Budaya Perpeloncoan Masih Terus Berlangsung

  • Whatsapp
Ospek
Ospek

Memasuki tahun ajaran baru biasanya indentik dengan peloncoan. Di berbagai kalangan budaya ini memang memiliki kesan yang sangat negatif. Mengapa tidak? Tidak sedikit terjadi berbagai kasus menimpa instansi pendidikan akibat peloncoan terhadap murid baru terlalu keras. Untuk kasus peloncoan di kalangan sekolah mungkin tidak terlalu parah dibandingkan kalangan perkuliahan. Kalau ditinjau lebih dalam, peloncoan yang tidak sehat ini timbul akibat rasa senioritas yang sangat tinggi. Memang  biasanya peloncoan yang tidak sehat ini berada pada instandi pendidikan yang memiliki senioritas yang tinggi.

Seperti sudah menjadi budaya yang sangat buruk, ajang peloncoan yang sering dilakukan oleh senior terhadap junior sering diartikan sebagai ajang balas dendam. Padahal sebenarnya, peloncoan diadakan sebagai ajang perkenalan kampus terhadir mahasiswa baru yang masih terlalu buta dengan situasi kampus baru mereka. Biasanya waktu pelonco berlangsung selama 1 sampai 3 hari. Untuk perkenalan kampus mungkin dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu satu hari full oleh staff atau dosen yang berwenang di kalangan perkuliahan selebihnya dimanfaatkan senior untuk melakukan pelonco atau orientasi.

Read More

Lebih parahnya lagi, mahasiswa-mahasiswa ini melakukan pelonco tidak hanya di dalam kampus saja melainkan diadakan di luar kampus yang jauh dari pihak fakultas. Tidak membuat junior menjadi terdidik dengan rasa saling menghormati antar mahasiswa di perguruan tinggi melainkan menimbulkan rasa dendam yang memicu pada kriminalitas. Banyak contoh kasus kriminalitas yang dipicu akibat dendam pribadi antara junior dan senior akibat perpeloncoan.

Bukan tidak berusaha memutuskan mata rantai perpeloncoan tidak sehat, instansi pendidikan selalu mencoba untuk menghentikan tindakan-tindakan kekerasan. Walaupun tidak sedikit yang mencoba melawan, tetapi pelonco tidak sehat ini seakan menjadi ritual wajib untuk semua mahasiswa baru yang ingin masuk kedalam perguruan tinggi di Indonesia. Kegiatan perpeloncoan, ospek, pengenalan kampus dan apapun itu namanya merupakan sebuah cermin dari carut marutnya pendidikan dan wajah kebudayaan kita saat ini, budaya pascakolonial, sebuah budaya yang terbentuk dari peninggalan penjajah yang represif. Itu artinya bangsa ini tidak benar-benar bisa menghilangkan “penjajahan” itu sendiri dan bahwa sebagian warisan itu masih terus bersemayam dalam pikiran sehingga terbentuk mental manusia penjajah.

Pascakolonial adalah sebuah metafora bagi pemahaman terhadap masyarakat Indonesia pasca kemerdekaan. Seharusnya, di zaman kemerdekaan, Indonesia lebih baik untuk dunia pendidikan. Peloncoan dengan kekerasan ini dapat membentuk karakter egois dan tinggi hati untuk seorang anak. masa transformasi dari dunia sekolah ke dunia perkuliahan sama saja seperti masuk ke dalam dunia yang baru.

Perpeloncoan hanya melestarikan budaya feodal dengan mewajibkan para peserta untuk menghormati paksa senior dan menuruti segala kehendak senior. Hanya terkesan memuaskan para senior yang  ‘sok berkuasa’ dan menganggap rendah status mahasiswa baru tak lebih sebagai budaknya. Demi menghapuskan sifat anarki pada mahasiswa ada baiknya mindset buruk pelonco ini diganti dengan hal yang lebih berpendidikan dan kekeluargaan.

Untuk memberikan informasi mengenai lingkungan kampus dan sekitarnya dapat dilakukan dalam satu mata kuliah umum atau acara keakraban kampus. Tentu saja mahasiswa baru tidak dilepas begitu saja oleh pihak fakultas, pastilah wajib ada fasilitator yang mendampingi berlangsungnya acara agar tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan antara senior dan junior.

Hal ini tentu saja tidak bisa berjalan sendirian demi menghilangkan budaya buruk akibat perpeloncoan. Perlu saling memahami tentang arti sebenarnya dari perpeloncoan baik dari universitas, mahasiswa bahkan lingkungan misalnya organisasai internal jurusan. Semoga berkembanganya zaman, budaya perpeloncoan dengan embel-embel kekerasan di Indonesia mulai terkikis akibat open mind masyarakatnya. Jika dibiarkan jangan harap bangsa Indonesia menjadi salah satu bangsa yang terdidik dan beretika tinggi.***(CM-01/Dela Aria Dahaka)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *