Inalum Percepat Realisasi Sebagai Industri Aluminium Terpadu

  • Whatsapp

Inalum Percepat Realisasi Sebagai Industri Aluminium Terpadu

Peraturan Presiden (PP) No.3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional membuat PT Inalum (Persero) terus mengejar realisasi proyek guna mengembangkan perseroan sebagai sebuah industri aluminium terpadu.

Read More

“Alhamdulillah, sampai saat ini tetap on the track walaupun masalah lahan dan perizinan masih menjadi kendala, namun saya optimis berkat dukungan dari pemerintah, pemegang saham dan pemangku kepentingan, hal ini dapat diselesaikan dengan cepat. Ground Breaking Proyek diversifikasi produk untuk aluminium alloy telah diresmikan pada 18 Januari 2016 lalu. “Saat ini sedang proses konstruksi dengan progress 27%,” ucap Dirut PT Inalum, Ir Winardi didampingi Direktur Operasional dan Pengembangan Bisnis, SS Sijabat.

Hingga awal Maret 2016, Proyek SGA terus mengalami kemajuan ditandai dengan finalisasi Joint Venture Agreement antara PT Inalum, PT Antam dan Chalco dari Tiongkok.

Adapun pengembangan bisnis untuk wire-rod telah mulai memasuki tahap studi kelayakan bekerjasama dengan Leader Group dari Malaysia. Perluasan Pabrik Peleburan dan pekerjaan ekspansi Jetty yang keduanya telah memasuki tahap kajian teknologi bekerjasama dengan produsen aluminium dari luar negeri.

Sedangkan progress up-date teknologi peleburan pada kuartal ini sedang dalam persiapan yang bekerjasama dengan SANNAK dan SAMI.

“Selain SGA, kami juga bekerjasama dangan Chalco untuk proyek Slab Sheet dimana sampai saat ini telah mencapai kemajuan dengan joint feasibility study, serta beberapa proyek pengembangan lainnya,” kata Sijabat.

“Khusus untuk rencana pembangunan PLTU 2 x 350 MW yang akan menjadi sumber energi tambahan bagi smelter, hingga saat ini telah mencapai tahap finalisasi studi kelayakan bekerjasama dengan PT Bukit Asam (Persero) Tbk. Pengurusan perizinan dan persiapan lahan juga sudah progres,” lanjut Sijabat yang diamini Dante Sinaga sebagai Kepala Proyek PLTU Inalum.

“Korporasi dituntut melaksanakan berbagai proyek pengembangan usaha dan peningkatan teknologi secara internal. Hal itu untuk meningkatkan produksi aluminium batangan dari 250.000 ton/tahun menjadi 500.000 ton/tahun demi memenuhi pasar Aluminium, baik domestik dan internasional,” lanjut Winardi lagi.

“Selain pertumbuhan produksi aluminium, proyek pengembangan ini akan memberikan dampak positif berganda. Baik selama konstruksi dan operasi seperti; penyerapan tenaga kerja langsung maupun tidak langsung. Penerimaan negara melalui pajak dan corporate social responsibility,” timpal Sijabat.

Dalam hal penyerapan tenaga kerja saja, pengembangan proyek-proyek baru diproyeksikan akan menciptakan lapangan kerja untuk lebih dari 15.000 orang, meningkat lebih dari dua kali lipat dari saat ini.

Dari segi kontribusi perusahaan kepada negara, pajak korporasi diperkirakan akan meningkat sebanyak 146% pada kisaran AS$ 101 juta. Pajak daerah sebesar 150% ke angka AS$ 40 juta, dan devisa sebesar AS$ 665 juta atau setara dengan 16%.

“Sedangkan kontribusi langsung kepada masyarakat (CSR) akan meningkat sebesar 200% dari saat ini sebanyak AS$5 juta menjadi AS$ 15 juta saat proyek-proyek pengembangan Perusahaan berjalan efektif,” pungkas Winardi.**(CM-PR)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *