Mengambil Berkah Di Balik Bencana, Berjuang Menuju Seleksi PIMNAS

  • Whatsapp
Penelitian dari Erupsi Sinabung
Penelitian dari Erupsi Sinabung

 

Bencana gunung Sinabung yang masih belum membaik memang membuat masyarakat Sumatera Utara turut berduka. Erupsi yang tak kujung usai terus membuat rasa was-was di hati masyarakat tanah karo. Pemerintah masih terus melakukan pengendalian di sana namun belum menemukan potensi dari bencana ini.

Read More

Dibalik bencana ini ada sekelompok mahasiswa yang melakukan penelitian dari pemanfaatan debu erupsi gunung Sinabung. Tim yang diprakarsai oleh Vina Rahayu, mahasiswi stambuk 2013 jurusan Biologi Sumatera Utara telah lolos seleksi dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dalam bidang penelitian yang dibiayai oleh Ristekdikti. Saat ini, tim mereka akan melaju dalam seleksi menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa (PIMNAS) ke-29 yang akan di adakan di Bogor dengan tuan rumah Institut Pertanian Bogor (IPB) pada bulan Agustus mendatang.

Penelitian ini mengusung judul “Seleksi Bakteri Pereduksi Sulfat (Bps) Sebagai Agen Bioremediasi  Dan Bakteri Pelarut Fosfat (Bpf) Sebagai Pemacu Tumbuh Tanaman Asal Tanah Terpapar Abu Vulkanik Gunung Sinabung” dengan latar belakang pemanfaatan debu erupsi bencana gunung sinabung dengan pengisolasian bakteri pelarut fosfat dan pereduksi sulfat sehingga dapat membantu tanaman untuk mencerna unsur hara fosfat dan sulfat yang banyak di tanah namun sulit untuk dikonsumsi tumbuhan. Padahal, zat tersebut merupakan salah satu unsur hara essensial yang dibutuhkan tanaman.

Penelitian
Penelitian

Penelitian yang telah di mulai sejak bulan Maret 2016 ini telah melewati pencapaian yang diharapkan sebesar 80%. Uji coba hasil isolat bakteri dari debu erupsi diterapkan pada tanaman kacang hijau (Vigna radiata) sebanyak tiga puluh enam perlakuan menunjukkan hasil yang  memuaskan walau pengamatan masih akan terus berlanjut sampai dua puluh hari kedepan.Sementara ini, tumbuhan kacang hijau yang berumur satu minggu saat mereka berikan perlakuan telah memasuki pekan kedua dan menujukkan pertumbuhan 30% lebih baik dari tumbuhan kontrol.

Tentu tak mudah dalam menjalani sebuah penelitian. “Kami telah empat kali bolak-balik dari medan ke kaki sinabung. Untuk mendapatkan Isolat yang diharapkan kami harus masuk ke zona merah kaki sinabung. Syukurlah ada bantuan dari abang-abang tim SAR (Search and Rescue), jadi kami ditemani sampai ke zona merah oleh mereka,” ujar Vina sebagai ketua tim saat ditanya kesulitan dalam menjalani penelitian ini.

Belum lagi beberapa kali tim ini gagal dalam mengisolasi bakteri yang di harapkan. Namun hal itu tidak membuat mereka patah semangat. Kelengkapan alat-alat pendukung yang telah memenuhi standar laboratorium pada Laboratorium Mikrobiologi USU sangat membantu mereka dalam upaya mendapatkan bakteri ini dan membiakkannya.

Dosen yang membimbing mereka, Dra. Nunuk Priyani M.Sc juga sangat semangat dan mendukung penelitian anak-anaknya. Beliau dengan sabar membimbing tim ini agar mencapai hasil yang memuaskan.

Tim yang memiliki 5 personil ini berharap selain mengangkat nama jurusan Biologi dan Universitas Sumatera Utara, hasil penelitian ini tentu akan memiliki dedikasi besar dalam pertanian dan perbaikan lahan perkebunan pada kaki Gunung Sinabung. Tak hanya daerah Sinabung, nantinya bakteri ini akan terus dibiakkan dan langsung diaplikasikan ke tanah sehingga langsung dapat digunakan masyarakat selain menggunakan pupuk dalam tanaman mereka. Saat ini mereka akan berjuang pada tanggal 23 Juni 2016 untuk seleksi menuju PIMNAS.

“Semoga penelitian ini bisa lolos ke PIMNAS, agar dapat semakin kami kembangkan dan membantu pertanian masyarakat.” tutup Vina.***(CM/PR)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *