Mulajadi Na Bolon, Dewa Batak Pertama

  • Whatsapp
Mulajadi Na Bolon, Dewa Batak Pertama
Mulajadi Na Bolon, Dewa Batak Pertama

Siapa yang tak kenal dengan Pusuk Buhit, puncak tertingg di Sumatera Utara dan menjadi satu-satunya puncak yang paling digandrungi remaja Sumatera Utara. Nah,  kalau sering mendaki ke puncak tertinggi tanpa mengetahui sejarah yang ada di Pusuk Buhit ini.

Dolok Pusuk Buhit adalah sebagai tempat asal muasal Bangsa Batak, bahkan menurut legendanya adalah sebagai tempat asal mula pertama sekali manusia ada dan menyebar ke segala penjuru di bumi ini.

Read More

Sebelum masuknya pengaruh Agama Hindu, Islam, dan Kristen ke tanah Batak, orang Batak pada mulanya belum mengenal nama dan istilah ‘dewa-dewa.’ Kepercayaan orang Batak dahulu adalah kepercayaan kepada arwah leluhur serta kepada benda-benda mati.

Benda-benda mati dipercayai memiliki tondi (roh) misalnya: gunung, pohon, batu, dan sebagainya yang kalau dianggap keramat, dijadikan tempat yang sakral (tempat sembahan). Orang Batak percaya kepada arwah leluhur dapat menyebabkan beberapa penyakit atau malapetaka kepada manusia.

Penghormatan dan penyembahan dilakukan kepada arwah leluhur akan mendatangkan keselamatan, kesejahteraan bagi orang tersebut maupun pada keturunan. Kuasa-kuasa inilah yang paling ditakuti dalam kehidupan Orang Batak.

Sebelum orang Batak mengenal tokoh dewa-dewa India dan istilah ‘Debata’, sombaon yang paling besar orang Batak disebut ‘Ompu Na Bolon’ (Kakek/Nenek Yang Maha Besar). Ompu Nabolon bukan salah satu dewa, tetapi dia adalah yang telah dahulu dilahirkan sebagai nenek moyang orang Batak, yang memiliki kemampuan luar biasa dan juga menciptakan adat bagi manusia.

Tetapi setelah masuknya kepercayaan dan istilah luar khususnya Agama Hindu, Ompu Nabolon ini dijadikan sebagai dewa yang dipuja Orang Batak kuno sebagai nenek/kakek yang memiliki kemampuan luar biasa. Untuk menekankan bahwa ‘Ompu Nabolon’ ini sebagai kakek/nenek yang terdahulu dan yang pertama menciptakan adat bagi manusia, Ompu Nabolon menjadi ‘Mula Jadi Nabolon’ atau ‘Tuan Mula Jadi Nabolon.’

Karena kata Tuan, Mula, Jadi berarti yang dihormati, pertama dan yang diciptakan merupakan kata-kata asing yang belum pernah dikenal oleh Orang Batak kuno. Selanjutnya untuk menegaskan pendewaan bahwa Ompu Nabolon atau Mula Jadi Nabolon adalah salah satu dewa terbesar orang Batak ditambahkanlah di depan Nabolon atau Mula Jadi Nabolon itu kata ‘Debata’ yang berarti dewa (jamak) sehingga menjadi ‘Debata Mula Jadi Nabolon.’

Jadi jelaslah, istilah debata pada awalnya hanya dipakai untuk penegasan bahwa pribadi yang disembah masuk dalam golongan dewa. Dapat juga dilihat pada tokoh-tokoh kepercayaan Batak lainnya yang dianggap sebagai dewa mendapat penambahan kata ‘Debata’ di depan nama pribadi yang disembah. Misalnya Debata Batara Guru, Debata Soripada, Debata Asi-Asi, Debata Natarida (Tulang atau paman dan orang tua), dan sebagainya. Tetapi setelah masuknya Kekristenan (yang pada awalnya hanya sebatas strategi pelayanan) kata debata semakin populer karena nama debata dijadikan sebagai nama pribadi Maha Pencipta.

Istilah debata berasal dari bahasa Sansekerta (India) yang mengalami penyesuaian dialek Batak. Karena dalam dialek Batak tidak mengenal Huruf C, Y, dan W sehingga dewata berubah menjadi debata. Huruf W dalam bahasa Sansekerta (India) kalau dimasukkan ke dalam bahasa Batak akan berganti menjadi Huruf B atau huruf lainnya. Wajar saja kalau Dewata dalam Bahasa Sansekerta setelah masuk ke dalam Bahasa Batak berganti menjadi Debata. Istilah ‘Dewata’ inilah yang membunglon ke dalam Bahasa Simalungun menjadi ‘Naibata’ dan di daerah Karo menjadi ‘Dibata’ yang artinya tetap sama menjadi ‘dewa.’***(CM-E02/Amal Hayati)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *