Karo, Asal Mula Catur di Indonesia

  • Whatsapp
Catur
Catur

 

Di Tanah Karo, permainan catur ini sudah lama dikenal. Namun permainan catur ini baru populer sejak warga Belanda datang ke Indonesia. Bentuk dan cara bermain catur ala Karo dengan Negara Eropa/Belanda memiliki perbedaan. Namun belum diketahui secara jelas apa yang berbeda. Diduga bentuk dan permainan catur di Tanah Karo diadopsi dari salah satu dua sisi persentuhan komunitas Karo dengan negara asing yang menyebar dari pantai timur Sumatera. Daerah ini dahulunya tempat berdirinya suatu kerajaan yang disebut Kerajaan Aru, yang keberadaanya dikenal sebagai asal usul Suku Karo sendiri.

Read More

Koran Sumatra Post ini pernah menyajikan tentang sejarah catur di Tanah Deli (edisi 11-06-1904). Koran ini mengisahkan adanya pertemuan dua laki-laki di sebuah kebun. Laki-laki pertama adalah seorang Abtenar, yaitu pejabat Belanda. Dia berkunjung ke kantor pengusaha kebun (planter) asal Jerman bernama Muller) yang menginformasikan eksistensi catur di Indonesia pada masa itu. Ini menggambarkan bahwa permainan catur di kalangan elit Tanah Deli adalah suatu permainan prestisius. Kisah ini juga mampu menggambarkan bahwa rakyat juga telah mengapresiasi permainan catur ini dan rakyat bahkan pegawai kebun bisa memainkannya juga dengan baik.

Meski pada awalnya catur Karo diyakini berasal dari Pantai Timur, tapi keberadaanya di Tanah Deli tidak terlalu dikenal. Akan tetapi warga Karo yang merantau ke Tanah Deli cepat memahami dan mengadopsi cara bermain catur Eropa/Belanda. Permainan catur dari Eropa/Belanda ini di Tanah Deli sudah lama dilakukan oleh komunitas warga Eropa/Belanda.

Dari komunitas catur yang muncul inilah akhirnya anak muda Karo mulai mengadopsi catur ala Eropa/Belanda. Akibatnya, secara perlahan cara bermain catur ala Eropa/Belanda ini cepat mengalami difusi di Tanah Karo. Pada akhirnya catur ala Karo perlahan ditinggalkan oleh generasinya sendiri. Sejak itu, catur ala Eropa/Belanda akhirnya menggantikan catur ala Karo di seluruh penjuru Tanah Karo.

Padangan orang Belanda tentang bangsa Karo dimuat juga di koran Sumatra Post, 19 April 1919 yang mengindikasikan bahwa kecerdasan anak laki-laki Karo dengan menggunakan otaknya bernilai 8, Dasar pengembangan intelektual Karo sudah lama ada dan hadir. Mereka adalah sebuah bangsa yang telah mengadopsi catur dan diketahui bahwa permainan ini populer di Karo pada tingkat yang begitu tinggi.

Koran Sumatra Post, 11 Februari 1921 menyajikan hasil sebuah penelitian terdahulu dari pecatur Karo. Terakhir ada tulisan tentang perjalanan Berlage di Hindia-Belanda, Berlage menulis tentang apa yang dilihat di Karo dan di dataran tinggi lainnya. Di kampung Karo orang-orang terlihat berpakaian yang kuat, orang-orang di pendopo terlibat dalam catur. Para empu Karo juga berpartisipasi, sementara wanita Karo terlihat di dekat gudang melakukan menumbuk beras, atau membuat kain tenun, yang mereka lakukan dengan penguasaan yang sama.

Beliau juga menggambarkan sebuah titik tengah utama desa yang disebut jambur. Suatu gedung yang kurang lebih ada dalam setiap desa Karo, setiap orang bisa berbicara, gezeischapt, merokok dan lainnya. Dan disini ia melihat sebagian besar permainan catur dilakukan. Satu hal lagi Suku Karo telah terseleksi dengan ketat akibat epidemic, penyakit yang mematikan di masa lalu, tetapi hidup tidak kekurangan di alam Tanah Karo yang subur.***(CM-E02/Amal Hayati)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *