Aulia Jamil,Membuat Orang Lain Tersenyum Dengan Caranya

  • Whatsapp

 

Aulia Jamil
Aulia Jamil

Seseorang bisa jadi apa saja, tergantung bagaimana ia menjalani hidupnya. Seseorang pun bisa menjadi apa saja tergantung bagaimana ia mewujudkan mimpinya. Hal tersebut tergambar langsung pada sosok Aulia Jamil, mahasiswa S1 Manajemen Fakultas Ekonomi USU. Perempuan yang biasa disapa Aul ini mempunyai mimpi dan kebiasaan tersendiri di dalam hidupnya, ia menyukai dunia sosial dan terlalu menyukai dunia leadership semenjak ia tekun pelajari di dalam sebuah organisasi bernama AIESEC. Ia hidup seperti perempuan tangguh, kepercayaan orang-orang yang mengatakan bahwa laki-laki lah yang pantas menjadi pemimpin tetapi bagi Aul tidak.

Read More

Keinginannya ingin maju menjadikannya tertarik banyak mengenai leadership, sebuah ilmu yang tidak didapatkannya pada dunia pendidikan formal. Seperti akunya, ia ingin sekali mengembangkan Indonesia menjadi lebih baik lewat pengalamannya yang cukup menoreh kisah hidupnya beberapa waktu terakhir, hal itu tentu didukung dengan kecintaannya terhadap projek-projek sosial yang telah diikutinya menjadikan impiannya semakin menjadi-jadi.

Sejak kecil, Aul memang tertarik terhadap kegiatan-kegiatan yang membuatnya dapat tersentuh, terutama pada kegiatan dalam rangka membantu orang lain sampai-sampai ia pernah berkeinginan untuk menjadi salah satu anggota TIM BASARNAS suatu saat nanti. Membuat orang-orang tersenyum adalah kesukaannya, bagaimana pun dari semasa kecil ia selalu saja berusaha melakukan hal-hal yang positif demi untuk membahagiakan orang lain. Tak heran jika Aul pun diberikan jalan oleh Tuhan melalui AIESEC untuk mengikuti program Global Citizen yang berfokus pada edukasi anak-anak di Negara China pada 2014 lalu.

Aulia Jamil Bersama Rekan
Aulia Jamil Bersama Rekan

 

Sebuah projek sosial di China tersebut dijalani Aul selama kurang lebih 7 minggu, tepatnya di Kota Qingdao, Provinsi Shandong daerah pesisir timur. Cukup banyak pengalaman yang dilalui Aul selama disana, kenangan-kenangannya selalu membuatnya rindu seperti ketika ia harus menjalani puasa 18 jam lamanya dan bahkan harus berlebaran di negara orang yang minoritas dengan agamanya. Hal tersebut membuatnya sedih tetapi sekaligus bahagia karena  ia bisa menjalani projek tersebut bersama orang-orang yang berasal dari lima negara lain seperti Italy, Kazakhstan, Taiwan, Vietnam, Rusia dan Belarus.

Sebagai bentuk mempromosikan Indonesia, Aul melalui projek tersebut juga mengajarkan bahasa dengan anak-anak disable dan anak-anak normal, pun ia mengajarkan kebudayaan dan segala halnya tentang Indonesia. Decak kagum akhirnya muncul di dalam diri Aul ketika teman-temannya disana mengatakan padanya bahwa ia telah beruntung menjadi anak Indonesia dengan kekayaan alam yang melimpah ruah, bahkan ia sempat terharu ketika pada akhirnya adik-adik ajarnya turut menyanyikan lagu Indonesia Raya bersamanya walau pun dengan logat yang tidak begitu baik.

Aulia Si Pecinta Anak-anak
Aulia Si Pecinta Anak-anak

 

Menariknya, Aul juga mengaku jiwa kemandiriannya muncul ketika ia di China sebab kemana-mana ia selalu sendiri bahkan tak jarang harus berjalan kaki bermenit-menit untuk sampai di tempatnya mengajar sementara di Medan ia jarang melakukan hal tersebut. Di China, Aul bertemu banyak orang yang cukup membuatnya susah move on hingga sekarang, salah satu di antaranya adalah keluarga angkatnya yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri, mengajaknya berlibur dan merayakan segala sesuatunya bersama tanpa memandang suku, agama dan ras yang dimiliki oleh Aul.

Saat itu, kerinduan Aul terhadap Indonesia meski baru beberapa saat disana sudah tidak tertahan lagi, ia serasa ingin segera pulang. Lantas, karena tidak bisa, Aul malah memilih untuk berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beijing untuk menuntaskan rindu tersebut, karena pun bertepatan akan diadakannya upacara bendera 17 Agustus disana, ia sampai tersesat namun akhirnya sampai tetapi kecewanya ia harus menghanguskan uang sekitar 400 ribu untuk sampai di KBRI menggunakan taksi karena telat bangun dan sesampainya disana pagar malah sudah ditutup. Aul menangis, terharu menyaksikan pengibaran bendera merah putih hanya dari luar pagar. Usai upacara, Aul diperbolehkan masuk dan rindunya terhadap Indonesia lantas berkurang karena menyaksikan segala hal di dalamnya. “Terutama makanan seperti rendang dan sayur daun ubi yang ada waktu itu, hehehe,” ungkapnya.

Aulia Jamil Saat Menghadiri
Aulia Jamil Saat Menghadiri

 

Begitu lah Aul dengan segala mimpi dan perjalannya, banyak hal yang telah dilaluinya dan itu selalu melulu tentang projek sosial. “Karena ada kepuasan batin tersendiri pas aku nemuin orang lain senyum karena merasa terbantu, gitu juga, seneng banget nih lihat misalkan temenku bantu orang lain, walaupun aku nggak terlibat. Rasanya orang itu hebat banget. dan aku pengen gitu. Rasanya bener-bener bahagia, bangga kalo aku sendiri, atau orang-orang di sekeliling aku, itu menjadi alasan orang lainnya lagi untuk tersenyum,” tutup mantan atlet karate dan basket ini. ***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing).

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *