Etika Menjadi Wirausahawan

  • Whatsapp
Etika Menjadi Wirausahawan
Etika Menjadi Wirausahawan

 

Menjadi seorang pengusaha bukanlah hal yang mudah, selain harus memperhatikan pengeluaran pemasukan, dan untung rugi seorang pengusaha juga harus memperhatikan etika dalam berwiausaha. Allah SWT pada hakikatnya menyukai orang-orang yang berkarya dan terampil, terutama bertujuan untuk menfakahi keluarganya. Hal tersebut tercantum dalam riwayat hadist berikut:

Read More

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barang siapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang mujahid fisabilillah.” (HR.Imam Ahmad)

Menjadi pengusaha atau wirausaha merupakan hal yang sangat disukai oleh Allas SWT dan Rasulullah sendiri pun telah menerapkannya yaitu menjadi seorang pedagang semasa hidupnya. Rasul telah memulai perjalanan tersebut sejak berusia 12 tahun, dimana sebelumnya ia juga sudah menjadi pengembala kambing diusianya 8 tahun 2 bulan. Menjadi pedagang telah ditekuni oleh Rasul, ia berdagang sebgai kagilah dari Negeri Syiria tak heran jika diusianya yang menginjak 25 tahun Rasul sudah mampu menikahi Kahadijah dengan menyertakan mahar 20 ekor unta, hal tersebut menunjukkan bahwa Rasul adalah seorang wirausahawan yang sukses pada waktu tersebut.

Berdasarkan pemaparan di atas, dan banyaknya contoh seorang pengusaha yang suskes di dunia tentu kita tak lagi perlu ragu akan kehebatan menjadi seorang pengusaha, jika keterampilan ini sudah diasah sejak kecil maka akan menjadi manfaat di kala dewasa. Karena sesungguhnya tidak ada kegagalan dalan berusaha, yang disebut gagal adalah orang yang tidak pernah mau mencoba untuk berusaha.

Karenanya, gagal dalam berwirausaha seperti tak balik modal, sedikit mendapat keuntungan dan mengalami naik turun pendapatan adalah hal biasa, karena hal tersebut akan terjadi pada wirausaha yang telah sukses sekali pun. Bangkit adalah jalan terbaik dari keadaan tersebut, karena sebaik-baik kesuksesan adalah bangkit dari keterpurukan.

Jikalah tak pernah ada gagal, sudah tentu tidaka da sukses, begitu juga sebaliknya. Dalam hal ini yang dimaksudkan dengan sukses adalah ketika kita mendapatkan kebahagaian yang sama dengan yang orang lain dapatkan, seperti saat kita sebagai wirausaha menjual suatu barang dengan harga tertentu dan pembeli merasakan kebahagaiaan dan kepuasan atas barang tersebut sehingga keuntungan tidak hanya terjadi pada sebelah pihak saja. Niat yang baik dalam berwirausaha menjadi pegangan agar kelak menjadi keberkahan di dalam diri sendiri.

Oleh karena itu, etika dalam berwirusaha harus tetap menjadi pegangan meski dengan kondisi yang bagaimana pun. Selain itu, segala keuntungan yang didapatkan agar menjadi berkah haruslah disedekahkan bagi yang pantas menerimanya seperti anak yatim, fakir miskin dan lain-lainnya. Dengan demikian ketenangan akan tetap terjaga di dalam diri seorang wirausahawan. percayalah bahwa sebanyak apapun uang yang kita miliki tetap akan menjadi kekurangan bagi kita karena pada haikatnya manusia tidak akan ada yang merasa puas. Kekurangan tidak akan membuat kita hina dan begitu juga sebaliknya. Karena sebaik-baiknya wirausahawan adalah yang memuliakan pembelinya dengan tetap beretika.

Nah, berikut adalah ulasan mengenai bagaimana seorang wirausahawan harus beretika dalam segala kegiatannya. Tidak perlu melihat siapa pembeli dan apa yang dibelinya, semua status pembeli tetap lah harus sama di mata wirausahawan, pembeli adalah raja sehingga siapapun dia harus tetap dilayani dengan etika yang sebaik-baiknya. Jika terdapat pembeli yang membuat kesal, maka ingatlah bahwa etika harus tetap terjaga karena menjadi wirausaha tidak semudah yang kita pikirkan. ***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *