar belakang lokasi di luar negeri seperti misalnya di Eropa. Karena berlokasi di luar, editor akan menanyakan kembali lokasi pasti tempat yang telah dituliskan seorang penulis. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi eksalahan ketika sampai pada tahap penerbitan. Karena kesalahan nama, tempat dan hal terkait lainnya akan berakibat fatal pada penerbitan tersebut. Beda pendapat atau lebih tepatnya kesalahpahaman antara penulis yang merasa sudah sangat paham lapangan dan editor yang banyak membaca dan mengalami apa yang dituliskan, membuat keduanya saling silang pendapat. Hal ini akan menimbulkan kesalahpahaman atau prasangka buruk antar keduanya.

 

Tidak Memberi Kabar

Saat naskah penulis sudah diterima di sebuah penerbit dan akan melalui proses editing maka hal yang harus dilakukan penulis adalah melakukan janji dengan editor tentang seberapa lama naskahnya akan selesai diedit. Biasanya untuk proses pengeditan satu buah buku dengan banyak halaman yang standar dibutuhkan waktu 1-2 bulan lamanya. Penulis dan editor pun akhirnya sepakat untuk menunggu dengan jangka waktu tersebut. 2 bulan sudah berlalu tetapi editor belum juga memberikan kabar akan naskah tersebut sehingga akhirnya penulis menghubunginya tetapi yang terjadi adalah si editor belum mengedit naskah tersebut meski satu lembar pun. Hal inilah yang membuat penulis terkadang kesal dan tidak ingin mengirimkan naskahnya ke penerbit yang sama lagi.

 

Penulis Malas

Dalam proses penulisan naskah, ada hal-hal yang harus dipastikan. Baik itu tempat dan hal lainnya. Editor yang cenderung dikenal cerewet dan detail menanyakan naskah yang telah dikirim, sering kali membuat kesal penulis. Hal ini dilakukan dikarenakan sistem penulisan penulis yang tak pernah berubah meski sudah diingatkan berkali-kali. Hal-hal kecil seperti EYD dan tatanan kata yang salah, berulang kali dilakukan meski telah di revisi dan diingatkan kembali. Agaknya antara penulis dan editor mampu bekerjasama dengan baik demi hasil yang memuaskan. ‘Ngapain  nulis bagus-bagus kali, ngapain dibaca ulang, ada editor kok’, kalimat ini harusnya dibuang jauh jika kita memutuskan untuk mendapatkan hasil terbaik untuk sebuah karya.

 

Ingin Terkenal

Saat suatu naskah penulis akhirnya menjadi sebuah buku yang best seller, tidak jarang editor juga akan terlibat dalam proses ini, baik itu untuk menjelaskan prosesnya dan kelebihan lain yang ia ketahui terlebih dahulu sebelum buku itu layak cetak. Namun tak jarang, rasa kepemilikan naskah dari penulis, membuat prasangka kepada editor bahwa editor merasa ingin eksis apalagi saat diadakan konfrensi pers. Hal ini disebabkan, dalam beberapa hal editor selalu ditanyakan proses editing yang sudah dilalui. Power Syndrom yang mendadak timbul pada diri penulis, membuat dirinya merasa dikesampingkan atas buku yang telah ia tulis, meski didalam naskah jelas nama penulislah yang dituliskan. Ia merasa, editor lantas menjadi seolah-olah penulisnya dan mendominasi isi ruangan. Meski terbilang penting dalam proses penerbitan, agaknya penulis memiliki peran yang lebih besar.  Hal ini tentu membuat penulis merasa kesal dan tentunya malu di hadapan para wartawan yang berhadir.

Ketika memutuskan untuk menulis, maka niatkan suatu tulisan itu tak hanya untuk menjalankan kebiasaan atau tugas, tapi karena ingin menghasilkan sebuah karya yang dapat dinikmati atau bahkan menginspirasi banyak orang agar dalam kegiatan menulis, ada rasa memiliki atas tulisan tersebut. Bagaimanapun, ketika kamu ingin menjadi penulis dan ingin mengirimkan karyamu ke sebuah penerbit maka bersiaplah untuk bertemu dengan editor dengan beragam tipe yang tak jarang juga menimbulkan masalah tertentu. Usahakanlah untuk melakukan komunikasi yang baik dengan editor agar tidak terjadi kesalahpahaman. Buang prasangka buruk ketika sudah mempercayakan seorang editor untuk mengedit naskah. Bangunlah hubungan baik antar penulis dan editor agar tercipta suasana nyaman upaya mendapatkan hasil karya yang disenangi pembaca, ***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *