Paedofil, Ganggu Psikologis Anak

  • Whatsapp
Paedofil, Ganggu Psikologis Anak
Paedofil, Ganggu Psikologis Anak

 

Perubahan zaman, sudah sepantasnya kemajuan teknologi semakin menjadi-jadi. Tak hanya teknologi, pendidikan karakter yang mendidik juga seharusnya menjadi lebih dalam dipelajari. Siapa yang tak terganggu dengan keberadaan beberapa komplotan yang disebut ‘paedofil’ di lingkungan masyarakat yang memiliki banyak anak-anak, khususnya bejenis kelamin wanita.

Read More

Paedofil seakan merajalela di masyarakat, terlihat dari banyaknya kasus-kasus menyeleneh yang alasannya adalah ‘kekhilafan.’ Kesalahpaman dari sebuah tindakan dapat memperburuk keharmonisan dari lingkup masyarakat. Kasus keji yang terjadi belakangan ini seakan menajadi pemenang rating yang semakin mencoreng system pendidikan karakter yang diterapkan pemerintah.

Hal ini tentu saja menjadi dampak buruk bagi anak-anak. Psikologis akan terus terganggu, kebiasaan untuk dapat kembali seperti semula, dapat bermain dengan teman, bercanda gurau kembali dan bersosial kembali seakan sulit dilakukan. Entah karena sudah ada perbedaan antar korban dan rekan sejawatnya atau karena trauma akan kejadian tersebut.

Banyak kasus yang mencoreng kata ‘manusia dewasa’ menjadi ‘binatang buas.’ Ada kebanggaan tersendiri bagi para paedofil karena dapat melakukan beberapa hal yang jarang bisa dilakukan banyak pihak. Seakan tak memiliki rasa bersalah diantara mereka ada yang beberapa kali telah melakukan hal ini.

Psikis dan Psikologis mereka telah terenggut oleh binatang buas yang tak memiliki rasa belas kasih. Psikolog dalam hal ini terus berkomentar mengenai psikologis sang anak yang telah mendapat perlakukan kejam dan nista tersebut. Mereka beranggapan bahwa perilaku kejam tersebut telah mengganggu psikologis, cara pandang mereka ke depan, cara mereka berpikir, bergaul, belajar, berkembang, berupaya menjadi lebih baik melambat. Lambat dalam arti kata sulit untuk dipulihkan kembali.

Keadaan yang seperti ini menjadi cambukan tajam bagi orangtua dan pendidik untuk terus memantau keseharian setiap anak. Sang anak patutnya diajari mengenai hal-hal kecil yang dapat meminimalisir keadaan ini. Dalam hal lain, orangtua menjadi pendidik pertama dan utama yang dapat meyakinkan anak mengenai banyak hal.

Anak sangat cepat mencerna setiap pelajaran yang diberikan. Hal lainnya adalah anak dapat membantu pengurangan paedofil di luaran sana.

Kini hukuman bagi paedofil telah menjadi draft di Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Hal ini telah disampaikan oleh Presedin Joko Widodo dalam rapat terbatas mengenai pencegahan kekerasan pada anak. Dalam banyak tanggapan, kebiri dan hukuman mati menjadi masukan terbesar dalam rapat tersbut, hingga menajadi sebuah rancangan hukuman bagi pelaku kejam yang terus merusak moral anak, mengganggu psikologis anak, mencoreng budaya baiknya Indonesia, paedofil.

Psikologis anak menjadi faktor utama mereka dalam rapat mengapa diberikan hukuman tersebut, hukuman ini bukan tanpa sebab, karena dari banyak kasus akhirnya pemerintah membuka mata dengan lebar terhadap kasus pada anak di Bengkulu yang telah mendapatkan perlakuan kejam dari 14 pria dan akhirnya meninggal dengan dibunuh oleh mereka.

Kini pergerakan para paedofil akan semakin sempit, apalagi jika peraturan tersebut telah ditetapkan dalam sistem perundang-undangan Indonesia. Semoga kasus ini menjadi pelajaran banyak pihak untuk tetap menjaga anak, member didikan yang lebih baik dan menamkan nilai religious dalam setiap hal.***(CM-E02/Amal Hayati)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *