PKPA adakan Forum Diskusi Mengenai Pendidikan dan Pembangunan Kesejahteraan Anak

  • Whatsapp
Cofee Morning Oleh PKPA
Cofee Morning Oleh PKPA

 

Belakangan ini banyak kasus yang menimpah beberapa anak tanah air. Negara memang memiliki kewajiban kesejahteraan dan keluarga miskin. Sebelumnya, Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA) melakukan beberapa riset bahwa situasi anak dan keluarga di Sumatera Utara lebih 60%  masih berada di bawah garis kemiskinan. Sementara ada sekitar 800 anak hidup dan mencari nafkah dijalanan, lebih dari 600 anak yang berhadapan dengan hukum, 300-400 anak setiap tahunnya menjadi korban trafficking dan prostitusi anak, serta lebih dari 1,2 juta anak bekerja dan rentan dari drop out sekolah.

Read More

Kajian diatas tentunya membuat beberapa lembaga dan masyarakat semakin miris melihatnya. Menangani kasus anak tentu saja banyak keterlibatan beberapa organisasi sosial masyarakat dan sektor bisnis yang bersinergi dengan pemerintah untuk mendukung percepatan pensejahteraan masyarakat, khususnya penyelamatan masa depan anak-anak.

PKPA bersama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhamadiyah Sumatera Utara (UMSU) mengadakan dialog percakapan mengenai kemitraan forum sahabat anak dengan tema “CSR Untuk Pendidikan & Pembangunan Kesejateraan Anak”, Kamis(19/5). Tentu saja acara forum diskusi ini membahas tentang bagaimana langkah awal dalam membangun sinergitas gerakan dan program untuk pendidikan dan pembangunan yang berkelanjutan berbasis masyarakat.

Acara yang dihadiri oleh beberapa perusahaan dan lembaga yang melakukan Corporate Sosial Responsibility (CSR) juga menghadirkan beberapa nara surber terkait. Bapak Rudianto S.Sos, M.Si selaku wakil rector III/Dekan FISIP Universitas Muhammdiyah Sumatera Utara, Bapak Hendra Yudi selaku Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sumatera Utara, Bapak Misran Lubis selaku Direktur Eksekutif PKA dan juga perwakilan dari Dinas Pendidikan Propinsi.

Dalam dialog ini, masukan dan tanggapan dari berbagai perserta kegiatan sangat dibutuhkan kerena yang kita ketahui bahwa anak adalah generasi masa depan yang harus di jaga. Banyak kasus anak yang masuk dalam praktek pasar kerja dan jalanan dengan alasan ekonomi. Yang pada akhirnya situasi ini tidak membuat kondisi anak lebih baik melainkan sangat jauh dari perlindungan yang harus di berikan oleh semua pihak.

Untuk itu, acara ini di hadiri sekitar 80 peserta yang di antaranya adalah Perguruan Tinggi, SKPD Pemerintahan, Sektor Bisnis & Asosiasi, Narasumber Kunci, Media dan juga LSM. Tentu saja kehadiran berbagai level ini dapat membuka mindset tentang kesejateraan anak melalui berbagai sudut pandang.

CSR sendiri merupakan suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan sebagai bentuk tanggung terhadap social/lingukang disekitar keberadaan perusahaan tersebut. contohnya juga bermacam-macam, mulai dari kegiatan yang dapat meningkatkan kesejateraan masyarakat dan perbaikan lingkungan dan juga kesejateraan anak .

Dalam diskusi forus sahabat anak ini di jelaskan bahwa banyak anak-anak yang terlibat dalam proses pekerjaan yang mengharuskan mereka berkerja tidak sesuai dengan umur mereka. Belum tentu anak-anak akan terjamin perlindungannya didalam sebuah kegiatan yang di lakukan oleh perusahaan terkait.

Beberapa harapan mengenai kesejateraan anak terlontar dalam lempar tangkap tanggapan dan pertanyaan dalam acara ini. Berharap CSR yang di ciptakan oleh perusahaan mampu memberikan sisi edukasi kepada anak-anak terutama anak yang ketinggalan pendidikan. Tidak hanya menyediakan lahan mencari uang, namun CSR juga mempu menciptakan kenyamanan anak dalam hal pendidikan terutama dalam hal kesejateraan anak dan juga kaum termarjinalkan.

Acara ini juga di buka oleh anak-anak dari Sekolah Kreatifitas Anak (SKA) yang di bangun sendiri oleh PKPA dan juga beberapa pameran kemitraan dari RIM (Rumah Industri Marjinal)***(CM-01/Dela Aria Dahaka)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *