M. Aris, Penjual Cendol Inspiratif

  • Whatsapp
M. Aris, Penjual Cendol
M. Aris, Penjual Cendol

Siapa yang tidak tahu minuman tradisional yakni cendol? Minuman yang begitu melegendaris dikalangan masyarakat Indonesia, terdapat hampir diseluruh wilayah Indonesia. Penjualnya mulai dari tempat kaki lima hingga bintang lima pun ada. Kesampingkan es cendol bertaraf bintang lima tersebut, lihatlah mereka yang hanya mengandalkan gerobak untuk berjualan dan, diantara semuanya ada satu yang cukup menarik perhatian.

40 tahun sudah waktu yang dihabiskan oleh M. Aris untuk berjualan es cendol khas minang di jalanan Kota Medan, mendorong gerobak kecilnya hingga berpuluh-puluh kilometer dari tempat dimana ia tinggal dengan sisa-sisa tenaganya. Mulai saat matahari menuju puncaknya hingga menjelang terbenam. Terik Panas matahari maupun hujan badai seakan-akan menjadi teman yang selalu hadir menemani langkah kaki kakek berusia 80 tahun setiap harinya, semua ini ia lakoni semata-mata hanya untuk mengejar rejeki yang takkan pernah berakhir selama seseorang masih terus berusaha maka takkan pernah kering sumur rejeki.

Read More

Kesegaran dan manisnya es cendol asli hasil olahannya sendiri yang dihargai sebesar Rp.5000,- per gelasnya serta senyuman ramah menjadi sapaan semangat bagi para pembeli. Sungguh menyentuh, melihat kakek ini melakukan segala aktivitas dengan tubuhnya yang kecil dan sudah begitu tua seperti, menuang es cendol, mencuci gelas, menerima dan memberi kembalian selalu mengundang empati. Terlebih kepada orang-orang yang tahu sudah sampai mana dirinya sendiri dalam menjalani hidup. Sehari-hari ia terbiasa berpenampilan rapi dengan kemeja dan celana bahan ditambah dengan peci pada bagian kepala untuk menandakan ia adalah seorang muslim.

M. Aris Sedang Mencuci Gelas Cendol
M. Aris Sedang Mencuci Gelas Cendol

Terlihat begitu jelas kerasnya perjuangan hidup yang dialami oleh M. aris dari tatapan matanya, raut wajah keriput sebagai pertanda kakek dengan 6 orang anak ini tak lagi sekuat dulu. Pergi setiap hari meninggalkan sang istri tercinta dirumah dengan satu pengharapan, pulang membawa uang. Mungkin saja selama sisa hidup yang ia miliki kini ia takkan pernah merasakan nikmatnya bersantai di balkon rumah pribadi dengan pemandangan danau nan indah serta ditemani teh hangat. Lantas apakah ia menyerah dan lebih memilih menikmati seluruh kesederhanaan yang ia punya ? baginya bukan begitu cara menghadapi hidup.

Bukan ditelantarkan keenam anak-anaknya yang kini memiliki kehidupan rumah tangganya masing-masing, kakek ini hanya tak ingin menambah beban mereka dan lebih memilih untuk mandiri selagi masih ada sisa-sisa tenaga. Bagi kakek bersuku Minang ini kondisi fisik yang ia punya masih sanggup untuk menahan kerasnya kehidupan diperkotaan tanpa peduli di aspal mana ia akan terjatuh.

Foto Gerobak Cendol M. Aris
Foto Gerobak Cendol M. Aris

Ya, kakek ini adalah orang yang ramah ketika diajak ngobrol dan mau untuk saling berbagi, saat berbicara panjang lebar matanya mulai-mulai berkaca-kaca ketika menceritakan suka dan duka selama berjualan cendol. Sebuah hal kecil yang sangat begitu emosional, dan sesekali air mata yang mulai memenuhi mata ia sambut dengan senyuman manis tanpa terlihat barisan gigi. Ini adalah realita dari kehidupan yang harus tetap kita jalani walau apapun yang terjadi hingga pada akhirnya kita benar-benar selesai.

Dia bukanlah seorang veteran Tentara Republik Indonesia yang membantu Replubik Indonesia dalam peperangan melawan Kekuasaan Belanda namaun, sosoknya yang tak kenal lelah akan selalu menjadi tokoh inspiratif yang membakar semangat khusunya bagi kaum muda. Menjadi seseorang yang berguna bukan berarti harus member, kita juga dapat menjadi contoh untuk orang banyak.***(CM-03/Rio Khairuman)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *