Tak Hanya Gedung, Kenangan Pun Hangus di Aksara Plaza

  • Whatsapp

Aksara Plaza

Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar kata pusat perbelanjaan? Sebuah tempat dimana ratusan hingga ribuan orang melakukan transaksi jual beli, mall, plaza, pasar apapun itu merupakan hal yang lazim adanya di suatu wilayah dan kalangan masyarakat. Mulai dari yang bergaya tradisional hingga modern sekalipun, semuanya menjadi tempat dimana orang-orang datang untuk membeli kebutuhan hidupnya sehari-hari layaknya makan dan minum. Dari sisi lain, adanya tempat-tempat tersebut juga menjadi roda penggerak ekonomi bagi para penjualnya, hal tersebut terlihat jelas pada pasar-pasar tradisional.

Read More

Namun, bagaimana jika pusat perbelanjaan tiba-tiba penuh dengan kobaran api yang membara dan siap untuk membakar habis apapun yang tersentuh olehnya? Begitulah yang dialami oleh salah pusat perbelanjaan yang berada salah satu sisi Kota Medan baru-baru ini. Berdiri tegak dengan nama Aksara Plaza sejak tahun 1989 dan meraih masa kejayaannya di era 90an, dengan fasilitas lengkap yang menarik banyak minat pengunjung kala itu. Bioskop, arena bermain seperti video game juga tempat bermain sepatu roda adalah spot yang sangat digemari pada masa itu.

Teringat tentang ojek payung yang setia menemani ketika hujan melanda wilayah ini, yang sepertinya tak lagi popular di zaman sekarang. Bagi anak 90an pasti memiliki banyak sekali kenangan  di Aksara Plaza, sebuah cerita klasik yang tentunya akan sangat menarik untuk dikenang mengingat kini tempat tersebut tak lagi berfungsi karena telah terbakar habis luar maupun isinya. Walaupun beberapa tahun terakhir keadaannya mulai berubah, tak lagi menjadi primadona dipinggiran Kota Medan, masyarakat tetap memadati tempat ini setiap harinya. Bagaimana tidak, sebab Aksara Plaza terbilang cukup lengkap tak hanya mall pada umunya, disini juga ada pasar tradisional.

Aksara Plaza

Sebuah aktifitas masyarakat yang sudah berjalan selama puluhan tahun ini pun harus berakhir. Kurang lebih 20 jam lamanya serta menurunkan 15 mobil pemadam, para petugas pemadam kebakaran berupaya menjinakkan api yang terus mencoba tetap membara diantara puing-puing bangunan. Cerita tak habis sampai disitu saja, pasalnya ada sekitar 700 pedagang yang harus merelakan kiosnya habis dilalap si jago merah sambil mengharapkan ganti rugi. Namun, apa mau dikata jika terdengar kabar yang beredar kalau gedung tersebut juga memiliki problematikan soal birokrasi sejak beberapa tahun lalu.

Hal ini menghanguskan tujuh ratusan kios beserta kerugian yang diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah.

Kebakaran pada Aksara Plaza ini dimulai dari pukul 14.00 WIB tanggal 12 Juli 2016 ini pun sontak menjadi pusat perhatian media dan masyarakat, layaknya sebuah momen bersejarah ribuan pasang mata menatap api yang terus memanggang setiap inci konstruksi gedung. Jalanan yang mendadak padat serta jerit suara tangisan dari para pedagang yang harus kehilangan seluruh mata pencariannya. Lalu bagaimana nasib mereka selanjutnya? Apakah Aksara Plaza akan kembali eksis seperti dahulu kala? Atau malah akan beralih fungsi?

Aksara Plaza

Mulanya api melahap gedung bagian atas namun dengan secepat kilat melahap bagian lainnya dan dukanya api lamban untuk berhasil dijinakkan. Kobaran api semakin besar, diiringi dengan tangis para pedagang yang tak berkesudahan, di sudut lain terlihat para pedagang berteriak-teriak seraya berlari menyelamatkan barang dagangan masing-masing. Kepulan asap membuat suasana semakin riuh sebab membuat para pedagang kebingungan memikirkan bagaimana caranya si jago merah dapat berhenti, sementara sang pemadam kebakaran belum berhasil menenangkan kalut yang menyesakkan dada masing-masing korbannya.

Aksara Plaza

Pondasi bangunan yang kian rapuh, ‘penonton’ yang menumpuk dibeberapa titik, masyarakat dan pedagang yang berupaya untuk masuk untuk melihat kondisi bangunan lebih dekat, serta kemungkinan ada korban jiwa layaknya bencana alam memaksa pemerintah menurunkan aparat negara seperti TNI, Polisi, PMI sampai ahli forensik turun tangan untuk memeriksa serta membuat keadaan menjadi kondusif.

Aksara Plaza
Aksara Plaza

Syukurnya tidak ada korban jiwa, namun kondisi itu tetap saja membuat tangis pecah dari para pedagang. Tak terkecuali para pedagang dari kalangan laki-laki yang biasanya terlihat tegar tapi kali itu tangis tak mampu di bendung dari mata mereka membuat suasana duka ketika itu semakin menjadi-jadi. Entah apa yang dipikiran mereka, yang pasti selain kehilangan pendapatan mereka juga pasti akan menjadi pengangguran setelahnya sebab tidak adanya lokasi yang serupa laris manisnya seperti Aksara Plaza.

 

Weny Maya Sari salah satu pengunjung Aksara Plaza menyatakan kejadian kebakaran ini cukup mengejutkan dirinya. Dirinya juga menyayangkan akan terjadinya kebakaran yang melanda Aksara Plaza.

“Baru tadi pagi aku beli kaos kaki disitu, siangnya udah terbakar. Untung aku nggak jadi siang kesana. Padahal hari Minggu aku rencananya mau beli sandal. Entah dimana lah lagi aku mau beli sandal yang dekat. Soalnya kami orang-orang pancing ini kan, sering belanja situ,” jelas Weny.

Weny juga menyebutkan bahwa Aksara Plaza merupakan salah satu destinasi perbelanjaan bagi mereka para anak kos yang ingin berbelanja kebutuhan pribadi mereka.

“Sedih juga, Sayang aja, Pajak Aksara itu kan termasuk rame orang belanja disitu, Bangunannya juga udah lama. Banyak kalilah kesan sama kami-kami yang anak kos ini,” tambah Weny ketika ditemui tim Ceritamedan.

Bagi kalangan mahasiswa dan siswa di daerah sekitar Pancing, Aksara Plaza tentu sudah menorehkan sekian banyak kenangan, sebab konon Aksara Plaza dikenal sebagai tempat berbelanjanya para mahasiswa dengan harga dan produk yang terbilang cukup hemat di kantong mereka. Tak terbilang sudah berapa ribu orang yang mengandalkan Aksara Plaza sebagai solusi berbelanja hemat tapi kini hal tersebut hanyalah tinggal kenangan, tidak ada lagi prosesi tawar menawar dari calon pembeli dan pedagang yang kerap diingatan selalu menggunakan kata-kata ajakan yang membuat nyaman.

“Apa cari, dek? Masuk, Dek,” Hal inilah yang sering disebutkan ketika para konsumen yang berbelanja ditempat ini. Namun kini semua hanya tinggal kenangan, dan digantikan dengan isak tangis yang semakin menjadi-jadi apalagi tatkala para petugas tidak memperbolehkan para pedagang mendekati arena lokasi kejadian untuk menyelamatkan barang-barangnya lagi sebab kepulan asap sudah menyelimuti gedung sementara api tak kunjung padam. Para petugas khawatir akan keselamatan para pedagang namun sebagian dari mereka keras kepala dan berupaya untuk mendekati api. Entah kapan Pajak Aksara akan tergantikan, mungkin harus menunggu bertahun-tahun lagi agar rampung itu pun jika pemerintah menunjukkan perhatiannya dan berinisiatif membantu para pedagang yang kini berubah status menjadi para pengangguran.

Suasana lebaran masih menyelimuti para kaum muslim. Meski sudah memasuki minggu pertama lebaran, namun nuansa lebaran belum selesai begitu saja. Para pedagang baru saja meraup rupiah dari hasil penjualan semasa Ramadan dan Lebaran, namun ternyata kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Api yang menghanguskan Aksara Plaza kini menjadi sebuah kenangan yang membekas baik para pedagang pun juga para pengunjung. Aksara Plaza yang menjadi pusat perbelanjaan yang juga menjadi pilihan mahasiswa kini tak lagi setia menemani hari-hari mereka.

Aksara Plaza

Kita tahu, bahwa apa yang terjadi hari ini memiliki hikmah dibaliknya, tidak akan ada pelangi sebelum hujan turun begitulah setidaknya yang bisa meyakinkan kita. Secercah harapan baru harusnya segera tertanam di diri terutama para pedagang yang cukup menanggung pilu itu, karena keyakinan lebih kuat dari apapun sehingga yakinlah bahwa semua akan baik-baik saja. Mari bersama-sama kita doakan agar Aksara Plaza dan sekitarnya dapat kembali dengan semula, terutama dengan usaha, doa dan bantuan kita semua, karena terlalu banyak kenangan yang tak kan terlupakan dari sana.***(CM-Tim Cerita Medan)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *