Sopo Partungkoan, Satu Lagi Bukti Sejarah dari Tarutung

  • Whatsapp
Sopo Partungkoan - Foto : chantourwisata.com
Sopo Partungkoan – Foto : chantourwisata.com

 

Sopo Panisioan atau yang biasa disebut sebagai Sopo Partungkoan terletak di Jalan Sisingamangaraja, Tarutung, Tapanuli Utara. Berada di sekitar kawasan kantor pemerintahan daerah Kota Tarutung dan diapit oleh dua gedung pemerintahan yakni Gedung DPRD dan gedung Badan Kepegawaian. Gedung berornamen seni batak gorga ini dalam bahasa batak, “sopo” berarti “rumah” dan “partungkoan” berarti pertemuan.

Read More

Konon pada jamannya sopo ini digunakan oleh para leluhur sebagai wadah komunikasi dan musyawarah dalam mengambil keputusan dalam berbagai hal, seperti: penetapan hukum, hubungan sosial masyarakat, sumber daya alam dan manusia, perumusan adat, keamanaan dan juga sebagai lembaga pertimbangan untuk hakim untuk memutuskan perkara akibat pelanggaran hukum yang selanjutnya diputuskan oleh ria raja.

Dan pada saat ini bangunan sopo partungkoan difungsikan sebagai gedung kesenian dan tempat perhelatan berbagai acara karena memiliki luas yang cukup memadai. Sopo ini difasilitasi oleh Raja Huta atau pemimpin desa tersebut.

 

Asal Usul Sopo Partungkoan

Pada tahun 1987 terjadi bencana gempa bumi yang merobohkan sebuah pasar bertingkat yang dinamakan Pasar Harungguon. Kemudian dilokasi tersebut dibangunlah Sopo Partungkoan, namun sekitar dua tahun gedung tersebut tidak difungsikan karena bencana kebakaran yang sangat mengejutkan masyarakat tarutung dan Sopo Partungkoan diperbaharui secara total.

Daya tarik sopo partungkoan bagi para wisatawan tidak terlepas juga dari keberadaan sumur di depan sopo partungkoan ini, konon katanya di sumur ini lah tempat permandian Raja Sisingamangaraja XII.

Sumur yang ditaksir sudah berusia ratusan tahun ini pernah ditutup untuk pembangunan Pasar Harungguon dan pembangunan Sopo Partungkoan namun pasar itu roboh akibat gempa dan sopo tersebut terbakar. Oleh karena kejadian tersebut, banyak isu menyebutkan bahwa sumur tua ini tidak boleh ditutup dan harus dilestarikan karena jika sumur ini ditutup maka akan terjadi bencana yang akan mengakibatkan bangunan diatasnya rusak. Sejak saat itu, sumur yang dimitoskan adalah milik seorang tua-tua tersebut dibuka kembali dan sampai sekarang tetap dibenahi dan gedung Sopo Partungkoan ini tetap kokoh.

Rumat Adat Sopo Partungkoan - kikijuntak.blogspot.com
Rumat Adat Sopo Partungkoan – kikijuntak.blogspot.com

 

Sumur yang memiliki kedalaman 7 meter ini, sangat jernih airnya dan dulu juga digunakan sebagai sumber air ketika masih ada pasar di Jalan Sisingamangaraja, sehingga kebutuhan air dari pedagang dan pembeli di pasar tersebut terpenuhi bahkan air dari sumur tersebut banyak diambil oleh warga Tarutung untuk memenuhi kebutuhan air mereka. Warga setempat berpendapat jika sumur tesebut tidak dibenahi, kemungkinan akan terjadi kesulitan air bersih, dan air dari PAM juga akan semakin surut.

Tidak jauh dari Sopo Partungkoan kita dapat menemukan keberadaan Pohon Durian yang juga menjadi daya tarik bagi wisatawan. Menurut penduduk setempat, sejarah nama kota Tarutung sebelum berganti dari nama Rura Silindung berasal dari pohon durian yang berusia ratusan tahun tersebut. Pohon durian yang tumbuh di pusat kota Tarutung hingga kini masih tumbuh dengan baik dan pada saat tertentu pohon tua itu masih berbuah tetapi waktunya tidak menentu, terkadang sekali dalam dua tahun, dan terkadang sekali dalam tiga tahun. Pohon ini merupakan simbol berdirinya kota Tarutung.

Salah Satu Prasasti di Pohon Durian - Foto : henryjuntax82.blogspot.com
Salah Satu Prasasti di Pohon Durian – Foto : henryjuntax82.blogspot.com

 

Menurut Van Mook Lumbantobing seorang tokoh daerah, usia pohon tersebut diperkirakan 200 tahun lebih. Pohon ini dulunya digunakan sebagai tempat pertemuan para pedagang dari berbagai pelosok, untuk tukar menukar barang dagangannya. Pohon ini dijadikan tempat janji bertemu setiap akhir pecan, lama kelamaan daerah itu terbiasa disebut tarutung, karena durian dalam Bahasa batak disebut “tarutung”.

Sejauh ini tidak ada yang mengklaim bahwa pohon itu adalah miliknya. Pohon itu dianggap milik semua warga tarutung. Sebuah prasasti Pomparan Guru Mangaloksa juga dibangun disekitar pohon tersebut dan dilengkapi dengan pagar besi, sebagai tanda bahwa pohon tersebut dilindungi karna memiliki nilai sejarah.***(CM-Ist/Ekky Yusina)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *