Haritz Ardiansyah : Menjadi Jurnalis Ibarat Duduk di Samping Jendela

  • Whatsapp
Haritz Ardiansyah, Menjadi Jurnalis Ibarat Duduk di Samping Jendela
Haritz Ardiansyah, Menjadi Jurnalis Ibarat Duduk di Samping Jendela

 

Menjadi sukses tentu tak semudah yang kita bayangkan, begitu pun dengan proses belajar demi menempuh kata ‘sukses’ yang dimaksudkan. Banyak hal yang harus dilalui sebelum akhirnya paham bagaimana cara terbaik dari diri kita sendiri untuk mendapat sukses pada passion yang sebenarnya. Berangkat dari ulasan tersebut, banyak orang yang pada akhirnya tidak bekerja sesuai minatnya, justru memilih untuk bekerja karena semata-mata ingin mendapatkan uang bukan karena mampu dan suka menjalaninya. Padahal sebaik-baiknya pekerjaan adalah hobi yang dibayar.

Read More

Pada akhirnya banyak orang yang bekerja sesuai hobi yang ia miliki, setelah  melalui cara terbaik versinya sendiri. Hal itu dibuktikan langsung oleh Haritz Ardiansyah, pria yang baru mendapat gelar S.I.Kom beberapa lalu ini sangat menyukai dunia fotografi, yang kemudian telah menghantarkannya pada sebuah pekerjaan menjadi Video Jurnalis Divisi News di salah satu Stasiun Televisi Nasional, Net TV.

Haritz Jurnalis NET TV
Haritz Jurnalis NET TV

 

Berdasarkan penuturan Haritz, pada awalnya ia tak pernah sekali pun ingin menjadi seorang fotografer maupun jurnalis. Sebab cita-cita yang ingin sekali ia capai adalah menjadi seorang tentara. Selepas menimba pendidikan di bangku SMA. Haritz memutuskan untuk ikut tes Akademi Militer TNI Angkatan Laut yang kemudian akhirnya memberikan kabar buruk untuknya, ia dinyatakan gugur pada proses terakhir (pantohir), suatu kabar yang membuatnya sangat kecewa ketika itu.

Namun, ia tentu tak menyerah begitu saja, merasa harus memilih jalan lain. Haritz akhirnya memutuskan untuk kuliah melihat teman-teman sebaya yang kebanyakan masuk perguruan tinggi pada waktu itu.

Ia kembali kecewa saat tahu bahwa semua jalur masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sudah tutup, hingga kemudian Haritz memutuskan untuk kuliah di salah satu universitas swasta di Jakarta Barat dengan pilihan Jurusan Teknik Informatika. Menjalani dua semester, kehidupan di Jakarta membuat Haritz resah, hal itu bukan dikarenakan tempat tinggalnya yang jauh dari kota kelahirannya Aek Nabara, tetapi karena jurusan yang salah ia pilih sebelumnya.

“Ternyata kuliah itu nggak seperti anak kampung ini bayangkan, soalnya semua berhubungan dengan angka Fisika dan Matematika,” cerita penggemar Tim Sepak Bola Chelsea tersebut.

Haritz Penggemar Chelsea
Haritz Penggemar Chelsea

 

Sebelum benar-benar terlambat, seketika Haritz memutuskan untuk menyerah lebih awal untuk pindah kuliah sesuai dengan passion yang dimilikinya. “Satu semester di sana IPK aku jeblok,” tambah Haritz lagi.

Ia memulai misi baru dengan melakukan riset kecil-kecilan mengenai jurusan yang sesuai dengan karakternya, hingga kemudian secara matang ia memilih Ilmu Komunikasi sebagai wadahnya untuk belajar. Syukurnya keinginan itu berhasil diraihnya saat ia dinyatakan lulus pada Jurusan Ilmu Komunikasi USU pada 2011 lalu.

Haritz pun memulai kehidupan baru di Kota Medan, dengan keyakinan bahwa ilmu yang ditempuhnya sekarang adalah solusi kegalauannya ketika itu. Ia pun mulai menyesuaikan diri dengan mengikuti berbagai organisasi seperti Pers Mahasiswa Pijar dan Fotografi Komunikasi (FOKUS) untuk belajar lebih banyak mengenai foto dan jurnalistik.

Haritz Ardiansyah
Haritz Ardiansyah

 

Perlahan, ia menorehkan cerita lewat kegiatan positif yang diikutinya. Beberapa kali turut mengikuti lomba fotografi amatir untuk mengasah kemampuannya.

“Pengalaman membanggakan itu banyak, mulai dari menang beberapa lomba amatir, dapat uang dari karya sendiri hingga aku bisa memimpin dan menjalankan FOKUS jadi jauh lebih baik,” cerita mantan Ketua Fokus periode 2013-2014 tersebut.

Bagi Haritz, dengan fotografi ia bisa bercerita dan akan bersyukur pula bila hasil fotonya bisa bermanfaat untuk orang banyak. Dari foto-foto yang ia hasilkan, beberapa diantaranya ia upload di Instagram pun sebagai portofolio pribadinya.

Meski menyukai dunia jurnalistik, tetapi pada praktiknya Haritz justru memilih konsentrasi Public Relations di semester lima. Baik Jurnalistik maupun Public Relations adalah ilmu yang sejalan dan masih dalam lingkungan yang sama menurutnya. Hal itu tentu berdasarkan keinginannya yang ingin menguasai banyak ilmu.

 

Haritz Ardiansyah S.Ikom
Haritz Ardiansyah S.Ikom

Alhasil, Haritz dapat menguasai keduanya. Terbukti saat belum menyelesaikan studi S1, Haritz sudah dterima bekerja menjadi Political Public Relations untuk Calon Walikota Medan selama hampir satu tahun. Dan kini menjadi jurnalis televisi adalah passion yang sebenarnya bagi Haritz.

“Hobi yang menarik itu ya hobi yang dibayar, makanya aku mau jadi jurnalis TV. Rasanya menjadi jurnalis TV itu ibarat kamu ada di dalam gedung dan duduk di samping jendela. Apabila ada apa-apa di sekitar gedung itu, kamulah yang pertama kali tahu dan menginformasikan kepada orang-orang yang ada dalam gedung tersebut,” jelas Haritz.

Ia menambahkan bahwa jurnalis dapat melompat keluar gedung untuk menggali lebih dalam informasi apa yang ada di luar. Seperti itu analoginya, selain itu juga dapat berdiri sama tinggi dengan semua kalangan. Mulai presiden, menteri hingga gelandangan, memang aku belum dapat pengalaman terlalu banyak menjadi jurnalis TV.

“Sejauh ini yang paling seru itu pas ngikutin proses wajib militer selama 10 hari di marinir yang merupakan program wajib Media Development ke 4 Net TV,” tutupnya.

Nah, konkawan yang masih penasaran dengan cerita Haritz menggapai impiannya silahkan add Instagram: haritzardian.***(CM-02/Zakiyah Rizki Sihombing)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *