Rahung Nasution, Pecinta Kuliner yang Kharismatik

  • Whatsapp
Rahung Nasution
Rahung Nasution

 

Rahung Nasution, pria berkepala pelontos dengan tato khas hampir di sekujur tubuh ini merupakan orang yang ramah dan bersahabat. Namanya mulai banyak diperbincangkan di berbagai kalangan.

Read More

Lahir di Sayurmatinggi, Batang Angkola, Tapanuli Selatan, ia adalah anak pertama dari lima bersaudara. Ketika berumur 13 tahun, Rahung kecil terpakasa memasak makanan untuk adik-adiknya dirumah, karena kedua orangtuanya bekerja di ladang dari pagi sampai sore hari. Siapa sangka itu adalah awal kalinya Rahung mulai belajar dan mencintai sebuah masakan, hingga di kenal sebagai penggiat kuliner seperti sekarang ini.

Kemudian, di usia yang mulai beranjak dewasa, ia memutuskan untuk hidup di ibukota. Fokus di dunia kuliner nama Rahung Nasution pun semakin melambung, tidak hanya mencicipi setiap masakan, ia pun memiliki keahlian dalam menyajikan makanan yang ia dapat secara otodidak.

Tapi, walaupun sudah diakui kualitasnya oleh banyak orang Rahung tetap mencoba merendah. Menurutnya setiap orang bisa memasak makanan enak, ia bahkan tidak ingin dikatakan sebagai seorang chef dan lebih senang disebut koki gadungan.

Ketertarikannya pada dunia kuliner, khususnya masakan nusantara membuat pria 42 tahun ini sering bepergian ke berbagai daerah di Indonesia hingga masuk ke perkampungan. Dalam setiap perjalanannya berburu kuliner, Rahung juga tak segan berbaur dengan kebudayaan lokal dan mendokumentasikannya lewat video dan diunggah ke situs youtube sekaligus untuk menunjukkan keberagaman yang ada di nusantara, dan tidak jarang ia hadir untuk mengisi acara sebagai bintang tamu di televisi nasional.

Bagi pria yang tenar akan setiap postingannya di instagram ini, hidup adalah petualangan dan hanya sekali saja. Karena itu tidak ada batasan bagi seseorang untuk berkreasi. Sama seperti yang dilakukannya, tidak hanya terpaku dalam bidang kuliner ia juga berkarya lewat film. Baru-baru ini Rahung telah selesai menyitradarai sebuah film dokumenter yang berjudul “Pulau Buru Tanah Air Beta” bercerita tentang tahanan politik yang pernah diasingkan kesana pada masa kekejaman PKI, adalah Hersri Setiawan dan Tedjabayu Sudjojono, yang kembali ke pulau tempat masa-masa tergelap kehidupan mereka.

Rahung Nasution yang Kharismatik
Rahung Nasution yang Kharismatik

 

Karya yang ia sebut sebagai pembalasan akan hutang Pemerintah Indonesia kepada para korban di tragedi Tahun 1965 yang saat itu penuh dengan kekejaman dan banyak korban jiwa berjatuhan, namun telah banyak dilupakan masyarakat kini.

Dengan berani ia mengungkapkan bahwa film tersebut memberikan edukasi pada setiap penonton. Karena film tersebut menggunakan para tahanan politik pada masa itu sebagai aktor utamannya yang bercerita tentang sudut pandang dan kehidupan mereka kala itu. Dijelaskan Rahung juga bahwa film yang ia sutradarai tidak memiliki niat untuk menyerang pihak-pihak lain

Awalnya film tersebut akan diputar pertama kalinya di Jakarta, namun karena terdengar kabar bahwa ada ancaman dari pihak tertentu sehingga terpaksa harus dibatalakan. Di waktu yang hampir berdekatan sang ibunda Rahung Nasution sedang sakit dan harus mendapat perawatan serius, kecintaan pada seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya membuat rahung harus meninggalkan segala kesibukannya di ibukota demi bertemu orangtua di Medan.

Bagi segelintir orang, penampilan Rahung Nasution mungkin akan sedikit ekstrim dengan tato-tato tradisional di tubuhnya yang sampai mengitari kepala dan hidung. Namun, ternyata Rahung Nasution adalah sosok kharismatik yang bersahabat, mudah berbaur dengan orang lain dan rendah hati, maka tak heran banyak yang nyaman berada didekatnya, hal tersebut bisa menjadi alasan pria penyuka kopi ini memiliki banyak teman dan kenalan dari berbagai kalangan.***(CM-03/Rio Khairuman)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *