Hadi, Jadikan Bakat Bermain Biola Sebagai Mata Pencaharian

  • Whatsapp

 

Hadi Irawan
Hadi Irawan

 

Read More

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sejatinya di dunia ini bahkan tidak ada orang yang tidak bisa hanya saja tidak mau berusaha. Namun, berbicara tentang kelebihan tentu dari kita ada yang tidak sadar di dalam diri terdapat sebuah bakat yang luar biasa, hanya saja kita tidak tahu dan bahkan belum menemukannya.

Seperti misalnya Hadi Irawan, salah satu alumnus Sastra Inggris USU ini mengaku telah menemukan jati dirinya yang sebenarnya sejak ia berusia 22 tahun. Penemuan tersebut berawal dari sebuah kebosanannya akan sebuah kewajibannya sebagai mahasiswa yakni ketika menyelesaikan skripsi. Sebagai mahasiswa akhir, Hadi ketika itu mengaku tidak memiliki kegiatan banyak, kewajibannya hanyalah menuntaskan skripsi namun ketika kebosanan itu tiba, lantas inspirasi baru yang diperolehnya yakni ingin belajar salah satu alat musik paling sulit di dunia yaitu biola.

Mulanya Hadi memang sudah bisa memainkan alat-alat musik lain seperti gitar, bass, dan piano namun tidak ada satu di antara alat musik tersebut yang benar-benar ditekuninya hingga kemudian menjatuhkan pilihannya kepada piano.

Hadi Irawan Violin
Hadi Irawan Violin

 

“Ketepatan waktu itu ada uang lebih dari beasiswa jadi aku beliin biola aja, dan enggak nyangka sekarang malah jadi mata pencaharian,” cerita founder Celtic Room Medan ini.

Waktu terus berjalan, usai mendapatkan gelar sarjana Hadi bahkan tidak memilih untuk mengaplikasikan ilmu yang telah ditekuninya selama 4 tahun belakangan tetapi memilih musik sebagai tujuan hidupnya ke depan. Tanpa ragu, ia memutuskan untuk berangkat ke Ibu Kota Jakarta, menemui salah seorang temannya yang ternyata memiliki ketertarikan yang sama dengannya yakni dalam hal musik.

Keberangkatannya ke Jakarta memang benar-benar untuk memperdalam musik khusunya biola. Selama beberapa waktu disana, Hadi lantas menemukan pengalaman-pengalaman baru yang luar biasa, kesempatan tersebut tentu membuatnya semakin giat untuk belajar apalagi ketika ia dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki hobi, membuatnya termotivasi dan ingin terus belajar.

Namun, kedatangannya ke Jakarta tentu tanpa modal yang banyak sehingga mengharuskannya untuk mencari nafkah. Ia lantas memutuskan untuk menjadi pengamen di sebuah stasiun di daerah Depok tepatnya di sebuah terowongan bawah tanah staisun. Demi bertahan hidup, Hadi rela tiba di stasiun pukul 05.00 WIB pagi dimana waktu tersebut merupakan waktu berkumpulnya orang-orang yang ingin berangkat kerja dan kembali pada pukul 09.00 WIB. Usai mengamen, barulah Hadi baru bisa menyempatkan diri untuk belajar lebih dalam lagi dengan biola.

Beberapa waktu di Jakarta memang memberikan banyak peluang bagi Hadi, semakin hari kemampuannya bermain biola semakin meningkat membuatnya dipanggil sebagai pengajar pada komunitas biola di Depok. Ia juga beberapa kali mendapat tawaran sebagai pengisi acara wedding dan pernah juga tampil di Universitas Indonesia pada sebuah acara. Lama-kelamaan Hadi berpikir, bahwa usaha yang telah dilakukannya di Jakarta memang membuatnya bisa bertahan hidup dan menjadikannya lebih baik namun saingan yang dihadapinya pun lebih banyak, seiring berkembangnya ibu kota ketika itu. Hadi kemudian memilih untuk kembali ke Medan, untuk mengabdi pada kota kelahiran sekaligus mengambil kesempatan yang ada.

Tahun 2013, sepulangnya Hadi ke Medan, tawaran-tawaran menarik pun mulai berdatangan kepadanya saat ia mulai mengeksplor diri dengan melakukan aksi pertunjukan di beberapa cafe di Medan. Hal itu terjadi ketika orang-orang telah mengetahui kualitas dan keahilannya memainkan  biola, sehingga tak heran jika Hadi kerap diundang sebagai pengisi acara wedding di hotel-hotel ternama di Kota Medan. Bahkan, kini Hadi sudah menjadi pekerja tetap sebagai pemain biola di berbagai tempat seperti Hermes Palace (Underconstrunction Cafe), The Thirty Six Cafe, Bavarian Haus, dan juga Ringroad City Walk, Medan.

Penampilan Hadi dan Teman-teman
Penampilan Hadi dan Teman-teman

 

Pekerjaan Hadi sekarang memang lari dari ilmu yang telah ditekuninya di perkuliahan, namun hal itu lah yang membuatnya unik. Di Medan saja, pemain biola solo dengan kualitas yang baik bisa dihitung jumlahnya, hanya sekitar lima orang, hal tersebut membuat karir Hadi semakin gemilang di masa yang akan datang.Selain disibukkan dengan karir, Hadi juga tak menutup kemungkinan bagi Anak Medan yang ingin belajar biola secara private kepadanya, konkawan Cerita Medan bisa memakai jasanya sesuai dengan fee yang bisa disesuaikan jarak tempuhnya mendatangi siswa ajarnya.

“Kalau belajar biola samaku itu emang harus serius, private-nya emang cuma satu minggu sekali tapi aku mewajibkan muridku untuk belajar setiap hari di rumah karena bisanya seseorang main bola tergantung keseriusannya latihan, ya minimal harus pegang biola setengah jam setiap harinya,” cerita Hadi saat ditemui tim Cerita Medan beberapa waktu lalu.

Kini dua biola yang diberinama Viona dan Kirana menjadi temannya sehari-hari, baik untuk berlatih maupun untuk perform. Pria kelahian 21 Agustus 1989 ini memang cukup serius, sehingga menjadikannya sampai titik yang sekarang, nah bagi konkawan Cerita Medan yang ingin melihat penampilannya dapat mengunjungi Ringroad City Walk (di dekat air pancur) setiap Hari Rabu jam 15.00, dan Bavarian Haus jam 20.30 di hari yang sama. Konkawan juga bisa menghubungi Hadi melalui akun Instagram Ady_violin atau Line : ady_violin. ***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *