Ini Tanggapan Netizen Tentang Medan Dulu dan Sekarang

  • Whatsapp
Medan Dulu dan Sekarang
Medan Dulu dan Sekarang

 

Apa yang kamu ingat ketika menyebut nama Medan? Kulinernya, kah? Budayanya? Logatnya? Atau keramahan yang ada pada orang-orangnya?

Read More

Tak sedikit orang yang menjadikan Medan sebagai tempat untuk berwisata. Medan yang merupakan Kotamadya dari Sumatera Utara ini memiliki keunikan tersendiri. Sebut saja gaya bahasa Medan. Beberapa orang sering bertanya tentang bahasa apa yang sebenarnya digunakan warga Medan? Bahasa Melayu, Batak, Jawa, atau Karo? Jawabnya tak ada satupun dari yang disebutkan karena pada dasarnya bahasa yang digunakan adalah Bahasa Medan. Trus gimana bahasa Medan sebenarnya? Ya, gitulah. Haha. Medan yang dulu secara umum dikenal sebagai kota yang asri, teduh, dan sangat erat kekeluargaannya terlebih Kota Medan yang meski berdiri di tanah Deli, namun saat ini Medan identik dengan darah bataknya.

Disini, kami tidak akan membahas bagaimana sejarah tentang Medan. Medan terlalu luas untuk kami ceritakan. Tanah kelahiran ini terlalu banyak meninggalkan sejarah serta budaya jika hanya dituliskan dalam sebuah media. Seiring dengan berkembangnya zaman, penduduk bertambah, teknologi makin global, segalanya dapat berubah sesuai dengan zamannya. Begitu juga dengan Medan sendiri.

Apapun yang ada di dunia ini pasti mengalami perubahan. Perubahan yang dialami Medan nyatanya tak dirasakan pemerintahnya saja, tapi juga warga Medan sendiri. Mengingat itu, beberapa waktu lalu, kami tim ceritamedan mencoba menanyakan perbedaan Medan yang dulu dengan Medan yang sekarang kepada para warga Medan lewat akun Instagram ceritamedancom.

Banyak komentar yang dituai dari akun tersebut. Mulai dari yang positif sampai hal yang negatif. Tak sedikit yang mengeluhkan tentang keberadaan Medan saat ini. Dari mulai komentar tentang  padatnya penduduk Medan, kriminalitas yang meningkat dan banyak lagi yang lainnya. Untuk itu kami coba merangkum untuk dapat kita renungkan bersama dan kami akan membaginya menjadi Negatif dan positif.

 

Bangunan dan Tata Kota

Medan sebagai salah satu kota metropolitan tak ubahnya dengan kota-kota besar lainnya. Penduduk yang padat, transportasi yang serba lengkap dan bangunan yang bertingkat menjadi pelengkap bagi kota besar ini. Seperti salah satu komentar konkawan ceritamedan yang ada di Instagram ceritamedancom dari pemilik akun  dari dii_yansyah.

“Liat bandung, Surabaya, Jakarta, dan kota lainnya. Semua berbenah menata kotanya. Ini apa? Gak genak kayak gini, fasilitas pejalan kaki rusak, parker liar dimana2, gubernur bolek balek masuk penjara. Yang milih gubernur tahun ini aja hanya 37% suara, sisanya golput. Ayo Medan, kalau bukan kita siapa lagi yang ngerubah kota yang cantik dan penuh budayanya ini. Mari kita terapkan Bhineka Tunggal Ika itu,”

Komentar lain juga datang dari warga Medan tentang kekecewaannya akan Medan yang sekarang. Seperti yang di tulis oleh pemilik akun zahira_sheikh.

“Kota Medan dulu dengan sekarang itu sangat berbeda. Dulu masih banyak ketenangan di Kota Medan ini, sekarang dimana-mana macet. Udara dulu masih sejuk banyak pepohonan, sekarang begitu sangat panas Kota Medan ini. Ditambah begitu banyaknya bangunan tinggi yang dibangun di Medan. Seharusnya Medan lebih diatur tata kotanya. Makin diasrikan, bukan makin ditambah bangunan tinggi seperti itu. Hanya menambah kemacetan dan banjir di Kota Medan saja,”

Selain bangunan, tata kota seperti fasilitas jalanan makin berkurang. Terlebih warga Medan tak bisa menjaga keasrian Medan sendiri. Misalnya trotoar. Trotoar yang pada dasarnya diberikan agar digunakan para pejalan kaki, akhirnya malah lebih sering digunakan oleh pengguna jalan khususnya sepeda motor. Hal senada disampaikan oleh saudari kita Dini Indri Utami lewat akun dhynaindri_

…sebagai orang yang sering jalan kaki, aku merasa hakku hilang karena nggak adanya lagi ruang untuk jalan. Di trotoar ada jualan, ada yang parkir kendaraan, ada kereta (baca : Sepeda Motor) yang suka lewat trotoar malah. Sama fungsi zebra cross saat ini min, banyak kendaraan yang berhentidi depan zebra cross pas lampu merah, jadi payah awak mau nyebrang, kadang pun belum lampu ijo udah lewat aja dia, takut pulak awak jadinya nyebrang kan. Gitu min, terima kasih,”

Belum lagi jalan berlubang yang makin banyak di sekitaran Medan. Parahnya ketika hujan datang, akan banyak jalanan yang banjir. Serupa dengan pendapat pemilik akun ninielimm.

“Medan jalannya porak poranda. Permukaan bulan, hujan kayak lautan. Macetnya amit-amit,”

Belum lagi soal macet, Medan metropolitan sudah layaknya kota besar Jakarta yang macet tak terelak. Hal ini juga di perjelas oleh pemilik akun danufadillah.

Dulu Medan itu gak semacet sekarang, sekarang kemana-mana serba 1 jam. Maintenance jalan kotanya juga gak separah sekarang. RUSAK dimana-mana,”

 

Fasilitas Bermain Anak

Tak hanya bangunan dan tata kota, Medan juga merindukan arena bermain anak yang khusus. Kalau dulu Medan masih punya Taman Ria, saat ini semua hanya disediakan instan di Mall-mall besar di Medan. Masih lekat dalam ingatan bagaimana dulu Medan masih memiliki Taman Ria sebelum akhirnya berganti dengan bangunan Plaza Medan Fair. Kalau kalian pernah merasakan dan masuk ke dalam arena bermain Taman Ria, kalian pasti tau kalau dulu ada kesempatan bagi anak yang berprestasi untuk masuk ke arena bermain secara cuma-cuma jika ia mendapatkan peringkat kelas 10 besar. Menyenangkan, bukan? Komentar yang sama dilontarkan oleh Haqique Achmad yang mengenang Taman Ria.

“Dulu Medan ada taman ria, mau maen bowling di Taman Ria juga ada maen bowling di Taman Ria juga ada, maen komedi putar ada di Taman Ria. Maen lotre hadiahnya banyak juga di Taman Ria. Naek Kereta mini ada di Taman Ria. Sekarang udah gak ada lagi,”

 

Kriminal

Metropolitan yang identik dengan satu kota besar sangat dekat pula dengan kriminalitas. Hal ini yang juga kami temukan pada kolom komentar instagram kami. Medan kini sudah sangat akrab dengan premanisme. Begal, rampok dan macam kejahatan lainnya seakan dicontohkan untuk diaplikasikan di Medan. Medan dulu meski terkesan galak dan kasar, namun sopan dan santun ketika bertemu dengan orang-orang baru.

Medan sekarang keren banyak paremannya. Zaman awak sekolah paremannya nongkrong di sambu, sekarang nongkrong di kampus hahaha baguuuss pareman sekarang udah tau sekolahan, …” tulis rahmat_ramadhan_syahputra lewat akun Instagramnya.

 

Industri dan Usaha Muda

Komentar negative pasti banyak bertebaran di media sosial ini. Mengeluh memang sudah menjadi sifat manusia, agaknya tak salah jika warga Medan pun mengeluhkan apa yang mereka rasakan. Komentar negative boleh saja memenuhi kolom komentar, namun tak sedikit pula yang berkomentar tentang Medan.

Anak muda Medan yang dikenal sebagai para kreatif muda yang pemberani, makin jelas berekspresi lewat usaha-usaha kecil yang mereka miliki. Dari mulai berjualan kecil-kecilan sampai membuka café bagi anak muda Medan. Kreativitas anak Medan makin terlihat dengan beraninya mereka memulai usaha.

“Medan dulu cuma kopcang. Medan sekarang makin rame café di berbagai sudut dengan waktu buka yang tidak ditentukan,” tulis pemilik akun deladahaka di kolom komentar kami.

 

Masakan Medan

Medan terkenal pula dengan kulinernya yang tak tergantikan. Sentuhan kentalnya rempah yang digunakan membuat masakan Medan tak terkalahkan. Bohong kalau anak Medan, tak merindukan masakan Medan yang khas. Ini pula yang diakui dodoismyname dalam akunnya.

“Gak ada perubahan sih yang signifikan dari Medan, tinggal di Medan dari SD hingga dewasa, masih gitu2 aja, dan pada akhirnya pindah ke Bali, tapi satu hal yang tak ada tandingannya di kota manapun adalah makanannya Medan juara Markotop, all food Medan, Wiihh Maknyuss coy. Hahahah Salam kangen buat Medan,”

Bicara soal perubahan tentunya tak lepas dari kata peningkatan. Ada peningkatan dari yang dulu dan sekarang. Komentar cukup unik datang dari pemilik akun michsanb yang merangkum singkat atas segala perubahan yang ada.

“Bisnis kuliner kreatif meningkat, keragaman meningkat, populasi meningkat, aktifitas warga meningkat, polusi meningkat, kriminalitas meningkat, kenakalan remaja meningkat, sekarang Medan udah pake ojek, warte menghilang, warnet betabur, mobil jual paket internet dulu nggak ada, mini market bertaburan, logat Medan semakin tenar,”

Tentang-Medan3

Masih banyak lagi hal-hal yang berbeda dari Medan yang dulu dan sekarang. Tatanan kota, industry kreatif, bertambahnya komunitas, premanisme dan juga pertumbuhan polulasi jomblo juga semakin meningkat. Tapi apapun perbedaan itu, bersyukurlah bahwa kita menjadi bagian dari proses pengembangan Medan. Pemerintah yang baik memang baik untuk kerapian tata kota, tapi ingat, kerjasama yang baik dari warganya juga sangat membantu untuk menjadikan Medan tetap asri dan dicintai. Karena Medan tak hanya butuh keluhan.***(CM-E01/Tjut Nurul Habibah)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *