DPF Kembali Adakan Seminar TCDP Di Labuhanbatu Utara

  • Whatsapp
Foto Bersama Peserta Beserta Pemateri dalam Rangkaian Seminar TCDP
Foto Bersama Peserta Beserta Pemateri dalam Rangkaian Seminar TCDP

Saat ini teknologi tak lagi dipisahkan dari segala lini termasuk pendidikan. Teknologi harusnya sudah benar-benar di genggaman, namun pada kenyataannya teknologi tak dapat dinikmati semua orang, salah satunya guru. Dalam dunia pendidikan, nyatanya perkembangan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat menjadi alternatif untuk menyelesaikan masalah terkait pembelajaran. Lewat teknologi, pendidik dapat melakukan pembelajaran yang inovatif dan tentunya lebih efektif di Sekolah.

Setelah sukses beberapa waktu lalu melakukan seminar di Aula Gedung Bank Indonesia Medan, kali ini Djalaluddin Pane Foundation kembali melakukan seminar di Hotel Anugrah, Aek Kanopan, Labuhanbatu Utara(Labura). Labuhanbatu Utara memiliki dua historikal sendiri hingga akhirnya tim Djalaluddin Pane Foundation memilih tempat inni untuk seminar berikutnya. Pertama, saat ini Labura dipandang cukup maju khususnya dalam program pendidikan.

Read More

“Kita sama-sama tahu Labura ini bukanlah Kabupaten yang besar, namun fokus kegiatan mereka dilihat cukup serius dari pemerintahan yang ada,” Jelas Rizki Ardhani Situmorang, selaku Plt. Djalaluddin Pane Foundation.

Rizki melanjutkan, Labura juga memiliki nilai sejarah bagi keluarga besar DPF, dikarenakan founder sendiri Almarhum Djalaluddin Pane semasa hidupnya juga pernah menjadi Bupati di Labuhan Batu dan menetap di Labuhan Batu Utara sebelum ada pemekaran. Mengangkat tema Dengan Semangat Teacher Competency Deveploment Program, Mari Bangun Daerah Menuju Indonesia Terdidik TIK ini diharapkan nantinya guru-guru di daerah dapat lebih kreatif di era digital.

“Secara khusus, program DPF juga bertujuan untuk melahirkan tenaga pengajar yang bisa memanfaatkan teknologi untuk menuju Indonesia Terdidik TIK,” tutup Rizki.

Indonesia harus bekerja keras mengejar ketertinggalannya dengan negara tetangga. Parameternya sederhana saja yakni dilihat dari kemampuan literasi di Indonesia. Penelitian UNESCO tahun 2012 menyebutkan hanya 1 dari 1000 orang di Indonesia yang memiliki minat baca terhadap buku. Sedangkan menurut Connecticut State University, Indonesia hanya menempati urutan ke-60 dari total keseluruhan 61 negara yang di survey tentang kemampuan literasi. Dari fakta ini sudah tergambar jelas kualitas pendidikan di Indonesia. Hal ini disampaikan F. Wibowo selaku Pemateri Sosial Media dalam rangkaian seminar Teacher Competency Development Program di Labuhanbatu Utara.

 

Pemaparan Materi Oleh Bambang F Wibowo Dalam Rangkaian Seminar TCDP
Pemaparan Materi Oleh Bambang F Wibowo Dalam Rangkaian Seminar TCDP

 

“Jadi teknologi, terkhusus pada sosial media dianggap sangat penting karena dapat memudahkan pekerjaan kita apalagi di abad 21 segala sesuatu sudah menggunakan TIK. Selain itu di zaman teknologi ini, keterampilan yang harus dimiliki semua orang adalah keterampilan teknologi juga media informasi,” jelas Bambang.

Ketidakmerataan pengetahuan perihal teknologi merupakan satu masalah yang harusnya dapat terselesaikan saat ini. Dihapusnya mata pelajaran TIK dalam kurikulum 2013 juga dikarenakan siswa dianggap sudah mampu dan menguasai TIK lebih dalam. Sayangnya keputusan ini kurang tepat bagi guru sebab ternyata masih banyak Guru yang Gaptek(Gagap Teknologi).

Seperti halnya data yang didapat dari Dinas Pendidikan Deli Serdang beberapa waktu lalu yang menyatakan bahwa ada sekitar 13.000 guru peserta Uji Kompetensi Guru(UKG) yang tidak lulus uji dari 16.000 guru yang turut dalam UKG tersebut.

Berkaca dari hal itu, Djalaluddin Pane Foundation termotivasi untuk menginisiasi Teacher Competency Development Program(TCDP), sebagai program untuk pengembangan guru untuk pemanfaatan TIK dalam pembelajaran. Program TCDP sendiri dimulai dengan Seminar, Pelatihan, Pendampingan, dan diakhiri Kontes. Artinya seminar yang dilakukan diawal tak hanya sekadar seremonial namun ada follow up setelah seminar tersebut.

Penyerahan Plakat dari Panitia kepada Pemateri
Penyerahan Plakat dari Panitia kepada Pemateri

 

Semangat Indonesia terdidik TIK bukanlah satu semangat yang bisa kita pandang sebelah mata. Gaptek atau gagap tekonologi sudah menjadi masalah besar bagi sebagian besar guru apalagi dengan dituntutnya kita untuk mengikuti perkembangan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Teknologi akan semakin berkembang, namun jika hingga saat ini kita tak mau memulai untuk sama-sama membantu para guru kita untuk ‘menyelesaikan’ masalahnya terkait Teknologi, guru-guru kita akan tertinggal sangat jauh dengan dunia luar.

Dedi Dwitagama, motivator pendidikan asal Jakarta, yang memiliki julukan ‘Guru Era Baru’ mengatakan jika setiap pengajar mampu optimal memanfaatkan TIK dalam kegiatan belajar mengajar, maka kualitas guru pun akan meningkat. “Dengan menguasai teknologi, maka dipastikan para guru juga akan semakin termotivasi untuk meningkatkan kemampuannya untuk menciptakan mutu pembelajaran yang lebih baik bagi siswanya,” ujar Dedi yang turut serta sebagai pembicara di seminar tersebut.

Dedi Dwitagama, Guru Era Baru Jakarta Menyampaikan Materi Tentang Pendidikan
Dedi Dwitagama, Guru Era Baru Jakarta Menyampaikan Materi Tentang Pendidikan

 

Terakhir, ini saat dan momen yang tepat untuk balas budi kepada guru-guru kita. Membalas budi guru bukan hanya mengundangnya berbuka bersama ketika Ramadhan tiba, atau memberi parcel ketika lebaran datang. Guru dengan segala disiplin ilmu yang ia miliki juga memiliki keterbatasan termasuk teknologi, sebab itu TIK menjadi pilihan DPF untuk berbagi dan menginspirasi.

Salam Indonesia Terdidik TIK !

***(CM-E01/Tjut Nurul Habibah)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *