Tragedi Pembunuhan “Untuk Angeline” Ditayangkan di Medan

  • Whatsapp

 

Pemain Film Angeline
Pemain Film Angeline

 

Read More

Kurang lebih satu tahun lalu, Indonesia dikejutkan dengan tragedi pembunuhan yang dilakukan seorang ibu angkat kepada seorang anak berumur 8 tahun asal Denpasar-Bali bernama Angeline. Sebagian publik masih sangat mengingat tragedi tersebut, dan kini untuk kembali mengingatkan kisah tersebut rumah produksi Sonia Gandhi Cinema mengemas kisah tersebut menjadi sebuah film dan ditayangakan serentak di bioskop seluruh Indonesia pada 21 Juli lalu dengan diberi judul “Untuk Angeline”.

Medan, sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia pun mendapatkan kesempatan yang sama dengan kota-kota lainnya. Kali ini dua orang pemain film tersebut yakni Hans de Kraker yang berperan sebagai Papa Hans bersama dengan Teuku Rifnu Wikana yang berperan sebagai Ayah kandung Angeline, datang ke Medan untuk melangsungkan nonton bareng di Cinema21 Palladium Mall, Medan (27/7).

Dalam kesempatan tersebut, dua artis yang turut hadir bersama tim manajemen seketika dikerumuni para fans, ternyata kehadiran keduanya sudah banyak diketahui oleh warga Medan, setidaknya ratusan penonton terlihat antusias memenuhi arena masuk bioskop sore itu. Apalagi diketahui bahwa Teuku adalah artis yang berasal dari Aceh, sehingga banyak kerabat-kerabatnya yang berhadir untuk menyaksikan langsung film “Untuk Angeline” dengan para pemainnya.

Hans Saat Diwawancarai Wartawan
Hans Saat Diwawancarai Wartawan

 

Namun sayangnya arena studio 2 bioskop terlihat ricuh ketika puluhan penonton tidak mendapatkan tempat duduk. Pasalnya banyak penonton yang menerobos masuk meski tidak memiliki tiket. Alhasil film yang sudah ditayangkan sekitar 10 menit harus diberhentikan oleh para petugas. Meski begitu, keadaan kembali membaik saat petugas telah melakukan pemeriksaan sehingga film kembali diputarkan dan para penonton bersama kedua artis dapat menyaksikan film dengan hikmat.

Usai film diputarkan, Teuku mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para penonton yang sudah antusias menyaksikan pemutaran film “Untuk Angeline”. Begitu pun dengan Hans yang berharap film ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua secara keseluruhan. “Saya berharap semoga dengan menonton film ini kita bisa membuka mata akan pentingnya mengajak anak-anak kita berbicara mengenai sesuatu yang ada di dalam hatinya,” ungkap Hans.

Diungkapkan Hans pula, hal lainnya yang menjadi poin penting dalam makna film ini adalah bahwa kita harus mengingat, kekerasan terhadap anak akan terjadi di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Karenanya kita harus membuka mata. Dalam memainkan peran ini, Hans sendiri mengaku terdapat beberapa kesulitan yang dihadapinya yaitu harus mengenakan Bahasa American English campur dengan Bahasa Indonesia, sementara ini adalah film pertamanya yang menggunakan Bahasa Indonesia.

“Ini adalah film ke 9 yang saya mainkan di Indonesia, sebelumnya memang ada film yang berkesan tetapi film ini juga sangat berkesan bagi saya. Saat usai pemutaran film premiere di Jakarta, saya sendiri bahkan tidak bisa berhenti menangis selama 30 menit dan duduk di samping ibu kandung Angeline. Kisah ini benar-benar sangat menyedihkan makanya saya tidak mau nonton lagi karena bisa-bisa setelah nonton saya tidak bisa bicara,” cerita Hans saat dijumpai tim Cerita Medan usai menggelar nonton bersama di Cinema21, Palladium Mall, Medan.

Intinya, kekerasan pada anak sangat tidak diperbolehkan karena akan mengganggu psikis anak. Mungkin tragedi pembunuhan Angeline sudah cukup memberikan bukti yang mengerikan, dan semoga kisah yang serupa tidak akan terulang kembali lagi. ***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *