Bisakah Li-Fi Kalahkan Wi-Fi Dengan Data Share Lebih Cepat?

  • Whatsapp
Bisakah Li-Fi Kalahkan Wi-Fi Dengan Data Share Lebih Cepat?
Bisakah Li-Fi Kalahkan Wi-Fi Dengan Data Share Lebih Cepat?

Bisakah Li-Fi Kalahkan Wi-Fi – Siapkan diri Anda untuk menikmati kemudahan berinternet serta sharing data menggunaka Light Fidelity atau sebut saja Li-Fi. Teknologi yang tidak lagi menggunakan gelombang radio namun menggunakan spektrum cahaya dimana Anda dengan mudah bisa menyalakannya dimana saja. Li-Fi agaknya siap menggantikan Wi-Fi pada tahun 2020 atau 2025. Lalu bisakah Li-Fi kalahkan Wi-Finantinya pada 2025?

Semakin banyaknya Wi-Fi terpasang ditempat tempat umum bakal membuat traffic gelombang Wi-Fi sama penuhnya dengan jumlah gelombang radio di udara. Untuk mengantisipasi hal ini, ilmuwan tengah mengembangkan teknologi sharing data menggunakan spektrum cahaya. Pada tahun 2020, diperkirakan Wi-Fi tidak akan sanggup lagi memenuhi permintaan sedangkan tren terus meningkat secara signifikan setiap tahunnya. Disinilah pertanyaanbisakah Li-Fi kalahkan Wi-Fi pada akhirnya dengan kesempatan sharing data lebih cepat dan mudah.

Read More

Albie Attias, direktur perusahaan Hardware King of Servers, menerangkan bahwa teknologi Li-Fi pertama kali diperkenalkan oleh Velmenni, perusahaan pengembnag dari Estonian, yang melakukan test real untuk Li-Fi yang menakjubkan dengan kecepatan transfer data sampai 1 Gbs. Kecepatan yang sekitar 100 kali lebih cepat dari transfer data milik Wi-Fi.

Attias menyebutkan bahwa teknologi Li-Fi bisa digunakan di segala kondisi lapangan dan situasi, seperti sekolah, rumah sakit, dalam ring minyak, kuliah seminar, serta dalam masa bencana. Cara kerja Li-Fi sendiri hampir mirip dengan infrared TV yaitu dengan mengubah perintah input ke dalam serangkaian kode binari yang nantinya akan dipancarkan melalui gelombang cahaya infrared dari sensor remotenya.

Teknologi Dibalik Li-Fi

Jadi apa ide sebenarnya dari pertanyaan bisakah Li-Fi kalahkan Wi-Fiini? Li-Fi menggunakan teknologi yang disebut Visible Light Communication  atau singkat saja dengan VLC yang memiliki bertindak mirip kode morse. Andrew Fergusson, direktur dari situs Thinkbroadband, menerangkan bahwa LI-Fi bekerja dengan mengontrol jumlah photon yang dihasilkan oleh lampu LED. Meski dapat dilihat namun nyatanya kinerjanya justru malah tidka terlihat secara kasat mata.

Fergusson menambahkan dalam pembeberannya bahwa Li-Fi adalah nama dari data transmisi yang menggunakan cahaya. Li-Fi tidak menggunakan frekuensi radio seperti di Wi-Fi namun memanfaatkan spektrum cahaya visible dari 430 sampai 770 Hz. Cara ini membawa potensi besar dalam transfer data lebih cepat. Karenanya bisakah Li-Fi kalahkan Wi-Fidalam hal pemakaian dan transfer data.

Bagaimana Menggunakan Li-Fi?

Attias menjelaskan cara bagaimana menggunakan Li-Fi. Ia menyebutkan bahwa untuk penggunaan mobile, Li-Fi bisa ditambahkan pada laptop maupun smartphone dengan penambahan sensor pada photo untuk menangkap cahaya. “Mungkin bisa iPhone”, tambah Attias. Agaknya Li-Fi harus menunggu pengembangan smartphone yang bakal mengusung sensor photo ini.

Saat ini perusahaan smartphone bernama Zero 1 sedang menjajaki pemakaian teknologi Li-Fi. Teknologi ini dipasangkan pada kamera depand an kamera belakang pada ponsel pintar. Uji cobanya sendiri berlangsung di pusat pengembangan Li-Fi di Dubai, tepatnya di Dubai Sillicon Oasis.

Siapa Saja Yang Tertarik Dengan Li-Fi?

Li-Fi pertama kali diperkenalkan oleh Harold Hass, seorang professor dari Universitas Edinburgh, pada tahun 2011 dengan menyuguhkan demo yang kemudian diberi nama PureLi-Fi. Saat ini, lampu Li-Fi pertama bakal dikembangkan oleh Lucibel dan diharapkan mampu dirilis pada tahun 2016 ini.

Perusahaan lain yang menginginkan teknologi ini juga sedang berjuang untuk mendapatkan hak pengembangan dna penelitian Li-Fi. Sebut saja Oledcomm, LG, Phillips, Samsung, Thosiba, Sharp, Rolls Royce, Cisco, juga Panasonic. Disamping itu, di lapangan juga banyak penelitian independent untuk pengemabngan Li-Fi.

Kelemahan Li-Fi

Meski Li-Fi datang dengan kemampuan transfer data jauh lebih cepat dibandingkan Wi-Fi, teknologi yang mengandalkan cahaya ini masih perlu dikembangkan lagi. Kelemahan teknologi Li-Fi terletak pada keharusan adanya photon dari LED yang jadi sumber cahaya. Bisa dibayangkan, Li-Fi hampir bisa dikatakan tidak mungkin digunakan dalam smart cities atau pun network besar dimana terdapat bangunan besar dan tinggi yang menghalangi sumber cahaya. Di sini, bisakah Li-Fi kalahkan Wi-Fi meski jauh lebih cepat dalam transfer data?

Fergusson menyampaikan analisanya mengenai kelemahan Li-Fi ini. Ia menyebutkan bahwa kelemahan fisik utamanya adalah ketersediaan cahaya LED di tempat tersebut. Jadi smartphone yang berada dalam sudut remang pasti gagal menggunakan Li-Fi. Fergusson juga menambahkan bahwa sinyal Li-Fi dapat terganggu oleh sinar matahari yang terang. Agaknya pengembangan lebih lanjut Li-Fi terus dikejar guna menyudahi ide sperti bisakah Li-Fi kalahkan Wi-Fi.

Dia menerangkan bahwa Li-Fi tidak bisa digunakan di bawah matahari langsung atau pun tempat yang teralu banyak sinar karena kemungkinan besar sensor photo tidak dapat mendeteksi gelombang cahaya yang dibutuhkannya. Ini jadi alasan mempertanyakan bisakah Li-Fi kalahkan Wi-Fi?

Masalah lainnya adalah Li-Fi hanya menggunakan satu jalur bukan seperti Wi-Fi yang dapat menggunakan 2 jalur link. Hal ini tentu masalah serius karena komunikasi IP memerlukan dua jalur link untuk bekerja. Meski demikian, Fergusson menyatakan bahwa hybrid antara WI-Fi dan Li-Fi bisa mengatasi kekurangan Li-Fi untuk masalah jumlah link. Menurutnya hybrid Li-Fi akan seperti broadband satelit yang menggunakan koneksi dial up untuk izin penerimaan transfer data.***(CM/Wahyu Blahe)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *