Corat- coret Seragam Sekolah, Budayakah?

  • Whatsapp
Budaya Coret-coretan
Budaya Coret-coretan

 

“Salah satu masa-masa tak terlupakan adalah ketika masih duduk di bangku sekolah”, kalimat tersebut sepertinya benar saja dapat terjadi kepada setiap orang, yang pada umumnya pernah merasakan bangku sekolah.

Read More

Hal ini juga terbilang sangat wajar karena dunia pendidikan telah kita masuki sejak kecil hingga tumbuh dewasa dengan rentang waktu cukup lama kurang lebih 11 tahun. Di dalam terdapat banyak cerita yang dapat dikenang samapai hari tua nanti, seperti berkumpul dan bercanda bersama, saling mengenal karakter masing-masing, tingkah-tingkah usil, hingga mulai merasakan cinta-cintaan. Karena sekolah tidak hanya memberikan pembelajaran pengetahuan, tapi sekolah juga sedikit banyak turut membentuk karakter dan kepribadian para muridnya.

6 tahun berada di SD ditambah 3 tahun SMP dan yang terakhir berlanjut ke SMA selama 3 tahun, dirasa sudah cukup dalam masa pembentukan karakter mereka. Tidak jarang para pelajar juga merakan hal sama, kebanyakan dari mereka berharap dapat lulus lebih cepat dan dapat memilih jalan menuju masa depan yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari.

Kelulusan menjadi hal paling ditunggu-tunggu terlebih saat menyelesaikan ujian nasional yang merupakan syarat wajib menyelesaiakan pendidikan formal di Indonesia. Perayaan demi perayaan ada dimana-mana.

Ketika para pelajar baik itu dari sekolah negeri maupun swasta, laki-laki dan perempuan ketika sudah sampai ditahap tersebut. Mereka umumnya melakukannya secara berkelompok. Namun, cara merayakan kelulusan yang paling ladzim adalah mencoret-coret seragam dengan menuliskan nama, tanda tangan serta menyemprotkan cat berwarna, dengan maksud menjadi kenang-kenangan bersama teman-teman sekolah sambil berkonvoi kendaraan berkeliling kota.

Bagi mereka yang melakukannya, kegiatan tersebut dianggap sangat masuk akal. Bagaiman tidak? Karena kejadian ini hanya akan sekali dalam seumur hidup dilakukan. Sekaligus menjadi media ataupun kesempatan untuk mengekspresikan juga mengungkapkan kebahagiaan setelah berhasil menyelesaikan jenjang sekolah.

Hal semacam ini seakan sudah menjadi ajang tahunan bagi pelajar kelas tertinggi yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu diikuti terus oleh generasi penerusnya. Bahkan beberapa siswa/siswi dapat berkumpul dalam satu tempat untuk merayakannya bersama-sama, tercermin jelas sifat solidaritas diantara mereka saat itu.

Sayangnya, hal tersebut ternyata memberikan dampak negatif pada masyarakat lain, ada beberapa hal yang dirasa cukup menggangu. Tidak jarang semprotan cat mereka mengenai dan tertempel pada fasilitas umum, parahnya hal tersebut dilakukan secara sengaja tanpa tujuan.

Kemudian sistem konvoi yang mereka terapkan membuat pengguna jalan lain merasa sangat terganggu, apalagi dengan jumlah banyak para pelajar ini sering melakukan tindakan-tindakan berbau anarkis. Sampai-sampai pihak kepolisian pun harus  terjun ke lapangan untuk mengontrol maupun membubarkan kegiatan ini, dan tidak jarang ada saja segelintir pelajar yang berani untuk melawan atau bahkan mempermainkannya.

Aksi coret-coretan Siswa SMA
Aksi coret-coretan Siswa SMA

 

Sebenarnya dari tahun ke tahun pihak sekolah selalu meperingatkan untuk tidak melakukan aktivitas coret-menyoret seragam sekolah karena akan berdampak kurang baik. Namun, tetap saja hal tersebut tidak menyulutkan para pelajar untuk bereuforia bersama, selalu saja ada cara yang mereka siapkan agar keinginannya dapat berjalan dengan lancar.

Kebiasan sudah terdapat hampir diseluruh wilayah dan kota-kota besar Tanah air tak terkecuali Medan. Tempat-tempat yang sering menjadi lokasinya adalah tempat-tempat umum terbuka seperti perumahan, jalan, lapangan, pantai juga pusat kota.

Anehnya adalah mereka melakukan seluruh kegiatan tersebut sesaat setelah menyelesaikan Ujian Nasional, tanpa mengetahui sedikitpun hasil dari apa yang telah mereka kerjakan. Entah karena begitu yakin akan lulus, padahal kemungkinan terburuk bisa saja menimpa mereka namun seakan mereka tidak merperdulikannya atau bahkan mempersiapkan untuk hal tersebut.***(CM/03/Rio Khairuman)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *