Ecun Matimuda, dan Seniman Jalanan Jadi Pilihannya

  • Whatsapp
Ecun Matimuda
Ecun Matimuda

Jundullah Husein Ramadhanu, mendengar namanya seperti masih sangat asing di telinga, namun bagaimana dengan Ecun Matimuda? Bagi orang-orang yang sering mengikuti kegiatan-kegiatan lokal yang berbau dengan seni, pastinya mengenal seniman satu ini. Seakan terlahir sebagai seorang seniman, pria kelahiran Sidoarjo, 15 Februari 1995 ini telah menghasilkan banyak karya di usianya yang masih terbilang sangat muda.

Hasil karyanya seperti seni kolase, murral dn juga lettering.  Rambut gondorng dan gayanya yang nyentrik menjadi ketertarikan tersendiri kepada siapapun yang melihatnya, walaupun terkadang terlihat menyeramkan bagi sebagaian orang, ternyata Ecun (panggilan akrabnya, red) adalah tipikal yang humble.

Read More

Kolasi Karya Ecun Matimuda
Kolasi Karya Ecun Matimuda

Banyak orang yang mengenal seniman jalanan satu ini, wajar saja karena Ecun sendiri sering sekali menghadiri berbagai acara seni yang ada di Kota Medan,  tapi tidak sedikit yang memiki rasa penasaran. Berikut ini adalah jawaban Ecun Matimuda kepada tim Cerita Medan mengenai sisi lain dari kehidupannya.

 

Kenapa pakai nama Matimuda?

Sejak duduk di bangku SMA saya sudah nge-fans sama Soe Hok Gie, lalu pada tahun 2012 saya menyaksikan aksi Band Jenny (sekarang FSTVLT) di Youtube. Seketika saya mulai jatuh cinta dengan mereka, dan terus mengambil nama yang sesuai dengan judul lagunya yang Mati Muda. “Karena hidup tak perlu terlalu lama jika dosa berkuasa”, penggalan kalimat dari lagu tersebut.

 

Sejak kapan suka seni dan belajar darimana?

Suka seni? Saya tidak merasa menyukai kesenian, tapi saya hidup dalam seni. Alam kita ini merupakan karya seni yang tak bisa dikalahkan. Kalau soal belajarnya sih mungkin sejak ibu saya memperkenalkan alat tulis, dan sebenarnya saya juga pernah mencoba belajar seni di salah satu universitas tapi tidak berhasil.

 

Apa influence kamu dalam berseni?

Gery Paulandhika, Kurt Cobain, Jean-Michel Basquiat, Farid Stevy dan Nauval Firdaus adalah beberapa nama yang sering saya curi idenya hahaha.

 

Kamu sudah banyak menghasilkan karya, apa salah satu diantaranya pernah muncul dalam pameran, atau malah pernah mengadakan pameran sendiri?

Enggak ah, saya gak suka pamer, nanti dimarahin sama Tuhan hahaha. (Begitu ungkapan Ecun yang memang dikenal sebagai orang yang rendah hati dilingkungannya).

 

Kabarnya kamu baru saja mengakhiri perjalanan dari Sumatera ke Jawa naik vespa andalan. Apa aja sih yang didapat?

Banyak sih yang didapat, singkatnya saya mendapat teman baru dan pembelajaran yang sangat berharga dalam berkesenian. Dan semoga bisa mendapat restu menikahi monica (pacarnya sekarang . Maklum saja, dalam perjalanannya ecun sempat mampir kerumah sang kekasih yang berada di Kota Palembang).

 

Dalam setiap kali berkarya, ada enggak pesan khusus yang ingin disampaikan?

Ada, saya selalu menyampaikan bahwa sebenarnya saya tidak bisa menggambar. (Baginya seni harus berjalan terus dan dengan kondisi apapun tetap bisa berkarya).

 

Pilih hidup Mewah atau tetap terus menjadi seniman jalanan?

Ya hidup mewah lah. Buat apa aja seniman apalagi seniman jalanan, hahahaha.

 

Bagaimana cara kamu menepis stigma negatif masyarakat secara umum yang menganggap seniman jalanan itu acak-acakan?

Enggak semua seniman itu acak-acakan. Mungkin kalau saya pribadi memang lebih memilih untuk berpenampilan berbeda. Kalian gak bosen apa kalok penampilannya seragam gitu?

 

Apakah seni jalanan termasuk pelakunya mendapat tempat di tengah-tengah masyarakat?

Ecun pun menunjukkan sebuah link, “https://nobodycorpfound.wordpress.com/2012/08/16/poster-mural-dan-grafiti-pada-masa-perjuangan-kemerdekaan-indonesia-1947-49/  silahkan menyimpulkan sendiri “

 

Apa hal yang paling ditakuti?

Tidak punya tempat untuk cerita.

 

Kamu terlihat sering menghadiri beberapa kegiatan yang diadakan oleh berbagai komunitas di Medan, Apakah kamu juga tergabung dalam sebuah bkomunitas tertentu?

Saya enggak tertarik untuk masuk dalam komunitas, tapi saya dan teman-teman tergabung dalam kumpulan yang bernama Taring Family dan sebuah sekte Noflag Temple. Saya juga punya sebuah kolektif benama BAROKAH69.

 

Tanggapan orangtua tentang kamu yang memutuskan menjadi seniman jalanan bagaimana?

Orangtua saya khusunya ibu, adalah orang yang paling sabar dalam menghadapi semua tingkah laku saya. Begitu beruntungnya saya memilikinya, I love you so much, mom! (Walaupun bertampang pemberontak, Ecun ternyata punya perasaan yang lembut).

 

Ada pesan-pesan untuk yang ingin berkarya?

Saya mengutip kata Farid Stevy yang mengatakan, berkaryalah jangan berharap pada negara.

Jika diperhatikan dari jawabannya Ecun Matimuda, sepertinya seniman dengan idealisme yang tinggi berkarya atas dasar dorongan dari dalam diri. Itulah yang membuatnya  memilih menjadi seorang seniman jalanan sebagai pilihan hidupnya, dimana ia bebas untuk berkarya serta mengekspresikan dirinya dalam sebuah bentuk seni.***(CM-03/Rio Khairuman)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *