IBX5A49C9BC313D6 Sindi Violinda, Buka Usaha Penerbitan dari Kesukaan Menulis - Cerita Medan

Sindi Violinda, Buka Usaha Penerbitan dari Kesukaan Menulis

 

Sindi Violinda
Sindi Violinda

Dunia tulis menulis memang terus berkembang dari waktu ke waktu. Apapun profesinya sepertinya keahlian menulis memang harus dimiliki oleh banyak orang. Bahkan seorang penjual online shop pun harus memilik kemampuan ini untuk mempromosikan produknya. Menulis banyak tipenya, banyak hal yang bisa dituliskan untuk menghasilkan tulisan. Baik itu tulisan fiksi seperti cerpen, puisi maupun nonfiksi seperti karya ilmiah, artikel dan banyak lagi lainnya.
Menjadi penulis banyak ditekuni oleh anak-anak muda kreatif di Kota Medan, salah satunya adalah Sindi Violinda.Mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Muslim Nusantara Medan ini mengaku suka menulis sejak duduk sibangku SD. Tetapi sejak SMP lah ia mulai mencoba untuk menulis secara baik, dimulai dari karya sastra seperti cerpen, Sindi akhirnya menulis cerita tentang pengalaman pribadi dan cerita teman-temannya yang disampaikan lewat curhatan sebelumnya.

Kesukaan itu berlanjut hingga kelas 1 SMA ia membeli novel seorang penulis “Novel pertama yang Sindi beli itu novelnya Fira Basuki yang judulnya Panggil Aku B.” Usai membaca karya tersebut Sindi pun terpikirkan bahwa menulis novel sangat lah gampang tetapi setelah mencoba baru lah ia sadar bahwa untuk menulis novel membutuhkan proses.

Sindi akhirnya berhasil menggarap sebuah novel karya terbaiknya namun ia harus dikecewakan karena sebelum ia berhasil menghantarkannya kepada penerbit, file novel tersebut lantas hilang terkena virus. Semenjak saat itu ia tidak pernah menulis novel lagi dan kini lebih berkonsen pada cerpen dan puisi. Tahun 2013 menjadi tahun awal bagi Sindi mengirimkan karya-karyanya ke media massa, sebelumnya ia juga telah menyapa beberapa penulis yang karyanya sering dibacanya melalui Facebook. Sejak saat itu lah Sindi akhirnya mengerti bahwa Facebook banyak dipakai sebagai sarana dan alat bantu penulis dan orang-orang yang hobi nulis dalam mengembangkan bakatnya.

“Sindi selama ini salah sangka terhadap penggunaan Facebook dan sempat nganggap Facebook itu nggak ada gunanya. Tapi setelah gabung di grup penulisan yang tentu banyak banget pengetahuan di dalamnya jadi merasa Facebook itu sangat berarti.Facebook itu sangat membantu Sindi berkomunikasi dengan teman-teman sehobi,” cerita Sindi.

Sejak saat itu, Sindi pun menggunakan Facebook sebagai sarana berkomunikasinya dengan teman-teman penulis, ia juga mulai bergabung dengan grup-grup kepenulisan yang ada di dalamnya. Setelah bergabung di grup kepenulisan Sindi tersadarkan bahwa di antara teman-teman di grupnya banyak yang mampu menulis buku antologi, dan Sindi merasa tidak mungkin bahwa ia tidak bisa melakukannya. Ia mulai mengikuti berbagai event agar tulisannya diterbitkan meski pun hanya sebatas antologi yang diterbitkan lewat jalur indie, kini lebih dari 40 buku antologi bersama yang telah terbit.

Selama menulis banyak hal yang telah dirasakan oleh Sindi, termasuk di dalamnya mengenai kesedihan dan frustasi. Tetapi begitu pun Sindi mengaku bahwa banyak sekali manfaat yang telah ia dapatkan selama menulis, menurutnya menulis itu menuangkan ide-ide dan pikiran dan sebagai peninggalan sejarah juga bila kelak ia sudah tiada. Tak jarang Sindi juga menulis berbagai hal dengan sindirian semacam politik, keuangan, kemiskinan, dan lainnya. Bagi Sindi menulis itu membuat otaknya dapat berpikir dengan cepat, ia lebih mudah menuangkan pikiran dan belajar untuk memecahkan masalah sendiri, ia pun juga bisa lebih peka terhadap diri sendiri.

“Pokoknya menulis lebih baik daripada tidak samasekali. Sebab orang yang aktif menulis, pasti akan lebih mudah ketika mengeluarkan pendapat dan sikapnya sudah jelas pasti berbeda. Belajar menulis, otomatis kita juga belajar mengenai bahasa. Orang yang suka menulis, otomatis juga membutuhkan bahan bacaan. So, penulis gak terlihat keren kalau sering nulis tapi gak pernah membaca. Nah, ketika menulis dan membaca itulah manfaatnya menjadi lebih besar.

Dari segi lain kita belajar bahasa, segi satunya sastra. Paling tidak kita bisa menyusun kata-kata yang lebih baik daripada orang yang sama sekali jarang menulis dan orang yang membaca akan memiliki wawasan yang lebih luas daripada orang yang gak suka baca. Menulis dan membaca itu hobi yang balance yang seharusnya dimiliki setiap orang,” ungkap Sindi.

Berkat keseriusannya dalam menulis juga lah yang membuat Sindi akhirnya dapat bertemu dengan orang-orang luar biasa yang telah berhasil menginspirasinya lewat karya. Ia pun ingin menjadi demikian, ingin menginspirasi orang lain melalui karyanya, bukan karena segan apalagi takut. Atas pengalaman yang cukup banyak diterimanya selama tergabung di dunia kepenulisan.

Sindi akhirnya tertarik untuk membuka sebuah penerbitan. Sebenarnya keinginan tersebut sudah ada sejak ia duduk di bangku SMA, tetapi saat itu ia belum memberanikan diri untuk bekerja di percetakan maupun penerbitan karena yakin bahwa tidak akan ada yang mau menerima anak-anak kelas 2 SMA. Pada saat itu, ia bahkan sudah memikrikan nama penerbitnya kelak, bagaimana bentuk logonya, tempatnya dimaa dan lainnya. Meski sebatas angan-angan, Sindi ingin angan-angannya tetap terkonsep agar kelak mudah baginya untuk menjadikannya sungguhan.

Sindi mengatakan bahwa ia tidak pernah tertarik untuk dipekerjakan orang lain sehingga angan-angan tersebut akhirnya benar-benar diwujudkannya dan berhasil rilis pada 27 Januari 2015 lalu. Usaha penerbitan tersebut diberi nama Vio Publisher, sebuah penerbitan secara indie yang berhasil dibangunnya atas kerjasama dengan Pena Gropu House. Dan kini sudah ada beberapa buku yang berhasil dirilis oleh Vio Publisher. Semuanya ia kerjakan sendiri, mulai dari editing, layout hingga desain, meski tak jarang ia harus merepotkan teman-teman untuk segala halnya.

Meskipun hanya sebuah penerbit indie, tetapi Sindi selalu menyarankan orang-orang yang ingin menerbitkan karyanya di Vio Publisher untuk mencoba ke penerbit mayor terlebih dahulu agar tidak perlu repot untuk mempromosikan dan menjualnya sendiri.

Sindi, diusianya yang masih 20 tahun tetapi sudah mampu tergerak untuk membuka usaha dan menjadi seorang penulis produktif. Lantas bagaimana dengan kita? Nah, bagi konkawan Cerita Medan yang ingin menyapanya, langsung saja menyapanya bia Facebook : Sindi Violinda.***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

KOMENTAR

BACA JUGA