Membahas Amalan, Mengkaji Pernikahan

  • Whatsapp
Pengajian Fiqh Munakahat
Pengajian Fiqh Munakahat

 

Mengkaji tentang pernikahan artinya mengkaji tentang masa depan. Hal tersebut haruslah dibahas mengingat masa depan akan menghampiri setiap umat di dunia. Kajian bab Munakahat khusus pada Bulan Ramadhan tentang menikah kali ini dibahas langsung oleh Ustadz Irhas Pulus setiap Sabtu dan Minggu selama Ramadhan di LPM Dinamika UIN Sumatera Utara, Gedung Perkantoran UKK UKM Lantai 1.

Read More

Dalam penyampaiannya, Ustadz Irhas membahas mengenai amalan yang akan diamalkan hingga di surga kelak, yaitu mengenai pernikahan dimana banyak definisi dari menikah itu sendiri. Nikah itu menjaga seseorang dari zina, nikah berarti menyalurkan keinginan untuk mendapatkan kenikmatan baik di dunia maupun di surga kelak. Seperti hadist dari Rasulullah SAW “Barang siapa yang suka akan sunnahku maka hendaklah mengamalkannya, di antara sunnahku tersebut adalah menikah.”

Hukum menikah bisa bermacam-macam tergantung niat dan tujuan dari menikah itu sendiri. Nikah hukumnya sunnah bagi orang yang memang memiliki keinginan di dalam hatinya untuk menikah, tetapi menikah haruslah dengan biaya atau dalam kata lain memiliki mahar (bagi suami) untuk diberikan kepada istri. Ustad Irhas mengungkapkan, yang disebutkan menjadi mahar dalam hal ini adalah bisa memberi istri pakaian pada musim itu (seperti musim dingin) sehingga hajat istri terpenuhi. Selanjutnya mampu memberi nafkah sehari semalam setelah akad berlangsung. Kemudian harus ada tempat tinggal, dan sebaiknya memiliki pembantu untuk sang istri tetapi dalam hal ini hanya bagi perempuan yang biasa melakukan pekerjaan dibantu oleh pembantu di rumah orang tuanya. Karena kesemua itu bertujuan untuk menjaga agamanya.

Jikalau untuk menikah seorang laki-laki tidak memiliki biaya, maka tidak menikah lebih diutamakan kepadanya. Namun jika tidak tertahan lagi maka sebaiknya berpuasa. Selain agar mendapat pahala dari Allah SWT, berpuasa juga dimaksudkan untuk menahan syahwat yang terdapat di dalam dirinya. Namun jika tidak bisa lagi menikah saja lah dan bertawakal lah karena sesungguhnya Allah akan membantu.

Menikah juga bisa berhukum makruh apabila tidak memiliki keinginan untuk menikah, atau seorang laki-laki maupun perempuan ingin menikah dan memiliki biaya tetapi terkendala karena sakit yang dikhawatirkan tidak bisa melakukan hubungan, maka hukumnya makruh karena bisa menelantarkan salah satu diantaranya. Karenanya jika memang tidak memiliki keinginan untuk menikah maka tidak menikah akan lebih baik baginya.

Menikah memang menjadi angan-angan bagi banyak orang tetapi banyak hal yang harus diperhatikan untuk menikah termasuk kriteria calon suami/istri yang ingin dijadikan pasangan. Karenanya khitbahlah terlebih dahulu. Bagi seorang laki-laki, apabila ingin mengkhitbah perempuan (menyampaikan keinginan untuk menikahi) maka janganlah perempuan tersebut dalam keadaan sedang menerima khitbah dari yang lain jika ia telah menerima khitbah tersebut kecuali si laki-laki mengizinkan atau mengkhitbah dengan jarak waktu ke pernikahan yang cukup lama. Pada saat mengkhitbah, seorang laki-laki disunnahkan untuk melihat perempuannya agar tau keadaannya, tetapi hanya bagian wajah dan bagian tangannya saja. Meski demikian, tetaplah haram untuk menyentuhnya karena belum sah menjadi sepasang suami istri, boleh pula melihatnya berulang-ulang jikalau dikhawatirkan akan lupa, jika memang benar memiliki hajat.

Banyak hal lainnya yang disampaikan oleh Ustadz Irhas, sehingga seluruh anggota pengajian pernikahan cukup antusias melemparkan pertanyaan. Acara usai ketika memasuki waktu dzuhur dan pengajian ini akan kembali dilakukan pada hari berikutnya tiap Sabtu dan Minggu pukul 10.00 WIB. Bagi Konkawan Cerita Medan yang ingin mempelajari tentang Bab Munakahat boleh datang ke Gedung UKK UKM ,Sekretariat LPM Dinamika UIN SU..***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *