Asah Kemampuan Desain Lewat Topcoder UX Desain 2016  

  • Whatsapp

 

Topcoder Desain 2016
Topcoder Desain 2016

 

Read More

Desain grafis, sebuah seni sudah tidak asing bagi masyarakat. Menjadi bagian dari perkembangan seni modern yang ada di masyarakat saat ini. Bahkan berbagai jurusan dikalangan Sekolah Menengah dan juga Universitas mulai banyak mengadopsi jenis seni modern ini.

Banyaknya kompetisi dan juga lomba-lomba yang diadakan oleh berbagai perusahaan menjadikan desain grafis berkembang pesat dan mulai banyak dikenal masyarakat bahkan sudah jadi bagian hidup masyarakat itu sendiri. Salah satu yang tidak kalah menarik jika berbicara tentang desain adalah lomba dan workshop yang diadakan oleh Topcorder atau lebih dikenal dengan Topcoder UX Desain  Workshop 2016. Workshop yang dilaksanakan di Politeknik Negeri Medan pada selasa 09 agustus 2016 sangat diminati oleh berbagai kalangan khususnya para desainer (sebutan untuk perancang desain grafis). Terbukti dari banyak nya jumlah peserta yang mendaftar untuk acara ini sebanyak 160 peserta dan yang hadir di lokasi adalah 90 peserta.  Peserta 80% berasal dari umum dan 20% nya dari Politeknik Negeri Medan (Polmed).

“Jumlah peserta tetapnya ada sekitar 160 dan yang hadir 90 peserta. Peserta bervariasi 80% dari umum, 20% dari politeknik medan. Pesertanya bervariasi”, ujar Fajar Maulana selaku co-pilot Topcoder Indonesia.

Salah satu hal yang unik  dari workshop ini adalah selama acara dipandu langsung oleh Adam Amorehead (adroc) sebagai Global Creative Director Topcoder. Selain itu, dalam acara ini juga diadakan lomba desain interface atau dashboard yang bedasarkan UX. Lomba ini terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama mendesain tampilan dashboard di mobile device yang berlangsung dari pukul 10.50 wib hingga 12.00 WIB, selanjutnya sesi kedua mendesain  tampilan dashboard ditablet device yang berlangsung dari pukul 14.40 hingga 15.40. Semua desain yang telah selesai dalam kurun waktu tersebut akan dikirimkan via email dan dinilai langsung di tempat oleh Adam Amorehead.

Topcoder UX Desain  Workshop 2016 ini merupakan kali kedua yang diadakan di Indonesia hanya khusus kota Medan dan kota Yogyakarta. Menurut Fajar Maulana, Adam selalu berpegang bahwa Medan adalah salah satu kota yang selalu berpotensial. Beberapa co-pilots yang bisa dikategorikan berbakat berasal dari Medan. Co-pilots sendiri merupakan member-member lama Topcoder yang sering memenangkan kontes desain sehingga diangkat sebagai co-pilots. Mereka yang termasuk co-pilots merupakan mereka  yang sudah mengerti proses dan juga mengetahui kualitas yang dicari oleh klien. Berangkat dari hal itulah Workshop Topcoder diadakan kembali di Medan setelah pertama kali diadakan pada tahun sebelumnya di Universitas Sumatera Utara. Selain itu, persiapan Workshop tahun ini lebih matang dari pada Workshop tahun lalu.

“Tahun ini agak lebih baik karena tahun lalu itu diadakan satu hari setelah selesai acara di Yogya Final Competition, tahun lalu spontan kita langsung mengadakan workshop di Medan, dan langsung buru-buru pulang dan disiapkan dalam waktu tempo satu hari, kalau yang tahun ini lebih terstruktur, dapat tempat yang lebih bagus juga karena punya waktu  beberapa minggu,” jelas Fajar Maulana.

Selain itu alasan lainnya Medan dikategorikan sebagai kota tempat Workshop berlangsung adalah karena dua juara dunia TCO (Top Coder Open) datangnya dari Medan. Final versionnya nanti akan diadakan di bulan November di U.S.A dimana member terbaik untuk tahun ini akan bersaing.  Ada 10 finalis yang akan ditunjukkan dan  salah satu nantinya akan jadi pemenangnya.

Acara Workshop ini sendiri bisa dikatakan baru diadakan Indonesia tahun 2015. Tahun lalu pertama kali diadakan di Kota Yogyakarta sebagai Final Top Coder Open (TCO).

“Tahun lalu final diadakan di Yogya karena mereka ingin mencari sesuatu apakah memang bisa dilakukan. Sebenarnya eksperimen, karena biasanya tiap tahun juga di U.S.A, di Negara yang desainernya lebih banyak apakah lebih enak, ternyata banyak yang protes karena yang menang salah satu keinginannya adalah untuk liburan ke U.S.A,” ujar Fajar.

Salah satu alasan diadakan lagi tahun ini di Kota Yogyakarta karena melihat luar biasanya partisipasi, antusias dan minat desainer dari Yogyakarta.  Tahun  ini hanya sebagai Workshop sama seperti kota Medan. Selain itu Topcoder juga ingin lebih dikenal, dan berharap para desainer bertambah ilmunya setelah bergabung dengan Topcoder.

“Topcodernya lebih terkenal dan juga desainer juga bertambah ilmunya seklaigus ajang silahturahmi, kan biasanya juga jumpa dengan Adam hanya melalui chatting email dan via online, disini jumpa langsung jadinya,” sambung Fajar.

Acara workshop  yang berlangsung di Medan dari pagi hingga sore hari tampak sangat menarik, terbukti dari antusias peserta saat mengikuti  lomba desain tersebut. Sesi pertama lomba ada sekitar 40 submition. Dan sesi kedua perlombaan ada sekitar 29 submition.   Jumlah ini jauh lebih banyak daripada tiap sesi yang didakan di Yogyakarta yang hanya berkisar 20 submition. Menurut Fajar, salah satu kendalanya mungkin dikarenakan Yogyakarta mempunyai beberapa kontes, seperti trendsetter dan game Pikachu atau Topcodermon yaitu mengejar member-member yang ada. Hal tersebutlah yang menyebabkan peserta terpecah menjadi beberapa bagian.

Hal menarik dari acara Workshop ini adalah hadirnya salah satu senior Topcoder yaitu Junius Alberto yang sudah berhasil 3 kali memenangkan Top Coder Open (TCO) dan 2 kali menang Top Coder Collage (TCC). Sebagai catatan bahwa dulunya Top Coder Open (TCO) dinamakan Top Coder Collage (TCC) seiring dengan perubahan waktu TCO beralih nama menjadi TCC.

Sebelum ke Indonesia, Top Coder Open tahun ini telah singgah ke beberapa Negara diantaranya India, Jepang, dan London sedangkan Rusia akan menyusul September.

“Ini sebelum di Indonesia dia juga sudah roadshow ke beberapa tempat seperti India, Jepang dan juga London, dan Rusia yang diadakan September nanti.  Cuma peta geografisnya berbeda. Di Indonesia ini desainer, di India ada developer dan di Rusia ada algorithm,” jelas Fajar ditengah perbincangan.

Dengan adanya Topcoder ini diharapkan meningkatkan gairah para desainer  bahwa banyak cara untuk mendapatkan uang bukan hanya sebagai desainer percetakan, desainer agency  tapi juga menjadi desainer freelance.

Topcoder  adalah sebuah perusahaan IT berbasis crowdsourcing. Membernya berasal dari seluruh dunia dan Indonesia adalah salah satu yang menjadi hotspot desain.

Topcoder sendiri mempunyai 3 track yaitu developer,  data analis dan desainer. Topcoder bisa dikatakan sebuah wadah freelance. Sistem yang ditawarkan oleh Topcoder adalah menyediakan jasa bagi para klien.  Sistem kerjanya adalah jika klien yang membutuhkan sebuah sistem atau aplikasi, kemudian akan dipecah menjadi beberapa kontes untuk menyelesaikan aplikais tersbut. Fase kontes tersebut dibagi menjadi dua bagian atau dua proses yaitu fase desain dan fase developer.

Fase desain, persyaratan tadinya akan dipecah lagi menjadi beberapa kontes desain dan akan diposting di flatfom di studio yang bernama Topcoder Desain Studio. Nah, disitu desain freelance bisa join atau ikut serta dalam weaktu yang telah ditentukan berkisar 3 hingga 4 hari untuk satu ronde.  Jadi nantinya akan ada dua ronde sehingga memerlukan waktu 8 hari. Ronde satu biasanya hanya sekedar  submit ide beberapa halaman untuk menunjukkan kualitas  desain dan konsep yang ditawarkan oleh desainer kepada klien. Nantinya klien akan memberikan  feetback  dengan memberikan penghargaan jika konsep yang desainer tawarkan diterima oleh klien. Biasanya mereka akan emndapatkan imbalan berupa uang senilai 50 sampai 200 dollar untuk 5 orang. Setelah itu masuk ronde 2, persyaratannya adalah hanya yang lolos  di ronde satu yang bisa melanjut ke ronde 2,

“Semua yang submit di ronde satu boleh ikut dan yang gak submit di ronde satu gak bisa ikut,” jelas Fajar.

Pada ronde dua nantinya mereka akan submit di final sesuai kebutuhan sistem yang diminta dan itu harus sesuai dengan syarat yang telah disepakati sebelumnya. Setelah submit nantinya akan diproses penjurian lagi oleh klien dimana nantinya akan dipilih desain terbaik satu, dua dan tiga. Tetapi jika klien lebih suka lagi dengan konsep diluar para pemenang tidak sedikit klien yang akan beli submition tersebut, hadiah yang diberikan juga sama dengan juara ketiga.

Selanjutnya fase development, di fase development ini desain yang sudah jadi tadi diubah menjadi aplikasi yang sebenarnya. Kemudian akan di koding oleh developer yang juga freelance. Nah bedanya dengan desain, penjurian dalam tahap development tidak dilakukan oleh klien tetapi oleh tim internal  Topcoder yang berasal dari member juga yang nantinya akan mereview kualitas kode tersebut. Tahap selanjutnya pemenang dapat memilih ke platform mana yang mereka ingin kembangkan. Platform yang disediakan oleh Topcoder ada banyak, diantaranya bisa di AOS, Android, atau untuk tradisional software development, untuk desktop atau untuk internalnya klien.

Fajar Maulana sendiri telah berada di Topcoder sejak tahun 2007. Menurutnya ada banyak perubahan yang terjadi di Topcoder dalam rentang waktu dahulu dsampai sekarang ini, diantaranya dahulu tidak adanya co-pilot . Tahun 2007 co-pilot dinamakan Project Manager (PM).  Proses yang ada sekarang sudah lebih memfasilitasi agar sampai klien jangan sampai salah berinteraksi dan member tidak salah memebrikan solusi.

Menurut Fajar, dulu salah satu dampak negatif  adalah mencari uang dari Topcoder bisa lebih mudah dan banyak. Dulu ada dinamakan studio cup atau bonus bulanan. Hal itu tergantung berapa banyak kontes yang dimenangkan.

“Yang biasanya juara satu, biasanya dapat 15.000 hingga 20.000 dollar diluar kemenangan dia, jadi misalkan dia menang 10 kontes maka tiap kontes dia dapat kemudian ditambah bonus dari Topcoder setiap bulannya, itu yang muai dihilangkan,” jelas Fajar.

Jumlah copilots yang aktif di studio Topcoder itu ada 6. Jumlah seluruhnya ada sekitar  50 co-pilots. Beberapa co-pilots yang aktif bersal dari Medan.

Salah satu peserta yang berhasil memenangkan lomba desain diacara workshop Topcoder yaitu Dendy Herlambang merasa bahwa dengan adanya Topcoder ini dapat memberikan pengetahuan bagi para member.

“Acara bermanfaat, mengenalkan terhadap sistem Topcoder ini dan mengenalkan pada sistemnya, membuka pengetahuan baru tentang dunia freelance, lebih terbuka,” ujar mahasiswa semester 7 jurusan teknologi informasi Universitas Sumatera Utara. Dendy Herlambang dalam workshop kali ini berhasil memenangkan juara I dalam dua kontes lomba desain selama Workshop berlangsung dan berhasil membawa pulang uang senilai 250 dollar.

Salah satu tips yang diberikan oleh Dendy Herlambang agar menghasilkan desain yang bagus adalah dengan cara ATM. “Amati, Tiru dan Modifikasi, sering iat-liat aja perlu juga pengetahuan tentang desain,” ujar Dendy.

Nah, untuk para desainer, sekarang telah banyak  tersedia berbagai wadah untuk lebih meningkatkan kualitas desain. Jadi tidak ada kata malas untuk mencoba. So, selamat mencoba.***(CM-D2/Weny Maya Sari)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *