Bromartani, Surat Kabar Pertama Berbahasa Jawa  

  • Whatsapp

 

Bromartani
Bromartani

 

Read More

Di Indonesia kita mungkin sering menemui surat kabar, majalah, media online maupun media-media berjenis lainnya menggunakan bahasa Indonesia dalam proses penyebaran informasinya. Begitu pun dengan Bahasa Inggris, meskipun tidak banyak dari media yang menerapakan bahasa ini. Begitu juga di negara lain, kebanyak dari pers-nya selalu menyebarkan informasi menggunakan bahasa asal negaranya. Namun, tahukah kamu bahwa di Indonesia tepatnya Surakarta juga pernah pernyebaran informasi melalui surat kabar dengan menggunakan Bahasa Jawa, salah satu jenis bahasa yang banyak digunakan oleh orang-orang yang tinggal di Pulau Jawa. Hal itu terbukti setelah satu tahun sebelum Undang-Undang Pers (Drukpersreglement) 1856 diperkenalkan oleh pemerintah Belanda, salah seorang guruh Bahasa Jawa dari Institut Bahasa Jawa di Surakarta mendirikan sebuah surat kabar mingguan berbahasa Jawa yang dinamai dengan Bromartani.

Bromartani diyakini oleh Ahmat Adam selalu penulis buku Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan merupakan surat kabar berbahasa Jawa pertama yang ada di Hindia Belanda. Guru Bahasa Jawa tersebut bernama Carel Frederik Winter, mulanya ia mendirikan Bromartani bersama dengan anaknya Gustaaf Winter pada Januari 1855 dan terbit untuk pertama kalinya sejal 29 Maret 1855. Modal sebesar 400 gulden (mata uang belanda dan kini lebih dikenal dengan Euro) keluar saat itu untuk biaya penerbitan surat kabar Bromartani dan diterbitkan secara resmi oleh salah satu penerbit Belanda yaitu Hartevelt.

Mulanya Bromartani sengaja diterbitkan sebagai edisi uji coba untuk melihat respon pembaca sekaligus mencari pelanggan surat kabar Bromartani.

Dalam satu minggu, hari Kamis dipilih sebagai hari terbit surat kabar Bromartani, para pelanggan dapat membayar gulden sebesar 12 gulden. Tak tanggung-tanggung penggunaan bahasa Jawa dalam surat kabar Bromartani pun bukan merupakan bahasa Jawa biasa tetapu menggunakan bahasa kromo inggil yaitu tingkatan tertinggi dalam bahasa Jawa. Nyatanya, beberapa kali terbit Bromartani sudah menarik perhatian murid-murid sekolah maupun para pembaca umum, apalagi ketika itu Surakarta menjadi tempat pusat penyebaran pendidikan model Eropa yang diperuntukan bagu anak-anak bangsawan di Jawa.

Berita yang disebarakan dalam surat kabar Bromartani tidak sekedar berita sederhana tetapi juga memasukkan pembahasan ilmu fisika seperti berat udara, air dan hal-hal lainnya yang ebrkaitan dengan pelajaran anak-anak sekolah di Surakarta. Begitu juga dengan pembahasan mengenai sastra yang cukup apik, diisi langsung oleh Ronggowarsito yang merupakan seorang pujangga istana Kasunanan Surakarta, dan ia juga menjadi dewan redaksi sekaligus penulis rutin di surat kabar ini.

Sementara itu, untuk pembaca umum, Bromartani juga mengisi kolom-kolom surat kabar dnegan berita kelahiran, kematian, produk, industri, pergantian pejabat, jadwal kebernagkatan, kedatangan kapal, iklan lelang dan berita-berita kejadian yang berada di sekitar Surakarta.

Namun sayang, perkembangan surat kabar Bromartani ternyata tidak berlangsung dengan baik sebab lama-kelamaan jumlah pelanggan tidak semain meningkat, terhitung hanya berjumlah 290 orang saja sementara kondisi tersebut tenryata menyulitkan tim pengelola karena tidak mampu menutupi biaya penerbitan apalagi biaya produksi. Akhirnya karena tidak mendapatkan keuntungan, surat kabar Bromartani resmi ditutup.

Nah, konkawan Cerita Medan sudah pernah tahu belum tentang hal ini? Atau konkawan sudah pernah membaca surat kabar berisikan Bahasa Jawa juga? Setelah tutupnya Bromartani, belum diketahui kembali apakah masih ada surat kabar lain yang juga menggunakan Bahasa Jawa dalam proses penyebaran informasinya. ***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *